Artikel Usaha

Saji - - Sapa - TEKS & FOTO: SITA RAHMAN | VISUAL: BELLA F.

Di Sumatera Utara, Sajiers tentu akan mudah menemukan hidangan khas suku Batak yang sangat populer, yakni arsik ikan mas. Selain kerap dimasak sebagai menu sehari-hari, banyak pula rumah makan hingga resto yang menyediakan menu otentik super lezat ini. Kini, arsik ikan mas bahkan sudah lebih mudah dibawa ke banyak tempat sebagai buah tangan sebagai produk frozen food.

Kendati arsik ikan mas merupakan hidangan rumahan lezat yang sangat populer di wilayah Medan dan sekitarnya, namun tampaknya tak banyak yang memikirkan untuk mengemasnya sebagai oleh-oleh atau buah tangan bagi orang-orang yang berkunjung ke Medan dan sekitarnya untuk dibawa pulang ke kota asalnya.

Tentu ada berbagai alasan yang menjadikan warga Medan dan sekitarnya kurang berminat atau enggan mengolah arsik ikan mas lalu mengemasnya untuk dijadikan buah tangan khas daerah. Alasan pertama, tentu saja karena arsik merupakan lauk teman bersantap yang terbuat dari bahan utama ikan mas yang memiliki banyak duri.

Alasan kedua, oleh karena masakan ini bertekstur agak basah, tentu saja daya tahannya tidak bisa lama. Apalagi jika harus dibawa ke tempat yang jauh, bisa-bisa menjadi basi di jalan hingga akhirnya tak termakan sesampainya di tempat tujuan. Tentu sangat disayangkan, bukan?

Namun berbeda dengan pasangan Hidir Dongoran dan Deliyana Siagian, yang memiliki usaha kuliner bernama DeFrood. Mereka justru terpikir untuk menjadikan hidangan khas Sumatera Utara ini sebagai buah tangan khas daerah yang memiliki daya tahan dan masa konsumsi lebih lama.

DIPROSES & JADI FROZEN FOOD

“Duri ikan mas memang bisa jadi ‘ranjau’ bagi orang-orang yang menyantapnya, terutama mereka yang tak terbiasa makan ikan mas. Sudah banyak sekali durinya, halushalus pula sehingga sulit dipilihnya. Tentu saja alasan ini bikin acara makan jadi tidak nikmat,” ujar Hidir yang mulai mengelola DeFrood sejak 3 tahun lalu.

Hidir mengawali usaha kuliner DeFrood dengan menjual aneka makanan froozen, salah satunya bandeng presto ala Medan, bakso, dimsum, tahu bakso, dan lainnya. Untuk bisa memproduksi bandeng presto yang diolah dengan benar dan rasanya enak, Hidir sampai berguru hingga ke Surabaya, Jawa Timur.

Kembali ke Medan, ia tularkan ilmunya kepada sang istri untuk mengolah bandeng prestonya dengan diberi bumbu kuning. “Orang Sumatera sangat suka masakan yang kaya bumbu. Jadi, kami produksi bandeng prestonya agak berbeda dengan yang ada di Jawa. Kami masak bandengnya dengan bumbu kuning khas Medan,” imbuh Deliyana.

Sejak 1 tahun lalu, Hidir dibantu sang istri dari rumahnya yang berada di dalam gang dengan mulai mengolah arsik ikan mas sebagai frozen food, yang masa konsumsinya menjadi cukup panjang dan layak dijadikan oleh-oleh khas daerah.

Ternyata, ide Hidir dan Deliyana meluncurkan varian dagangan baru berupa arsik ikan mas frozen, ditanggapi sangat positif oleh konsumen di Medan dan sekitarnya. Permintaan pun kian melonjak, seiring arsik ikan mas frozen mulai rutin diproduksi, lengkap di dalam kemasan praktis mangkuk plastik.

Agar konsumen merasa nyaman menyantap arsik ikan masnya, Hidir mengolahnya dengan cara mempresto ikan mas sampai duriduri halusnya hancur sehingga tak akan menganggu saat dimakan, tanpa mengurangi kelezatan hasil masakannya.

TANPA BAHAN PENGAWET

Hidir menjelaskan, setelah ikan mas dibersihkan kemudian diberi bumbu khas arsik yang diolahnya sendiri. “Selanjutnya, urusan masak dilakukan istri saya. Dalam menjalankan usaha, saya memang lebih banyak bergerak di bidang pemasarannya,” imbuh Hidir.

Bumbu arsik yang digunakan tergolong otentik, terdiri dari cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, andaliman, asam cikala, kincung, hingga daun ubi dan kacang panjang. Ikan yang sudah diberi bumbu lalu dimasak di dalam alat khusus presto. Sekali produksi, Hidir dan istrinya memasak hingga 20 kg ikan mas dan akan langsung habis dalam waktu 1 minggu.

Kendati ikan mas mudah sekali didapatkan di pasaran, namun Hidir mengaku, tak bisa sembarang membeli. “Saya harus pastikan ikan masnya tidak berbau lumpur. Jadi sejak awal saya harus menjalin hubungan baik dengan pedagang ikan mas yang memang bisa menjaga mutu ikan masnya,” urainya soal memilih kualitas ikan mas yang dipakainya.

Menurut Hidir, ia mendapatkan stok ikan mas berkualitas baik dari peternak ikan mas asal Haranggaol, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Ikannya cukup besar dan yang pasti tak berbau lumpur, sehingga setelah dimasak arsik cita rasanya sungguh sedap.

RAJIN PROMOSI VIA MEDSOS

Hidir mengakui, memang tak mudah menjalankan usaha ikan mas arsik karena kendala utama terletak pada masa konsumsi dan daya tahan produknya. “Bila disimpan di suhu ruang, arsik ikan mas hanya akan bertahan selama 2 hari. Maka, agar lebih awet saya buat frozen dan bisa disimpan di kulkas. Ketika akan disantap, tinggal dipanaskan saja,” saran Hidir.

Walaupun memiliki risiko pada masa konsumsinya yang pendek, Hidir ternyata berkomitmen tak menggunakan bahan pengawet pada arsik ikan mas yang diproduksinya. “Tentu saya punya alasan karena saya dan istri ingin konsumen tahu produk yang sehat dan aman saat menyantapnya,” tegasnya.

Untuk mendongkrak penjualan dan pemasaran, Hidir tentu harus rajin berpromosi. “Terkadang saya sempatkan ikut seminar, bazar kuliner, dan memanfaatkan media sosial untuk berpromosi, seperti Facebook dan Instagram dengan akun pribadi,” tuturnya.

Pasangan ini pun mengaku optimis mengenai usahanya yang memiliki prospek baik ke depan. “Untuk masyarakat lokal saja, misalnya ibu rumah tangga yang punya kesibukan di luar rumah, bisa beralih membeli makanan frozen kami. Tetap sehat dan tak terancam duri ikan,” ujar Hidir sambil tersenyum mengakhiri perbincangan.

DEFROOD

Jl. Bersama, Gang Perintis No. 43, Medan, Sumatera Utara

0813 6203 0693

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.