Liputan Khusus

Dionisius Wisnu, Public Relaton Gramedia Pustaka Utama

Saji - - Sapa - TEKS ANIZA P.I FOTO DOK. PRIBADI I VISUAL BENYAMIN W.

Tren membagikan informasi berbentuk foto maupun video beragam jenis makanan ke media sosial makin booming saja. Dari tren ini, muncullah sejumlah food blogger/selebgram yang rajin memposting berbagai konten seputar kuliner, termasuk berbagi resep makanan. Tak jarang pula mereka akhirnya dipinang para penerbit buku yang menyusun resep mereka hingga dicetak berulang kali saking lakunya.

Ketika Sajiers berkunjung ke toko buku, mata kita pasti akan langsung dihadapkan pada banyak pilihan genre buku. Dari buku biografi, buku fiksi/ novel, buku anak, hingga buku resep beragam masakan dan kue. Seolah setiap judul buku yang bagian sampulnya didesain semenarik mungkin, saling berebut perhatian pengunjung untuk segera dibeli.

Menurut Dionisius Wisnu, PR penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU), buku-buku bergenre resep masakan/kue/minuman/ diet, sempat mengalami popularitasnya di beberapa masa yang lalu. Sehingga ia mengamati, bila saat ini buku-buku kumpulan resep kembali digemari, bukan karena baru booming saat ini, melainkan fenomena yang berputar dan kembali terjadi.

Wisnu mengatakan, di tahun 1978 GPU menerbitkan 2 buku kumpulan resep berjudul Pandai Masak 1 dan Pandai Masak 2 karya Nyonyah Rumah (Julie Sutarjana). Kedua buku kumpulan resep masakan ini bisa dikatakan sebagai perintis tren penerbitan buku kumpulan resep masakan Indonesia.

Selanjutnya, kata Wisnu, secara berturut-turut GPU kembali menerbitkan beberapa buku Seri Resep Praktis karya Yasa Boga. Seri buku resep ini juga ikut mengawali tren buku masak yang dilengkapi foto-foto makanan menggugah selera, takaran yang tepat, plus step by step pembuatan praktisnya.

Di tahun 2000, Sisca Soewitomo mulai bergabung ke dalam jajaran penulis di penerbit GPU dan menerbitkan buku kumpulan resep pertamanya yang berjudul Masak Mudah dan Lezat, yang langsung menjadi bestseller. “Buku-buku kumpulan resep Ibu Sisca selanjutnya selalu jadi bestseller di Indonesia,” imbuh Wisnu.

ERANYA SELEBGRAM TERBITKAN BUKU

Setelah era Sisca Soewitomo, kata Wisnu, dalam sepekan GPU bisa menerbitkan 3-5 buku genre kumpulan resep atau sekitar 20 buku resep per bulan. Kendati begitu, lanjutnya, tidak serta merta buku kumpulan resep merupakan jenis buku yang paling tinggi penjualannya di toko buku.

Dari segi penjualan, Wisnu mengatakan, buku fiksi/novel masih menempati urutan pertama sebagai buku populer, sedangkan buku kumpulan resep termasuk jarang masuk ke dalam peringkat buku populer. “Urutan penerbitannya lebih besar genre fiksi/novel, buku anak, selanjutnya buku masak lalu biografi,” imbuh Wisnu.

Namun pada 2018 ini, Wisnu mengakui, buku kumpulan resep karya selebrgam dengan nama akun Xander’s Kicthen secara fenomenal berhasil menempati posisi pertama penjualan dari seluruh kategori, bahkan mampu bertahan di puncak popularitas buku selama 7 bulan berturutturut,” ungkap Wisnu. Xander’s Kicthen merupakan buku karya wanita bernama Junita yang kerap membagikan resepnya bia akun media sosial Instagramnya.

Melihat jumlah followers Instagramnya yang lebih dari 545 ribu dan pasar yang ternyata sangat menerima buku resep Xander’s Kitchen, menurut Wisnu, buku kumpulan resep ini memang mampu mendapatkan tempat di hati masyarakat.

“Buku kumpulan resep Xander’s Kicthen dicetak oleh GPU pada Januari 2018 lalu dan saat ini sudah 14 kali cetak ulang,” ujar Wisnu seraya menjelaskan, jika dilihat dari jumlah penjualan buku resepnya, memang sangat menggiurkan bagi penulisnya yang secara otomatis mendapatkan royalti sebesar 10 persen dari hasil penjualan per 1 bukunya.

Lantas berapa lama buku-buku kumpulan resep itu biasanya akan bertahan dipajang di toko buku? Kata Wisnu, 1 judul buku biasanya akan berada di toko buku selama 3 bulan hingga batas maksimal 6 bulan. “Jika diminati pembaca, bisa lebih lama lagi dipajang di toko buku,” pungkasnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.