dari FOTO Yang Viral, aku tahu anakku selamat

Nova - - Isu Spesial - ASRI TITI/MUHAMAD YUNUS

Tak ada yang menduga, malam itu tsunami datang begitu cepat. Bahkan tanpa tanda, seperti gempa, yang biasanya mendahului tsunami. Sabtu malam (22/12) ribuan orang yang berada di pesisir pantai di Selat Sunda (Jawa Barat), mulai Anyer hingga Tanjung Lesung, panik tak karuan. Tsunami akibat longsoran kawah erupsi Gunung Anak Krakatau menelan ratusan korban jiwa, tiga di antaranya dari keluarga Saiful Abror (38). Warga perumahan Bukit Nusa Indah, Tangerang Selatan ini kehilangan istri dan dua anaknya saat mereka berlibur di Villa Mutiara Carita. Kepada NOVA yang menemui di rumahnya, dengan tabah Abror mengisahkan kejadian itu.

Hari itu tujuan kami ke Carita memang ingin berlibur, ingin menyenangkan istri dan anak-anak. Kebetulan anakku paling besar (Luthfatunnisa, 13 tahun) baru pulang dari pesantren, sementara anakku lainnya juga sudah libur sekolah.

Setelah dapat pinjaman vila dari seorang teman, pagi hari kami sudah berangkat dan sampai di Carita siang hari. Selain keluargaku, ada keponakan dan keluarga dari teman yang ikut. Jika ditotal, ada 16 orang dalam rombonganku itu.

Sore harinya, anak-anak tampak senang berenang di kolam renang vila.

Saat itu sekitar jam 9 malam. Usai makan malam dan bercengkerama, wanita dan anakanak masuk ke kamar untuk tidur. Sementara, yang laki-laki masih asyik ngobrol di ruang keluarga. Termasuk aku.

Tak lama, salah seorang teman yang sedang berada di luar vila tiba-tiba melihat ombak melebihi pagar tembok vila, dia bergegas masuk ke dalam dan memberitahu kami.

Kami panik bukan main. Pengelola vila sempat menelepon dan meminta kami untuk mengamankan diri. Aku berlari ke kamar, mengambil kunci mobil, dan meminta istriku segera menyelamatkan anak-anak dan membawanya ke mobil. Sementara aku bergegas menyiapkan mobil dan mulai menghidupkan mesin. Namun, saat aku berada di dalam mobil, aku mendengar suara gemuruh ombak yang sangat aneh, enggak seperti biasanya. Aku segera keluar, aku pikir enggak akan selamat jika berada di dalam mobil.

Belum sempat aku menutup pintu mobil, tiba-tiba… byaaarrr!! Air menghantam, aku terlempar sekitar 200 meter. Aku tersangkut kabel listrik, sempat tersetrum, terus tiba-tiba semua gelap. Setelah air surut, aku berusaha Foto ini viral di media sosial. Dari foto inilah aku tahu bahwa anakku selamat. (Tribunnews.com)

bangun dan melihat suasana di sekeliling yang kacau balau. Mobilku masuk ke dalam semaksemak dalam kondisi menyala.

Vila Hancur berantakan

Aku langsung teringat anak dan istriku, segera aku kembali lari ke vila. Tapi yang aku dapat, vila yang kami tempati tadi sudah hancur berantakan, berubah jadi tumpukan kayu dan puing.

Lalu aku berteriak memanggil nama istri dan anakku. Selama dua jam aku berusaha mencari keluargaku di antara puing-puing. Tak lama, aku mendengar teriakan Luthfatunnisa (Nisa), dia memanggil-manggil namaku. Aku lihat dia ada di tumpukan kayu dan puing setinggi 2 meter.

Sekuat tenaga, aku mencoba mengangkat tumpukan kayu dan puing untuk menyelamatkan anakku. Saat aku angkat reruntuhan itu, aku menemukan banyak korban, di antaranya keponakanku yang bernama Safitri (26). Dia tertimpa bangunan dan sulit diselamatkan, hingga akhirnya meninggal.

Setelah mengeluarkan Nisa, aku mendengar tangisan Ali (5), anakku yang lain. Sayangnya, kondisinya saat itu tertimbun reruntuhan yang jauh sekali dari jangkauanku. Aku enggak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa agar anakku itu selamat.

Melihat kondisi Nisa yang penuh luka, aku harus membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku menggendong anakku yang kubungkus dengan sarung, aku berjalan hingga bertemu tim SAR yang kemudian mengevakuasi kami ke puskesmas terdekat. Aku sempat meminta tolong mereka untuk menyelamatkan Ali. Bahkan aku sempat berusaha mencari lagi, namun suasana sudah begitu semrawut.

Pagi harinya, aku mendapat kabar bahwa Ali berhasil dievakuasi dan diselamatkan. Aku mendapat kabar itu dari foto yang sempat viral di media sosial. Saat ini Ali sedang menjalani perawatan di RSUD Tangerang. Tapi enggak lama, aku menerima kabar duka. Istriku, Siti Nur Alfisyah (36) dan dua anakku yang lain, Nihlatuz Zahra (11) dan Muhammad Zein Karim (2,5) tak bisa diselamatkan.

tak ada Firasat

Terus terang, aku enggak merasakan firasat apa pun menjelang “kepergian” mereka. Saat berangkat dari rumah, semua dalam keadaan senang dan bahagia. Istri dan anak-anakku tampak gembira selama perjalanan hingga sampai di vila. Kami berselawat bersama di dalam mobil.

Selama ini, istriku selalu menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu dengan baik. Anak-anak juga bersekolah dan belajar seperti biasa. Yang jadi ganjalanku, yaitu memberitahukan kematian ibunya pada dua anakku yang selamat. Aku masih menunggu saat yang tepat, agar jiwa anakku enggak terganggu, dan semua bisa ikhlas menerima takdir yang sudah digariskan Allah.

FOTO: YUDI , (FOTO KELUARGA) DOK. PRIBADI

Tsunami datang tiba-tiba, pesisir pantai di Selat Sunda banyak yang porak-poranda.

Abror bersama keluarga (dari kiri-kanan): Nisa, Nuril, Karim, Abror, Ali, dan Zahra.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.