Anda & Pasangan: Senangnya Punya Suami Lebih Tua

Coba bayangkan: apa yang terlihat 10 tahun yang akan datang jika suami kita usianya lebih tua belasan tahun?

Nova - - Etalase - MARIA ERMILINDA HAYON/AALEYAH BHASKORO | FOTO: ISTOCK

“Kok, lebih tua sih?” Begitu mungkin komen sebagian kita begitu tahu Irwan Mussry resmi jadi suaminya Maia Estianti beberapa waktu lalu. Memang, saat keduanya menikah di Tokyo, usia Irwan sudah mendekati 56—terpaut 14 tahun dengan Maia yang 42 tahun.

Tapi begitu kita melihat foto keduanya bersanding, kita pun kontan membatin, “Kok, serasi juga, ya?”

Nah, lantas apa salahnya Maia punya pasangan yang usianya lebih tua belasan tahun—atau lebih itu?

Sepertinya tak ada yang salah.

Toh seperti juga kita—begitu memutuskan untuk menikah dengan seorang lelaki tentu Maia punya bermacam pertimbangan. Sebut aja antara lain, “Adanya ketertarikan personal satu sama lain, juga kecocokan minat,” tegas Pinkan Margaretha Indira, M.psi Psikolog dari Universitas Kristen Krida Wacana.

Lainnya, menurut psikolog Wellness Indonesia itu, pada umumnya perempuan menikahi lelaki yang jauh lebih tua dikarenakan beberapa hal, seperti kemapanan ekonomi, kestabilan emosi, gaya hidup yang telah mapan, status sosial yang baik, sehingga kestabilan masa depan dirasa bakal lebih terjaga.

Karenanya, apa perlunya kita mengerling miring begitu ada teman kita yang memilih suami yang usianya—bahkan seumur om atau ayahnya?

Sepertinya juga tak perlu. Toh begitu banyak di sekitar kita yang menjalani seperti itu—bahtera rumahtangga mereka antenganteng saja, cerah ceria.

Tapi, pada sisi sebelah: apakah selalu menikahi lelaki yang belasan tahun lebih tua nyaris aman dari hal yang perlu diwaspadai?

Punya Minat Sama

Menikah dengan yang nyaris seumuran saja tak menjamin aman tentram 100%. Namun, untuk menikahi lelaki yang belasan lebih tua—katakanlah 45 tahunan—menurut Pinkan ada beberapa hal yang sebaiknya kita waspadai.

Salah satunya: soal emosi! Sebagian kita menganggap, pria berusia lanjut biasanya tidak “emosian”. Dinilai jauh lebih sabar. Namun, apa yang terjadi jika ternyata dia tak seperti itu?

Tentu, tak serta merta kita meninggalkannya. Melainkan, “Perempuan perlu memperbesar ruang toleransi dan berupaya mengikuti gaya hidup dan prioritas pasangannya,” pesan Pinkan.

Lho, kok malah kita?

Tenang. Karena, “Sang suami pun juga perlu mengupayakan ruang toleransi,” lanjut Pinkan.

Yup. Karena perkawinan bukan berarti kita harus berubah menjadi “orang lain”. Perempuan tetap harus menjadi diri sendiri. Namun, namanya juga berpasangan, tentulah kita perlu memiliki motivasi untuk menyesuaikan diri dengan suami, yang faktanya memang berusia jauh lebih tua.

Hal lain yang perlu juga kita waspadai: orang yang usianya lebih matang—biasanya punya gaya hidup yang sudah mapan pula. Sehingga cenderung lebih sulit untuk berubah mengikuti gaya hidup kita yang kadang tidak stabil.

Kalau sudah begini, gimana dong? “Jika sudah memilih dan memutuskan menjalin hubungan dengan perempuan yang lebih muda, berarti juga membawa konsekuensi bagi si pria untuk menyesuaikan gaya hidup dan kemapanan yang telah ia miliki dengan gaya hidup si istri. Kuncinya adalah fleksibilitas dan kesediaan untuk berubah,” ujar Pinkan.

Nah, berarti sang suami, kan, yang harus begitu?

Namun, penyesuaian gaya hidup di antara istri yang bersuami lebih tua akan lebih mudah jika mereka memiliki minat yang sama. Sebut saja seperti antara Maia dan Irwan. Keduanya bukan kebetulan hidup di dunia yang nyaris sewarna. Maia besar di area hiburan, sementara Irwan dikenal sebagai pengusaha produk branded yang tentunya kerap berhubungan dengan banyak seleb.

Tapi, bukankah lelaki yang sudah nyaris setengah abad rentan soal kesehatan?

Cek Kesehatan

Meskipun pasangan kita seumuran, tak menjamin dia selalu sehat 100%. Namun, seperti kita pahami, kadang kondisi kesehatan suka berbanding terbalik dengan usia— umur meningkat tapi kesehatan justru menurun.

Nah, kalau sudah begini apalagi kalau bukan kita harus mengingatkan pasangan harus lebih rajin menjaga kesehatan dan kebugarannya.

“Bisa dengan secara rutin melakukan check-up kesehatan untuk memastikan fungsi-fungsi tubuh berjalan dengan baik. Membangun gaya hidup yang sehat dengan pola makan, pola tidur, dan pola olahraga yang baik. Dengan demikian tentunya akan membantu tercapainya kualitas kesehatan suami dan istri,” saran Pinkan.

Begitu juga kalau kita ingin segera punya momongan. “Sebelum mengikatkan diri dalam pernikahan, maka ekspektasi tentang keturunan perlu didiskusikan dan disepakati bersama. Jika ingin memiliki anak, maka perlu dilakukan upaya pengecekan ke dokter terkait dengan kondisi kesuburan masing-masing. Hasil pengecekan itu yang akan menjadi dasar untuk upayaupaya selanjutnya,” jelas Pinkan.

Yup. Yang disarankan Pinkan, tentu bukan buat suami saja, tapi juga untuk kita bersama. Karena, sering kali usia lelaki tak selalu berbanding terbalik dengan tingkat kesuburan spermanya. Toh tak sedikit pria lanjut usia yang masih mampu membuahi. Contoh yang paling jelas, Ahmad Albar, sang vokalis God Bless itu di usia 70 tahun tempo hari masih bisa punya bayi. Sementara penyanyi rock itu sudah punya cucu yang berusia lebih tua ketimbang anak bungsunya itu!

Nah, jadi—berapa pun usia pasangan kita— selalulah praktikkan mencintai tak bersyarat (unconditional love). Artinya, mulailah mencintai dengan “cinta walaupun…”, bukan “cinta jikalau…”. Cinta tak bersyarat lahir dari hati yang memang berniat untuk memberi, bukan hati yang menuntut. Dalam cinta tak bersyarat, sikap memaafkan (forgiveness) akan selalu menjadi bagian utama dan penting untuk diingat.

Dengan bersikap seperti itu, maka kita bisa menanamkan respek antarpasangan. Rasa hormat atau respek ini perlu diekspresikan di antara kita dalam sikap, katakata, dan juga perilaku. Sehingga—lanjut psikolog Pinkan—kita pun bisa erat menjaga komitmen bersama dalam pernikahan. Karena seperti kita tahu, komitmen mampu mengatasi badai masalah dalam pernikahan, lebih dari rasa cinta.

Nah, lantas apa lagi masalahnya kalau kita bersuami lebih tua belasan tahun?

Mungkin masih ada. Namun yang pasti punya pasangan lebih tua belasan tahun lebih banyak senangnya. Salah satunya: coba saja bayangkan kalau kita sudah berusia 45 tahun—bisa jadi kita akan lebih terlihat “sepantaran” dengannya. Dan kondisi seperti itu, tentu tak bakal kita temui jika sang suami justru berusia belasan tahun lebih muda.

Berapa pun usia pasangan kita, selalulah praktikkan mencintai tak bersyarat (unconditional love).

Pinkan Margaretha Indira, M.psi Psikolog dari Universitas Kristen Krida Wacana dan Psikolog Wellness Indonesia

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.