BELANJA POL LEWAT UJUNG JEMPOL

Uang elektronik kian dilirik. Tapi kalau jadi boros, jangan salahkan jempol Anda.

Nova - - Isu Spesial - MIKE RINI, FOUNDER DAN FINANCIAL PLANNER, DARI MITRA RENCANA EDUKASI. MELISSA TUANAKOTTA | FOTO: ISTOCK

Tempo hari lebih baik ketinggalan dompet ketimbang ketinggalan HP. Sekarang? Masih seperti itu juga.

Bahkan, sekarang ketinggalan HP bukan hanya kita seperti “tersesat di tengah rimba”—tapi bisa-bisa kita berantem sama tukang parkir.

Paling tidak seperti itulah yang dialami Tiffani, salah satu teman kita.

“Waktu itu, aku lagi buru-buru pergi ke tempat klien. Pas mau pulang aku baru sadar kalau aku enggak bawa dompet. Pokoknya aku sama sekali enggak pegang duit. Bingung, kan, bayar parkirnya gimana. Tapi untungnya, nih, aku bawa HP dan di mobil ada kartu uang elektronik. Akhirnya aku tinggal buka internet banking, isi saldo, terus aku bisa bayar parkir, deh!”

Jika urusan Tiffani sama tukang parkir beres, Nenna malah nyaris ribut sama kasir resto.

“Aku abis makan di satu resto. Eh pas mau bayar, aku ternyata enggak bawa dompet. Untung aja, nih, aku bawa HP dan pake aplikasi Go-jek. Untung juga aku selalu isi saldo Go-pay. Gak jadi bermasalah sama kasir resto, sudah begitu aku dapat cashback pula.”

Kisah dua teman itu, mungkin pernah juga kita alami—dan bisa jadi seperti kisah ribuan pengguna uang elektronik lainnya.

Dan mengapa transaksi pembayaran dengan uang elektronik makin “ngetren” saja, tentunya kita tak perlu heran. Karena, uang elektronik bukan sekadar solusi jika kita “ketinggalan dompet”—tapi memang begitu banyak manfaat yang ditawarkan uang “tak kasat mata” itu.

“E-wallet merupakan perkembangan teknologi finanasial berbasis digital yang menjadi solusi untuk masyarakat Indonesia untuk bisa melakukan transaksi keuangan secara lebih aman, praktis, terjangkau, kemudian waktu yang digunakan pun sangat efisien,” jelas Mike Rini, Founder dan Financial Planner Mitra Rencana Edukasi.

Tambahan lagi, kini dengan adanya aplikasi uang elektronik ini, berbagai transaksi yang tadinya hanya bisa dilakukan secara konvensional dan manual, sekarang bisa dilakukan hanya dengan menggunakan aplikasi dan bisa diakses oleh banyak pihak.

Belum lagi, beragam promo yang ditawarkan begitu menggiurkan. Jadi bukan hanya praktis, kita pun mendapat keuntungan lebih banyak jika menggunakan dompet elektronik seperti diskon, cashback, dan poin yang bisa ditukar dengan barang maupun jasa. Rasanya belanja pun menjadi lebih bahagia.

Tapi apa benar bahagia, bukannya kita malah jadi boros?

Beda dengan Kartu Kredit

Menjadi boros atau hemat—ya tergantung pribadi masing-masing. Yang pasti, dengan menggunakan dompet elektronik, kita tak perlu takut terlilit hutang. Karena sejatinya uang yang kita belanjakan adalah uang kita sendiri, sehingga kita tidak akan memiliki hutang kepada siapa pun.

Sementara jika menggunakan kartu kredit kemungkinan besar, iya. Kita sebagai pemegang kartu seolah-olah punya uang− padahal sesungguhnya enggak−sehingga kita bisa belanja tanpa kontrol dan sering kali malah berutang banyak sama bank.

Dengan dompet elektronik, “Orang bisa mengatur habit belanjanya, karena mereka tidak akan menggunakan seluruh uang yang ada di dalam rekening tabungan mereka. Secara tidak langsung justru kita malah jadi memisahkan antara uang tabungan, investasi, dan pengeluaran harian,” papar Mike.

Bahkan kalau digunakan dengan bijak, uang elektronik ini justru dapat membatasi nafsu kita berbelanja. Karena kita hanya akan belanja berdasarkan saldo yang ada di dalam aplikasi dompet elektroniknya saja. Kalau di uang elektronik yang berbentuk kartu prabayar, kita tidak bisa menyimpan uang banyak-banyak, maksimal Rp1 juta. Sementara kalau di dompet elektronik saldo yang disimpan hanya bisa Rp10 juta.

“Jadi, misalnya, nih, penghasilan kita Rp25 juta, ambil aja beberapa juta untuk ditransfer ke aplikasi dompet elektroniknya. Nah, e-wallet uang belanja kita cukup menggunakan saldo yang ada di aplikasi tersebut,” ujar Mike. “Tapi agar bisa kontrol belanja, kita harus konsisten untuk tidak menggunakan kartu kredit atau mentransfer saldo tambahan kalau bujet belanjanya sudah habis. Tinggal saja di rumah kartunya.”

Pilih yang Cocok

Seperti juga kartu kredit—saat ini banyak jasa dompet elektronik yang diizinkan beroperasi oleh Bank Indonesia. Kurang lebih ada 30. Untuk mendapatkan basic user yang besar, tiap-tiap jasa dompet elektronik ini melakukan perang promo.

Mereka pun memiliki strategi hanya menggaet beberapa merchant. Sehingga kalau di merchant A kita bisa menggunakan Ovo, di merchant B belum tentu. Di merchant C kita mendapat promo karena menggunakan T-cash, sementara di Merchant D kita dapat promo karena menggunakan Dana.

Lantas apakah kita harus memiliki seluruh aplikasinya?

“Tergiur memiliki beberapa e-wallet karena tertarik karena promonya itu sebenarnya tidak disarankan,” tegas Mike.

Hal tersebut dikarenakan akan mendorong kita menjadi impulsif ketika berbelanja sehingga kita malah membeli barang yang tidak direncanakan. Yang tadinya bujet kita hanya Rp5 juta, karena punya banyak aplikasi malah jadi melebihi bujet yang ditentukan.

“Tiap uang elektronik itu punya promo banyak banget. Semakin kita punya banyak aplikasinya, semakin banyak godaannya. Walaupun itu uang kita, banyak cash back-nya, buy one get one, itu bisa membuat kita pada akhirnya belanja lebih banyak,” kata Mike.

Selain itu, tiap-tiap transaksi akan ada biaya administrasinya. Walaupun jumlahnya kecil, jika kita sering melakukannya, tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan menjadi besar. Kalau ini sampai terjadi, yang tadinya mau untung malah jadi buntung.

Sehingga, “Cukup punya beberapa saja, tidak perlu semuanya. Karena punya terlalu banyak pun malah akan merepotkan diri kita sendiri. Untuk menentukan aplikasi e-wallet manakah yang akan kita gunakan, perhatikan terlebih dahulu di mana kita lebih sering belanja.”

Setelah mengetahui di mana kita lebih sering belanja dan barang apa saja yang kita sering beli, barulah kita memilih aplikasi dompet elektronik yang cocok.

Nah, sudahkah Anda top up saldo hari ini?

“Untuk menentukan aplikasi manakah yang akan kita gunakan, perhatikan terlebih dahulu di mana kita lebih sering belanja.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.