WARJAK, KONSEP WARTEG BERSIH & MURAH

Apakah Sajiers termasuk sering mampir ke warung nasi pinggir jalan atau warteg (warung tegal)? Warung nasi sederhana ini memang banyak dikelola oleh orangorang Tegal, Jawa Tengah. Harga seporsi nasi dan lauk di warteg terkenal murah. Akan tetapi, banyak o

Saji - - Halaman Depan - TEKS & FOTO: NADA NISRINA | VISUAL: BELLA F.

Berangkat dari rasa pedulinya terhadap kondisi warung tegal (warteg) yang selalu tampak ramai pembeli, namun kondisinya kerap tidak bersih dan higienis sajian makanannya, membuat Hendra Hudiono (51), Direktur Warung Jakarta, menciptakan ide bisnis waralaba warung nasi sederhana ala warteg, namun dengan lokasi yang lebih bersih dan terjamin kualitas makanannya.

Dengan latar belakangnya yang seorang pebisnis, Hendra bersama rekannya, Martin Kauw, bersepakat memiliki tujuan ingin membuat semua orang mendapatkan makanan berkualitas dan sehat, namun murah harganya Mereka lantas melahirkan Warung Jakarta atau disingkat Warjak.

Hendra mengisahkan, konsep Warjak telah dibuatnya sejak 2016 dan mulai diperkenalkan ke khalayak sejak Agustus 2017. Melalui Warjak, Hendra memiliki tujuan mulia, ingin menyediakan makanan sehat untuk lebih banyak kalangan. Maka, Warjak hadir dengan menawarkan aneka menu bercita rasa yang lezat dan diolah dengan cara yang bersih, tapi dijual dengan harga murah layaknya warteg.

TAK CAPEK BELANJA & MASAK

Menurut pengamatan Hendra, para pemilik warteg biasanya membeli bahan makanan di pasar tradisional sejak pagi buta dengan harga yang tidak stabil. Kemudian semua bahan harus dimasak sendiri menjadi beberapa jenis lauk. Tentu saja ada banyak waktu dan tenaga terbuang dengan melakukan semuanya sendiri.

Nah, bagi orang-orang yang ingin memulai usaha kuliner dengan modal terjangkau, bergabung bersama Warjak sebagai mitra (pembeli waralaba) bis amenjadi solusi. Para mitra bahkan bisa langsung mendapatkan aneka lauk matang dengan harga murah dan tinggal menjualnya saja di warung, yang dilengkapi etalase berlogo Warjak. Sehingga tak perlu lagi belanja bahan mentah dan memasak sendiri.

Semua itu bisa terjadi, kata Hendra, karena Warjak membeli bahanbahan baku langsung dari sumbernya, sehingga harga jual makanan setelah bisa lebih murah. Dan saat ini, Warjak sudah memiliki 40 mitra aktif yang tersebar di seluruh Jakarta dan sekitarnya.

Menurut Hendra, angka 40 ini merupakan jumlah mitra yang aktif atau rutin memesan makanan/lauk matang di Warjak. Bila dihitung secara keseluruhan, mitra Warjak sebenarnya sudah mencapai angka 70-an.

Sayangnya, lanjut Hendra, banyak mitra yang hanya mampu bertahan beberapa hari saja karena menganggap bisnis warteg adalah bisnis sederhana yang mudah dilakukan. “Banyak dari mereka menganggap bisnis warteg itu murah dan mudah. Padahal, warteg yang sekarang terlihat sukses dan selalu ramai, bisa jadi dulunya pernah merasakan sulitnya berjualan,” papar Hendra.

Untuk menghadapi mitra yang terdaftar namun tak serius mengelola bisnisnya, kata Hendra, Warjak tak akan lepas tangan begitu saja. Melainkan tetap membantu mempromosikan bisnis si mitra via media sosial Warjak.

Bahkan, lanjutnya, tim survey Warjak akan rutin mendatangi lokasi para mitra untuk mencari tahu penyebab tersendatnya usaha mereka, sekaligus mencari jalan keluar yang tepat untuk meningkatkan kembali penjualannya.

Berfokus di wilayah Jabodetabek, Hendra berharap, para pemilik Warteg yang sudah ada lebih dulu pun bisa bergabung dengan Warjak. “Kami punya mimpi, nantinya warteg-warteg yang sudah ada bisa bergabung dengan kami agar tak perlu lagi bangun terlalu pagi untuk belanja dan masak. Jadi mereka tak perlu buang watu dan tenaga menyiapkan makanan untuk dijual,” ujar Hendra.

SYARAT MENJADI MITRA

Menjadi mitra Warjak ternyata tak sulit dan harga waralaba yang ditawarkan pun terjangkau. Selain memerlukan modal sebesar Rp 10,5 juta, para calon mitra diharapkan memiliki lokasi strategis dan berada wilayah yang legal agar tak ada masalah di kemudian hari, terkait lokasi yang mereka tempati.

Dengan modal tadi, Hendra memaparkan, para mitra sudah bisa mendapatkan berbagai perlengkapan komplet untuk membuka warung nasi, dari etalase, kursi, piring, dan berbagai alat saji. Sementara itu, proses untuk menjadi mitra Warjak juga terbilang cepat dan mudah.

Para calon mitra hanya perlu datang ke kantor pusat Warjak, mendengarkan penjelasan dari tim Warjak, termasuk suka dan duka yang akan dilalui selama berbisnis warung nasi. Jika para calon mitra sudah yakin untuk bergabung dan merasa telah memiliki lokasi strategis, mereka bisa langsung membayarkan modalnya dan siap berjualan.

Andy Joe, staf marketing di Warjak menambahkan, tim Warjak akan melakuan survey lokasi milik calon mitra, untuk memastikan lokasinya layak dijadikan sebagai tempat usaha atau tidak. “Kami tentu harus memastikan, lokasi yang mereka pilih layak untuk berjualan atau tidak. Jangan sampai lokasinya tidak memiliki daya beli,” ujar Andy.

Setelah bergabung dengan Warjak, Andy melanjutkan, tim Warjak berharap para mitra bisa mengelola usaha dengan baik hingga usahanya berkembang. Hal ini juga berkaitan dengan memberikan kepuasan ke para pelanggan agar para mitra secara konsisten menyediakan makanan yang higienis, enak, sehat, berkualitas, tempat yang bersih, namun tetap dijual dengan harga yang ekonomis.

Warjak rutin membuka open house setiap Sabtu di kantor pusat Ruko Malibu, Cengkareng Timur, Jakarta Barat, pukul 10.00-13.00 WIB. Menurut Hendra, open house dilakukan agar calon mitra bisa mengenali Warjak lebih dekat. “Pada saat open house ada test food dan presentasi dari pihak Warjak ke calon mitra.”

STANDAR RASA SELALU TERJAGA

Selain memberlakukan sistem waralaba yang mudah dan cepat, Warjak pun menyediakan lebih dari 70 menu berbeda bagi setiap mitra Warjak agar lebih bebas memilih menu-menu mana saja yang ingin mereka jual di warungnya.

Per harinya Warjak rata-rata menjual 38 menu yang bervariasi agar para pelanggan tak merasa bosan dengan menu yang disediakan di Warjak. Dan untuk menjaga cita rasa serta kualitas makanannya, Warjak memiliki general kitchen sendiri. Hendra menegaskan, dapur pusat ini perlu diadakan guna menjaga standar rasa makanan di setiap mitra Warjak.

Selama ini, Hendra dan tim melakukan rekrutmen tersendiri untuk menentukan tim dapur yang mengolah dan memasak makanan setiap hari di dapur pusat Warjak. Jadi, Warjak tidak bekerja sama dengan pihak lain agar kualitas makanan yang dimasak bisa dikontrol langsung sebelum dijual ke para mitra.

Setiap mitra Warjak juga dibolehkan menentukan harga jual sendiri dari setiap menu yang mereka jual di warungnya. “Standarnya, satu porsi nasi dengan 2-3 jenis lauk harga jualnya Rp 10 ribu hingga Rp 13 ribu. Paling mahal, ya, sekitar Rp 15 ribu lah,” ujar Hendra.

Salah satu mitra Warjak yang berlokasi di Ruko Fankfurt, Gading Serpong, mematok harga Rp 13 ribuRp 22 ribu per porsi nasi dan lauk, tergantung jenis lauknya. Dengan harga jual ini, biasanya para mitra Warjak bisa mendapatkan potensi keuntungan sebanyak 30-40 persen.

Keuntungan tadi dilihat berdasarkan lokasi berjualan dan target pelanggan mereka. Bahkan, jika lokasinya terbilang sangat strategis dan memiliki daya jual tinggi, keuntungannya bisa mencapai 50 persen. Tempat berjualan Warjak yang dibuat senyaman mungkin tentu akan memengaruhi daya jual para mitra.

“Para mitra juga ada yang menjual paket nasi dengan harga di atas harga standar Warjak dan ternyata tetap diminati para pelanggannya, terutama jika lokasinya strategis, tempatnya nyaman, bersih, dan targetnya sesuai. Hal ini tentu berkaitan dengan karakteristik setiap mitra dan strategi penjualan yang mereka lakukan,” pungkas Hendra.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.