Karena aku Tionghoa Bukan Berarti aku Kaya

Nova - - Tanya Jawab Psikologi -

Tanya

Yth. Bu Rieny, Saya adalah seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun dan sudah sekitar 6 tahun menikah. Saya dan suami sebenarnya memiliki relasi yang cukup baik. Kadang pertengkaran terjadi tapi selama ini bisa kami selesaikan. Kami belum dikaruniai seorang anak, tapi kalau ditanya saya bisa bilang kami bahagia. Namun saya kerap merasa tidak nyaman dengan keluarga besar suami saya. Kami memang memiliki agama yang sama, tapi kami berbeda. Suami saya berasal dari Sumatra utara, dan saya berasal dari keluarga Tionghoa. Saya tentu sudah paham dengan konsekuensi saat menerima lamaran suami saya, tapi saya tidak mengira akan sangat ekstrem dampak dari perbedaan kami.

Keluarga suami kerap membuat pesta besar di beberapa hari tertentu. Apalagi ketika ada ulang tahun, hari besar, atau pernikahan. Sejujurnya saya sangat tidak terbiasa, karena saya tinggal bersama dengan ibu mertua saya jadi harus ikut bantu memasak makanan-makanan khas daerahnya. Bukan saya tidak mau, tapi karena saya tidak pernah memasaknya sebelum ini. Semua makanan dimasak dengan porsi besar, jadi saya sering kali panik. Di awal tahun pernikahan saya beberapa kali gagal ketika memasak sesuatu, kadang ada saudara yang merasa masakan saya kurang enak. Saya sempat terpukul, tapi setelah sudah berjalan beberapa tahun saya sudah mulai terbiasa. Tidak banyak lagi orang yang mengomentari masakan saya.

Yang tidak saya mengerti, mengapa suami saya−yang hanya anak keempat− harus membiayai hampir semua pesta yang dilaksanakan di rumah ibunya. Kami memang berkecukupan, tapi ada kalanya suami saya juga cukup kesulitan untuk membiayai semuanya. Karena selain menyiapkan makanan, kami biasanya juga harus menyewa banyak hal, seperti AC, kursi, keyboard, dan sound system. Saya sudah coba bicara pada suami saya, tapi dia berkata kalau saya tidak mengerti. Mungkin karena suami saya adalah anak yang paling disayang oleh ibunya, dan begitu pun sebaliknya.

Akan tetapi, hal yang paling membuat saya terpukul adalah saat mereka membawabawa masalah SARA. Seperti ketika ibu mertua sakit, saya diminta untuk membayar lebih banyak untuk membantu. Beberapa sanak saudara bilang saya banyak uangnya karena saya orang Tionghoa, jadi saya diminta untuk meminjam uang kepada keluarga besar saya, seperti ayah atau saudara-saudara saya. Saya mengerti kalau saya sekarang adalah bagian dari dua keluarga besar ini. Tapi selain tidak nyaman dengan pernyataan yang rasis seperti itu saya juga tidak mau membebani keluarga besar saya.

Saya, kan, sudah menjadi tanggung jawab suami, ya, Bu Rieny, tapi suami malah ikut mendorong saya untuk minta bantuan kepada ayah. Padahal, ayah saya juga bukan orang kaya dan tidak semua orang Tionghoa kaya. Kami mungkin berkecukupan, tapi juga tidak berlebihan. Saya sudah meminta sedikit bantuan dari ayah saya, tapi keluarga suami kembali meminta lebih untuk perawatan selanjutnya. Saya tidak merasa nyaman dengan tekanan ini. Tolong bantu saya Bu Rieny.

Terima kasih.

Sandy-jakarta

Dear Sandy, Jawab

Coba Anda kaji lebih dalam lagi perasaan nyaman yang direnggut oleh keluarga suami dari diri Anda. Apakah lebih disebabkan oleh cara mereka yang rasis dalam memperlakukan Anda atau lebih terkait pada ketidakrelaan untuk melibatkan ayah kandung Anda dalam masalah keuangan terkait sakitnya mertua?

Bila yang pertama, coba untuk mengingat-ingat situasi, perlakuan, atau kata-kata sejenis apa yang membuat Anda tidak happy? Saya adalah orang yang sangat yakin bahwa salah satu ujian cinta sepasang suami istri adalah ketika terjadi “serangan” dari keluarga pasangan kita. Entah mertua, ipar, atau keluarga besarnya. Perempuan akan merasa dicintai, dibela, dan kemudian merasa aman dan nyaman, bila dia melihat dan merasakan bahwa suaminya memiliki keberpihakan pada dirinya dalam menyikapi atau merespon kicauan atau rong-rongan dari keluarganya.

Membiasakan keluarganya untuk meminta bantuan uang kepada Anda, misalnya, bukankah itu membuat mereka mau tak mau harus bicara ke Anda? Kesepakatan tentang ini sering luput dari pembicaraan pra nikah, padahal ini penting agar para saudara sadar dan lalu mengakui bahwa kini suami sudah tak sendiri lagi. Ketika dijalankan dengan konsisten, besar kemungkinan para kerabat suami mau menerima bahwa sekarang memang demikianlah prosedur yang harus ditempuh bila ingin meminta bantuan. Si istri hendaknya juga belajar untuk menerima kenyataan bahwa di adat istiadat suaminya, memang ada kebiasaan untuk membantu keluarga yang sedang membutuhkan.

Selama relasi dengan suami memang baik, diskusi yang sehat dan produktif akan menghasilkan banyak titik-titik temu, seperti sampai mana akan dibantu atau berapa banyak yang pantas untuk diberi. Diskusi itu sehat bila tak ada kata-kata negatif, saling menyudutkan, atau menyalahkan, dan memakai setiap kesempatan untuk merendahkan keluarga pasangan. Selain itu, diskusi produktif adalah lawan dari debat kusir yang biasanya berakhir dengan menang atau kalah. Akan produktif bila bisa mengobrol dengan tetap fokus ke masalah, mencari solusi sembari tetap mencari sambil belajar dari pengalaman ketika ada masalah serupa di masa lalu.

Kebiasaan seperti itu akan menjauhkan suami dan istri dari perasaan tak nyaman, karena komunikasi yang dilandasi oleh rasa saling percaya dan terbuka akan menghilangkan kesenjangan yang muncul akibat ketidaksamaan pandangan terhadap suatu masalah. Kebutuhan untuk saling memahami pasangan juga akan meningkat, karena di saat kita bisa mengobrol enak, bertukar pikiran tanpa merasa sok lebih tahu− atau malah merasa tidak tahu tapi gengsi mau bertanya−relatif mudah membangun kebiasaan untuk berpikir “kami” dan bukan “kita”. Saat menghayati kebersamaan suamiistri sebagai “kami” ini benar-benar hubungan eksklusif antara keduanya. Sementara kata “kita”, tidak memberikan batasan.

Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, lho, ya. Ini adalah sarana relasi yang saya sarankan untuk Anda coba dan jalankan berdua agar cara pandang terhadap masalah bisa dicoba untuk tetap sama frekuensinya. Anda tidak perlu membuat hubungan suami dengan ibunya jadi renggang, karena yang dilakukannya ini adalah tanda bakti anak pada sosok yang melahirkannya. Akan tetapi kebiasaan berpikir sebagai “kami” pasti akan meingkatkan kepekaan suami bahwa selain ibunya, dia punya istri, lho, yang juga harus dia pelihara hati dan kenyamanannya saat ada di keluarga besarnya.

Bila yang kedua−anda tak nyaman karena melibatkan ayahanda dalam pendanaan sakitnya mertua perempuan−menurut saya tak perlu direspon secara emosional. Pakai logika dan nalar saja. Anda bisa melindungi ayah untuk tidak diganggu bila bisa mengoptimalkan sumber dana yang ada di dalam keluarga suami, bukan? Apakah sudah masuk BPJS? Kalau tak ada yang mau mengurus ini, Anda saja yang melakukannya. Tentu dengan kesepakatan bersama suami. Ikuti prosedurnya tanpa keluh kesah, bila memang tak ada pos untuk masalah kesehatan pada mertua. Jangan lelah untuk mempertahankan hubungan baik dengan saudara kandung suami, sehingga ide-ide yang datang dari Anda, tidak dianggap sebagai sesuatu yang datang dari luar, melainkan dari Anda yang dirasa sebagai keluarga juga.

Pasti tidak mudah, tapi kalau selama ini Anda bisa bertahan dalam gejolak family affair yang terjadi, kan, artinya Anda terbukti mampu dan tahan banting. Sekarang tinggal menambahkan lagi fleksibilitas dan penyesuaian diri secara lebih aktif ke keluarganya. Dengan suami tentu hubungan harus terus dipelihara kehangatan dalam cinta dan tetap harmonis dalam mendukung peningkatan kualitas diri Anda dan suami.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.