“Sekujur Kulit Waqi Dipenuhi Luka Bakar,” Ratap Sang Ibu

Nova - - Curhat - BAGUS SEPTIAWAN FOTO: DOK.PRIBADI

Jika penyakitnya kambuh, setiap bangun tidur hampir seluruh badan Waqi Al-razabi dipenuhi darah. Bocah berusia 2,5 tahun ini menderita pemifigoid bulosa, penyakit kulit yang tergolong langka. Penyakit itu ditimbulkan oleh autoimun, sehingga menyebabkan gangguan pada kulit berupa ruam dan lepuhan berisi air disertai darah. Ibu mana yang hatinya tidak gundah melihat anak tersayangnya menderita seperti itu. Diselingi isak dan sesekali mengusap air mata, Sumiati, sang ibu curhat pada NOVA di rumahnya di kawasan Desa Warung Nangka, Ciawi, Bogor, beberapa waktu lalu.

Sudah hampir dua tahun tidurku sering tak normal. Bukan karena tak bisa tidur, tapi aku menjaga anakku tersayang,

Waktu Waqi berumur tujuh bulan, itu saat terparah dalam penyakitnya. Luka seperti luka bakar menjangkiti hampir seluruh tubuhnya! Kecuali di bagian alat vital.

Setiap hari aku hanya bisa menangis. Dia mengeluh lukanya bikin gatal. Tapi kalau digaruk malah jadi perih rasanya. Belum lagi, kalau habis digaruk cairan dalam lukanya keluar bersama darah. Terus, kalau luka itu ada di seluruh tubuh, bayangkan betapa menderitanya putraku.

Rasa gatal itu seakan tak ada hentinya. Ketika dia tidur malam, gatalnya tak kunjung hilang. Makanya kalau sedang mendusin, pasti dia garuk. Pernah suatu ketika, aku tak mengontrolnya dan malah tertidur sampai pagi. Keesokan paginya, aku kaget karena menyaksikan seluruh tubuh, alas tidur, baju, dan celana yang dia pakai tidur basah bercampur darah akibat garukan pada lukanya.

Pagi itu benar-benar membuat aku syok. Badan mau ambruk rasanya melihat keadaan Waqi yang makin parah. Setelah itu, aku urung untuk bablas tidur di malam hari. Lebih baik diberi jeda beberapa jam sekali untuk bangun dan mengecek keadaan Waqi daripada membiarkannya bangun tidur dengan bermandikan air bekas lukanya.

Belum lagi kalau ruam lukanya itu sudah merambah ke area dinding atas mulut dan juga lidah. Aku lebih kasihan lagi, karena Waqi jadi kesulitan makan. Belum lagi kalau ada ruam luka yang pecah ketika Waqi sedang makan. Aku cuma takut cairan itu ikut tertelan. Takutnya berefek buruk. Makanya aku memintanya mengunyah pelan-pelan ketika ruam lukanya sedang menyebar di area mulut bagian dalam.

Sampai sekarang, aku juga bingung kenapa luka itu malah makin menyebar di bagian tubuhnya. Memang, sih, ketika melahirkan Waqi, aku sempat menemui kejanggalan dari kondisi bayinya. Saat itu, kaki kanannya timbul ruam kecokelatan. Yang pasti jarang terjadi pada bayi umumnya.

Dokter yang membantu persalinanku dulu belum bisa mendiagnosa apa yang terjadi pada bayiku. Makanya aku biarkan saja. Pikirku dulu, “Mungkin akan hilang seiring berjalannya waktu.” Tapi nyatanya? Ruam kecokelatan itu jadi awal rentetan luka-luka di tubuh Waqi. Dari mulai ruam cokelat berubah jadi luka di bagian kaki itu, akhirnya mulai menjalar ke punggung. Hingga kemudian menjalar ke seluruh tubuh.

Kalau dipikir, siapa, sih, orangtua yang mau melihat keadaan anaknya tersiksa seperti ini. Kalau boleh memilih, aku rela menggantikan posisinya. Biarkan aku saja yang mengalami penyakit itu, asal jangan Waqi. Kasihan, umurnya dulu belum genap setahun, tapi cobaan hidupnya sudah begitu besar.

Kini, saat usianya menginjak 2,5 tahun, luka-luka di tubuh Waqi masih belum sembuh total, meski tak separah dulu. Tapi daripada terus mengeluh, lebih baik aku terus berusaha mencari jalan supaya anakku bisa sembuh. Tuhan pasti beri jalan, kok.

Ketika sakitnya mulai parah, aku pun sudah sering kali membawanya ke rumah sakit. Berbulan-bulan Waqi pernah dirawat di empat rumah sakit berbeda di sekitar tempat tinggalku di Bogor. Tapi anehnya, dari empat rumah sakit itu, mereka tak bisa mendiagnosa soal penyakit yang menghinggapi Waqi. Barulah ketika dibawa ke RSCM Jakarta, penyakit Waqi ketahuan.

Selama sebulan dirawat, Waqi diberi obat dan salep khusus untuk meredam lukanya. Kata dokter, obat itu harus digunakan terusmenerus hingga Waqi dewasa. Tepatnya sampai dia mengalami masa pubertas. Karena, imunitas pada diri Waqi akan lebih kuat. Dokter pun berharap, dengan imunitas yang lebih kuat itu secara tak langsung mampu menahan autoimun yang selama ini dia alami.

Waqi Anak yang Kuat

Akibat penyakit pemifigoid bulosa, Waqi tak hanya mengalami masalah pada kulit, tapi juga masalah pada tumbuh kembang dirinya yang serba terlambat. Kini, Waqi belum mampu berjalan secara normal. Kalau soal bicaranya sih, sudah lumayan pintar, tapi belum sempurna. Tak hanya penyakit kulit akut, akibat autoimun yang dialami, Waqi jadi mudah terkena demam, pilek, dan sakit ringan lainnya.

Lagipula, gara-gara ada masalah pada sistem imunnya, anakku tumbuh jadi anak yang mudah sakit. Seperti demam dan pilek, contohnya. Capek atau kena debu sedikit, pasti sakit. Belum lagi kalau dia berkeringat, pasti pada bekas keringatnya itu akan timbul ruam luka baru. Tak tega aku, gerak sedikit salah. Tapi dibuat diam terus pun juga enggak bagus.

Meski begitu, aku tetap bangga padanya. Selama sakit, Waqi tak pernah mengeluh. Rewel, sih, ada. Paling saat ruam lukanya memarah saja. Sisanya, dia selalu ceria. Bahkan kalau saat ruam lukanya timbul di mulut, dia selalu menuruti instruksiku dengan tak pernah marah. Ketika aku bilang, “Waqi harus sembuh, ya. Waqi kuat. Nurut sama Mama, ya, biar sakitnya hilang.”

Dia pun selalu mengangguk dengan tersenyum.

Sungguh, melihatnya tersenyum saja seakan sudah mengobati rasa sakitku ini. Sampai sekarang pun, aku jadi tetap semangat dan berusaha mengajaknya kontrol kesehatan rutin setiap seminggu dua kali ke RSCM. Meski keadaan ekonomi kami pas-pasan, dengan mengandalkan uang dari penghasilan suami sebagai buruh servis elektronik, aku yakin mampu mencukupi biaya pengobatannya. BPJS pun masih sangat membantu. Yang penting, jangan berhenti berusaha.

Aku ingin melihat Waqi sembuh dan tumbuh jadi anak sehat seperti teman sebayanya.

“Ruam kecokelatan itu jadi awal rentetan luka-luka di tubuh Waqi. Dari mulai ruam cokelat berubah jadi luka di bagian kaki itu..”

“Biar bagaimanapun, aku pengin melihat Waqi sembuh dan tumbuh jadi anak sehat seperti teman sebayanya,” ujar Sumiati, ibunda Waqi.

Meski sakitnya parah, Waqi tak pernah mengeluh.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.