Halo Sajiers,

Saji - - Sapa -

Dua minggu lalu, kita semua dikejutkan oleh berita viral ditemukannya bangkai ikan paus sperma di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (11/11), seperti dikutip dari laman berita online bbc.com.

Semakin mengejutkan ketika disebutkan, di dalam tubuh ikan tersebut terdapat begitu banyak sampah plastik hingga sandal jepit, yang bobotnya mencapai lebih dari 6 kg. Begitu menyedihkan membaca berita ini. Betapa limbah plastik yang nyaris setiap hari kita buang ternyata menyisakan kisah pilu bagi makhluk hidup lainnya di dunia ini.

Sejatinya, laut yang menjadi tempat terakhir aliran sungai-sungai adalah area yang semestinya steril dari sampah rumah tangga. Biota dan makhluk laut idealnya bisa bernapas dan mendapatkan pakan alami yang tak terkontaminasi limbah apa pun, terlebih limbah rumah tangga.

Namun yang terjadi saat ini, tak hanya di Indonesia saja, tetapi juga di seluruh dunia, limbah plastik dari berbagai sumber, termasuk wadah/ kemasan makanan/minuman, kantung belanja, hingga sedotan, menjadi penyebab kerusakan lingkungan paling parah saat ini.

Selain fenomena pemanasan global, limbah plastik telah membuat keseimbangan bumi jadi terganggu. Melihat fakta yang semakin hari kian mengerikan ini, tak heran bila semakin banyak orang/komunitas menggemakan gerakan #zerowaste atau #noplastic di kehidupan seharihari, demi menjaga bumi.

Ada begitu banyak cara mudah yang bisa kita lakukan dan secara sadar ikut terlibat dalam penyelamatan bumi yang sudah tak muda lagi ini. Salah satunya, mengubah kebiasaan dari menggunakan barang plastik sekali pakai ke barang daur ulang yang masa pakainya lebih panjang.

Termasuk mengganti tas/ kantung belanja dengan tas kain untuk mewadahi sayur, buah, dan bahan makanan lain. Daging atau ikan, bagaimana? Gunakan wadah berpenutup yang bisa dicuci lalu digunakan kembali. Praktis dan hemat, juga ramah lingkungan.

Maka, tak heran bila saat ini semakin banyak perusahaan yang menerapkan gerakan tanpa plastik, seperti resto fast food yang sudah tak lagi menyediakan sedotan plastik sekali pakai atau tas keresek di sejumlah toko retail. Cara ini tentu harus kita apresiasi.

Nah, Sajiers, apakah sudah siap beralih kebiasaan dengan mengurangi penggunaan plastik dan memilih barang yang masa pakainya lebih panjang dan bisa digunakan lagi dan lagi? Termasuk menggunakan sedotan stainless steel yang bisa dicuci dan dipakai lagi. Memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan, bukan? Mari kita sama-sama menjaga bumi.

#SahabatSayur #SahabatBuah

Salam.

Intan Y. Septiani Editor in Chief

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.