Suami Selingkuh, kasar, dan Tidak menafkahiku lahir Batin

Nova - - Tanya Jawab Psikologi -

Dear Ibu Rieny, Tanya

Saya saat ini berusia 33 tahun dan sudah menikah 5 tahun dengan D (29). Kami punya anak laki-laki yang tampan berusia 4 tahun. Dia memang lebih muda dari saya. Namun, bagi saya, tingkat kedewasaan acapkali tak sepenuhnya tergantung usia.

Ibu saya tak merestui penikahan saya. Namun, saya takut jadi perawan tua jika terus mengikuti kehendaknya. Setiap saya punya pacar, selalu tidak direstui.

Saya kuliah dan bekerja di ibu kota. Setelah 10 tahun Mama menyuruh saya pulang kampung. Selang beberapa bulan, saya bertemu dengan D dan berpacaran. Mama tak setuju, alasannya saya sarjana dan D hanya tamat SMA. Yah, namanya juga cinta, kan, Bu. Saya cuma berpikir saat itu saya sudah dewasa−28 tahun−dan berhak menentukan hidup saya.

Sejak saat itu, saya dan Mama selalu bertengkar. Dari awal Mama bilang bahwa D bukan laki-laki yang baik untuk saya. Akhirnya, setelah delapan bulan pacaran kami menikah tanpa hadirnya Mama. Berat rasanya. Saya seperti anak durhaka, tapi saat itu D terlihat memang benar-benar sayang pada saya, sehingga saya lebih memilih D ketimbang Mama.

Setelah menikah saya ingin tinggal di rumah sendiri, tapi ternyata D malah pulang ke rumah orangtuanya di kampung. Saya tinggal dengan tantenya karena saya masih bekerja. Saya tidak mempermasalahkan hubungan jarak jauh ini.

Sebulan setelah menikah saya hamil. Jujur, saya ingin suami ada di sebelah saya dan menjaga saya. Tapi ternyata dia jarang menemui saya dan membuat saya sering menangis. Hingga usia kandungan saya empat bulan, saya putuskan untuk resign dari kantor dan menyusul dia ke kampungnya. Di sinilah perjalanan hidup yang sesungguhnya dimulai. Hal yang tidak pernah saya inginkan akhirnya terjadi. Saya seatap dengan mertua.

Awalnya mereka sangat baik pada saya, tapi lama kelamaan terlihat sudah watak mereka serumah. Ibu mertua sangat sayang pada D, dan ternyata D tidak pernah menjaga perasaan saya dari apa yang dilakukan orangtuanya. Dia mengutamakan orangtuanya ketimbang saya, mertua juga hobi menyindir saya. D bekerja sebagai supir, pekerjaan yang tak saya setujui. Tapi apa boleh buat, saya hanya seorang pendatang di rumah itu.

Selama masa kehamilan, tak pernah sekalipun saya merasa bahagia. Rasanya percuma saja datang dan tinggal di kampung bersama mereka. D berubah 180 derajat, seperti orang lain saja. Tingkah lakunya makin tak bisa saya pahami dan dia selingkuh. Saat mengetahui hal itu saya ribut dan didengar bapak mertua. D dimarahi habis-habisan dan ia meminta maaf.

Setelah saya melahirkan, Puji Tuhan saya melahirkan secara operasi sesar dan bayinya pun sehat. D berjanji jika sudah pulih, saya boleh bekerja lagi. Tapi janji D nol belaka. Saya tetap jadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja.

Mertua sangat sayang kepada anak saya, bagai anaknya sendiri. Selang dua tahun akhirnya saya banting setir dan membuka warung sambil tetap berharap suatu hari nanti saya bisa mendapat pekerjaan. Mendengar saya berjualan, Mama semakin kecewa. Rasanya wajar karena beliau yang sudah menyekolahkan saya hingga jadi sarjana, berjuang sendirian sejak Papa meninggal.

Selama menjadi supir, suami saya tetap selingkuh. Suatu hari saya bicara baik-baik pada mertua agar bertindak, tapi mertua tetap yakin mereka bisa menasihati suami. Sementara, semakin dibiarkan D semakin menjadi. Saya baca Sms-nya mereka pun sudah berhubungan suami istri.

Saya mengamuk dan ditonjok di bagian mata di depan ibunya karena saya bongkar isi Sms-nya ke orangtuanya. Saya pikir saya dibela, ternyata tidak. Sejak saat itu saya dendam pada suami dan mertua. D bolakbalik ganti pasangan dan saya tidak diberi nafkah lahir dan batin.

Sampai saat ini saya lebih banyak diam dan mencari uang untuk saya dan anak. Sementara, utang suami banyak. Herannya, mertua membayari utang-utang anaknya. Jujur saya sebenarnya tidak kuat hidup seatap dengan mereka. Untuk pindah pun suami saya tak mau.

Tanpa saya sadari saya sudah salah memilih suami, tak disayang, dipukul, dan tidak diberi nafkah. Tapi demi anak saya masih mempertahankan rumah tangga ini dan saya tahu Tuhan tidak menyukai perceraian.

Satu lagi, anak saya sangat dimanja mertua hingga dia nakal dan sering melawan. Saya tidak mau watak anak saya seperti D yang kasar. Dia harus saya didik dengan benar, tapi saya takut gagal karena didikan mertua. Kadang saya pikir apa yang sudah saya lakukan? Apa ini karma karena melawan Mama? Apakah pantas hubungan ini saya pertahankan?

Terima kasih-winda di X Dear Neng Winda,

Cara Anda bertutur Jawab membuat saya bertanya-tanya, bagaimana kalau saya berkesempatan mendengar versi suami tentang permasalahan dan kemelut rumah tangga ini? Apa komentar mertua tentang Anda? Rasanya, saya melihat Anda demikian tersudut, sudah mencoba, bekerja keras, namun tak dapat dukungan memadai dari mertua. Sementara, suami, kok, nyaman memperlakukan istrinya yang sarjana seperti itu?

Bolehkah Anda pikirkan, apa komentar, nasihat dan saran yang pernah mertua beri ke Anda? Saya yakin, ada di antaranya yang bermanfaat dan bisa Anda pakai untuk koreksi diri. Pernahkah Anda secara sadar ataupun tidak, mengatakan sesuatu dengan nada merendahkan suami dan menggarisbawahi profesinya sebagai supir yang tak Anda sukai? Ini juga bisa, lho, jadi penyebab ketidaknyamanan yang berujung dengan erosi komitmen terhadap perkawinan. Bila memang, iya, dan Anda masih melihat hidup bersamanya ada gunanya, bagaimana kalau ini jadi PR pertama yang harus Anda coba ubah dari dalam diri.

Jika Anda merasa dia yang salah kenapa Anda yang harus berubah, perkawinan memang tak pernah bisa berjalan tanpa keinginan yang sama di kedua belah pihak untuk mempertahankannya. Bahasa kerennya, takes two to tango. Kita butuh dua orang untuk menari tango. Demikian pula dengan perkawinan. Bukan kawin namanya kalau hanya satu pihak yang sibuk dan satunya lagi semena-mena melakukan apa yang disukainya. Ini namanya pelecehan. Padahal, kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk sebuah perkawinan yang harmonis adalah respek terhadap diri sendiri dan pasangan.

Nah, tetapkan tenggat waktunya. Untuk ini, Anda harus bicara dengan suami, tidak bisa tidak. Apa yang ada di benaknya tentang perkawinan ini? Mau menjadikannya lebih baik atau tidak? Percuma kalau Anda ngotot bertahan, sementara dia hanya sibuk berselingkuh. Apa yang dia mau dari Anda? Bila setelah sekian lama mencoba dan Anda merasa sudah berubah tapi dia masih bergeming, inilah saatnya bertanya pada diri sendiri, “Apakah waktu, air mata, emosi, tenaga yang dicurahkan berbalas kebaikan untuk rumah tangga kami? Bila jawabannya adalah tidak, jangan buang waktu lagi, dong, sayangku.

Sebenarnya saya enggan mengajak lihat ke belakang, saat Anda membuat keputusan menikahinya. Hal ini untuk kepentingan meneguhkan Anda untuk membuat keputusan, akan terus atau berpisah. Coba ingat-ingat, deh. Lebih emosional sifatnya, atau Anda sudah berhitung dengan nalar Anda, dalam arti berpikir panjang akan risiko menikahinya yang lebih muda dan pendidikannya lebih rendah dari Anda?

Bila Anda jujur, saya yakin Anda cenderung emosional. Padahal, untuk pacaran kita boleh, kok, mengintensifkan perasaan dan emosi. Namanya juga jatuh cinta. Tetapi memutuskan untuk menikah? Wah, butuh penalaran panjang, berpikir matang dan saat keputusan diambil, tanggung jawab bersama untuk wujudkan mimpi tentang makna perkawinan, harus terus menerus dibina berdua.

Bagaimana kualitas hubungan dengan ibu kandung Anda? Apakah Anda pernah datang dan meminta maaf? Karena sebenarnya doa restu, akan membuat Anda lebih kuat berpijak untuk mewujudkan keinginan Anda terkait perkawinan.

Jangan takut untuk menanggung akibat dari perceraian. Anda punya segala hak untuk bahagia dalam hidup ini. Seorang ibu yang penuh kemarahan pada suaminya, juga sukar menjadi ibu yang baik bagi anaknya. Ia akan tampil sebagai sosok pemarah yang sensitif, ketus, kurang sabar dan yang terburuk, melampiaskan rasa kecewa dengan menjadikan anak sebagai objek emosi negatifnya.

Tetapi, setelah Anda mawas diri, bisa berkomunikasi dengan suami dan dia juga menunjukkan keinginan untuk lebih berkomitmen terhadap kelangsungan perkawinan, jangan lelah untuk mencoba membuatnya nyaman. Kalau istri bisa bikin suami nyaman dan anak yang selalu membuat kangen, saya percaya dia akhirnya akan bisa meninggalkan kebiasaannya berselingkuh.

Mudah-mudahan Anda bergerak, mau mencoba pendekatan baru terhadap suami dan mertua, ya, setelah ini. Dengan tekad Anda punya hak untuk bahagia dalam hidup ini. Kalau tak ada perubahan, lanjutkan hidup dengan membuat keputusan yang lebih berani demi kualitas hidup yang lebih positif sesuai dengan potensi yang ada.

Salam sayang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.