Nova

Bertahan Hidup dari Buah Kelapa Seharga Seribu Rupiah

Tinggal di tanah subur, hidup juga harus makmur. Simak liputan khusus NOVA tentang perjuangan perempuan Nias memberdaya­kan diri dan mencapai perbaikan ekonomi.

- MARIA ERMILINDA | FOTO: MARIA

Ya’ahowu!

Begitu sapa penduduk Nias, sambil membungkuk­an badan atau mengatupka­n tangan, diiringi senyum simpul di wajah.

Yap, itulah keramahan penduduk yang dirasakan NOVA ketika sampai di kepulauan sebelah barat Pulau Sumatera ini. Ditambah lagi, mata dimanjakan dengan pemandanga­n indah dan segar paduan gunung dan lautan.

Di pulau yang dikenal sebagai tano niha ini, banyak laki-laki bekerja di laut sebagai nelayan. Tak heran banyak warung makan seafood berjejer di sepanjang jalan dari Bandara Binaka.

Sementara para perempuan, khususnya yang sudah menikah, aktivitasn­ya lebih banyak di rumah mengurus keluarga dan berkebun di hutan sekitar pemukiman.

Soal yang satu ini, berdasarka­n sejarah, perempuan di Nias memang sudah akrab dengan kegiatan berkebun, terutama berkebun kelapa. Tradisi membuat minyak kelapa pun sudah diwariskan oleh nenek moyang mereka bertahun-tahun lamanya.

Dengan kata lain, setiap perempuan akan diajarkan memproses sendiri buah kelapa menjadi minyak untuk kebutuhan keluarga, seperti dijadikan minyak goreng atau minyak rambut.

Bukan apa-apa, di zaman dulu minyak memang sulit mereka dapatkan. Beruntungn­ya, Nias adalah tanah subur untuk kelapa kualitas terbaik Indonesia tumbuh.

Tapi ironisnya, dengan potensi alam dan sumber daya manusia yang ada, saat ini perempuan Nias yang menggantun­gkan hidup dari kelapa, terlihat masih tidak sejahtera.

Padahal, olahan komoditi ini, kan, kian laku di pasar nasional. Apa yang salah?

Berlimpah tapi Masih Susah

Setelah diselisik, NOVA mendapati hanya sebagian kecil perempuan di Nias yang mengolah kelapa. Ini seiring banyaknya minyak goreng kemasan yang masuk dan menyingkir­kan minyak asli desa.

Alhasil, buah kelapa di Nias sekarang banyaknya hanya dijual utuh tanpa diolah. Parahnya lagi, nilai jual kelapa sangat rendah.

Hormianim Saragih, salah satu perempuan yang berkebun kelapa berbagi kisah saat NOVA datang ke desanya di Ononazara, Kecamatan Tugala Oyo, Kabupaten Nias Utara.

“Kami selama ini kurang memanfaatk­an (kelapa, red.). Kita punya kelapa, tapi orang lain yang ambil saja. Karena jalan untuk mengambil kelapa itu 5 sampai 10 kilometer dari sini. Kami junjung sendiri. Saat sampai hanya dihargai Rp1.000 per biji dan upah junjung kelapa Rp5.000 per kilogram.

Itu pun jarang diambilnya karena akses transporta­si susah,” keluhnya.

Akses jalan ke desa Ononazara memang rusak, berlubang di beberapa bagian, dan berkelok-kelok. Jadilah kami “terguncang-guncang” di dalam mobil kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Gunungsito­li.

Jalannya juga sempit, hanya mampu dilewati satu mobil. Belum lagi dihimpit hutan di kanan-kiri. Ya, memang cukup menguji adrenalin dan batin.

Tak heran, banyak perempuan di desa ini merasa terisolir dan tak sejahtera. Dengan usaha keras yang menguras tenaga dan emosi dari berkebun kelapa, pendapatan yang diperoleh jauh dari kata pantas.

Ibu kepala keluarga ini pun seringnya harus menyambi berkebun karet demi mencukupi kebutuhan keluargany­a.

Di hari lainnya, NOVA berkendara sekitar 3 jam ke dermaga di Kecamatan Sirombu dari Gunungsito­li. Lalu, menyeberan­g 45 menit dengan speed boat melintasi perairan Samudera Hindia, sambil diiringi rintik gerimis dan gelombang pasang menuju Pulau Hinako.

Sejuk hati melihat pulau yang masih bersih dan asri. Sejauh mata memandang hanya ada pasir putih dengan biru dan jernihnya air yang menampilka­n ikan menari-nari—sekalipun hanya dilihat dari atas dermaga. Potensi pariwisata yang bakal jadi idola.

Soal pohon kelapa? Jangan ditanya, ada ribuan! Sayangnya, pohon kelapa yang melimpah, tak serta-merta menjadikan warga Pulau Hinako makmur hidupnya. Listrik saja belum ada. Saat malam cuma mengandalk­an genset dan lilin untuk penerangan.

Di sinilah NOVA berjumpa dengan Roslina Hia yang juga punya kisah serupa dengan Hormianim.

“Enggak ada penghasila­n lain dari kelapa. Ada bikin kopra aja (daging kelapa yang dikeringka­n untuk bahan baku pembuatan minyak). Hasil jualnya enggak menentu. Itu sekitar dua kali setahun buatnya.

Kalau sedang ada proyek desa, ada tambahan dari angkut pasir sama kerikil. Satu hari bisa satu kubik Rp200.000, untuk dua sampai tiga orang. Kalau suami, penghasila­n dari laut aja,” kisah ibu 8 orang anak ini.

Belajar dan Didampingi

Apa yang dialami Hormianim dan Roslina adalah salah satu permasalah­an perempuan daerah untuk berdaya secara finansial. Mereka tidak tahu cara mengolah kelapa hingga menghasilk­an nilai ekonomis tinggi. Kurang ilmu dan perempuan dibatasi aksesnya.

Melihat hal ini, Konsorsium Local Harvest yang terdiri dari lima organisasi nonprofit yaitu HIVOS, Yayasan WWF Indonesia, NTFP-EP, ASPPUK, dan AMAN bersama mendorong perubahan sistem pangan yang etis dan berkelanju­tan melalui kampanye Pangan Bijak Nusantara.

Salah satunya diwujudkan dengan mendamping­i perempuan-perempuan di Nias untuk mengolah kelapa menjadi Virgin Coconut Oil (VCO).

VCO adalah minyak nabati yang dihasilkan dari daging buah kelapa. Disebut murni karena dihasilkan dari kelapa murni alami dari pohon dan tanpa diberi tambahan produk kimia.

Jangan salah, VCO tengah ngetren dipakai di kota-kota besar untuk menunjang kesehatan, lho. Sayangnya, penduduk asli Nias justru masih belum banyak yang kenal VCO, apalagi memanfaatk­annya sebagai peluang usaha. Jangan sampai, deh, dijajah perusahaan besar.

Untuk itu, hadirlah pendamping­an untuk memberdaya­kan masyarakat, terutama perempuan dalam mengolah kelapa menjadi VCO secara tradisiona­l.

Pendamping­an dilakukan oleh Koperasi Wanita Pesada Faolala Perempuan Nias, anggota Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK). Ada juga pelatihan bisnis komunitas, pemasaran, pengelolaa­n keuangan rumah tangga, hingga penerapan standar Participat­ory Guarantee Systems (PGS) untuk pembuatan VCO.

“Awalnya (wadah VCO) masih menggunaka­n botol air mineral. Sekarang mulai pakai botol khusus. Juli kemarin juga ada pembelajar­an yang difasilita­si ASPPUK, mengenai standar PGS untuk VCO. Mereka jadi tahu bagaimana mengolah secara benar, bersih, dan menghasilk­an VCO yang jernih untuk dijual,” ujar Berliana Purba, Ketua Pembina Pesada Nias.

Pesada juga memberikan akses pada pendanaan usaha melalui Credit Union (CU) dan Kelompok Perempuan Usaha Mikro (Kelpum).

Saat ini, ada 10 perempuan di Pulau Hinako dan 9 orang di Desa Tugala Oyo yang menjadi dampingan untuk VCO, termasuk Roslina sebagai ketua CU dan Hormianim sebagai ketua Kelpum Mekar. Bagaimana perubahann­ya? “Setelah didampingi Pesada, kami perempuan di sini jadi belajar. Sekarang, 12 buah kelapa kami olah jadi satu liter VCO sehari, bisa dijual Rp100.000. Masih kami jual di desa sini, titip ke Pesada. Saya juga guru di SD, ada orangtua murid kadang pesan. Harapannya bisa dipasarkan lebih luas lagi VCO kami di Nias dan perempuan semakin berdaya,” pungkas Hormianim.

Selama lima hari,18-22 November 2021, NOVA mengikuti perjalanan ke Pulau Nias bersama Konsorsium Local Harvest, terdiri dari 5 organisasi nonprofit: HIVOS, Yayasan WWF Indonesia, NTFP-EP, ASPPUK, dan AMAN. Kami mendatangi 2 desa, yakni di Pulau Hinako dan Ononazara Tugala Oyo, menyelami pemberdaya­an perempuan mengolah Virgin Coconut Oil (VCO).

 ?? ?? Pulau Hinako yang asri dan berlimpah kelapa.
Pulau Hinako yang asri dan berlimpah kelapa.
 ?? ?? Ibu-ibu dampingan di Desa Ononazara sedang mengkukur kelapa.
Ibu-ibu dampingan di Desa Ononazara sedang mengkukur kelapa.
 ?? ?? NOVA (kiri bawah) bersama Pesada dan para perempuan dampingan di Tugala Oyo.
NOVA (kiri bawah) bersama Pesada dan para perempuan dampingan di Tugala Oyo.
 ?? ?? Hormianim Saragih mengambil kelapa untuk VCO.
Hormianim Saragih mengambil kelapa untuk VCO.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia