Pemutihan Karang Masal di Indonesia: Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Scuba Diver (Indonesian) - - REPORT: CORAL BLEACHING -

Selama beberapa bulan terakhir ini kita dihadapkan pada fenomena pemutihan karang masal ketiga ( mass coral bleaching) yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Coral Bleaching Indonesia, sebaran area pemutihan karang hampir merata di seluruh perairan Indonesia, mulai dari ujung Pulau Weh di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Maluku hingga Raja Ampat di Papua Barat. Persentase besaran tutupan pemutihan karang bervariasi mulai dari 25% hingga 75%, bahkan di beberapa lokasi seperti Mandeh (Sumatera Barat), Solor (NTT), Muncar (Jawa Timur) dan Nusa Dua (Bali) pemutihan karang melebihi 75%.

Menurut pakar terumbu karang UNHAS, Prof.Dr.Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., bila dilihat dari luasan dan persentase pemutihan karang yang terjadi di Indonesia saat ini sudah dalam taraf sangat mengkhawatirkan. “Sebagai pusat keanekaragaman hayati karang dunia, kejadian pemutihan karang ini sudah sepatutnya mendapat perhatian serius dari semua pihak. Bandingkan dengan Great Barrier Reef yang jumlah karangnya tidak sebesar Indonesia namun mendapat perhatian dunia yang begitu besar. Bagaimana dengan Indonesia?” ungkapnya. Dikatakannya bahwa pemutihan karang yang apabila tidak pulih akan menjadi hamparan karang mati dan tentu saja akan mengancam industri pariwisata bahari yang mengandalkan keindahan terumbu karang dan juga perikanan Indonesia. “Kita akan mengalami kerugian besar karena kehilangan terumbu karang. Karena itu sudah saatnya kita mengambil tindakan nyata untuk mengatasi pemutihan karang saat ini dan di masa yang akan datang,” katanya.

Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang akan mengurangi pelayanan dan jasa yang diberikan terumbu karang kepada manusia. Kerugian ekonomi dari terdegradasinya the Great Barrier Reef di Australia dalam skenario kenaikan suhu akibat pemanasan global telah diestimasi mencapai sedikitnya US$2,5-6 miliar dalam 19 tahun (WWF, 2004). Di Asia Tenggara sendiri, apabila terjadi pemutihan karang yang sangat parah dalam 50 tahun ke depan, nilai jasa dan produk yang hilang dari perikanan, pariwisata, dan kerusakan keanekaragaman dapat mencapai US$38,3 miliar (Cesar et all, 2003).

Meningkatnya suhu permukaan air laut diketahui sebagai penyebab utama pemutihan karang skala luas. Pemutihan karang terjadi pada saat karang (keras dan lunak) dan hewanhewan laut lain yang bersimbiosis dengan alga simbiotik yang disebut zooxanthellae kehilangan zooxanthellae- nya karena suatu tekanan/ stress tertentu. Hilangnya alga simbiotik yang banyak sekali hidup di jaringan karang, atau hilangnya pigmen warna yang memberikan warna pada karang inilah yang menyebabkan pemutihan pada karang.

Keadaan pemutihan yang terlalu lama (lebih dari 10 minggu), dapat menyebabkan kematian polip karang tersebut. Karang dapat hidup dalam batas toleransi suhu berkisar dari 20 sampai 30 derajat celcius. Suhu kritis yang dapat menyebabkan karang memutih tergantung dari penyesuaian karang tersebut terhadap suhu air laut rata-rata di daerah di mana ia hidup. Dengan kecenderungan suhu bumi yang terus meningkat karena pemanasan global, kejadian pemutihan karang skala luas diperkirakan akan terjadi semakin sering dan intensitas yang meningkat. Apabila kenaikan suhu ini dibandingkan dengan batas toleransi karang terhadap pemutihan dalam 100 tahun terakhir, maka pada tahun 2020, diprediksi bahwa pemutihan karang akan terjadi setiap tahun (Hoegh-Guldberg, 1999).

Sebagaimana diketahui, pada bulan Oktober 2015, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Coral Reef Watch mendeklarasikan akan terjadinya global coral bleaching ketiga yang disebabkan perubahan iklim dan El Niño pada akhir tahun 2015 hingga pertengahan tahun 2016. Satelit NOAA telah mengeluarkan Weekly Coral Bleaching Thermal Stress Outlook (berdasarkan Climate Forecast System) yang menggambarkan prediksi lokasi geografi yang akan dilalui pergerakan suhu panas permukaan laut yang tersebar dari Lautan Karibia, Samudera Pasifik hingga Samudera Hindia. Berdasarkan laporan NOAA Coral Reef Watch diperkirakan 60% terumbu karang di seluruh dunia mengalami thermasl stress pada bulan Maret-Juni 2016. Perairan Indonesia termasuk di dalamnya di mana sejumlah daerah perlu dipantau berdasarkan 5 kategori level peringatan, yaitu tidak terjadi bleaching, pemantauan bleaching, peringatan bleaching, siaga 1 bleaching dan siaga level 2 bleaching.

Data National Ocean Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan suhu air laut di sebagian wilayah Indonesia akan meningkat di atas rata-rata hingga pertengahan 2016.

Faktor Ketahanan dan Kepentingan Terumbu Karang

Berdasarkan pada beberapa studi pustaka dan pengumpulan data pengamatan secara sistematik dari para peneliti di lapangan, terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan ( resistance) dan kepentingan terumbu karang terhadap pemutihan (West and Salm 2003). Faktor-faktor ini adalah:

• Faktor yang menurunkan suhu (misalkan upwelling lokal, dan jarak yang dekat ke kolom laut yang dalam)

• Faktor yang meningkatkan pergerakan air dan menghanyutkan zat-zat kimia yang berbahaya (seperti selat yang sempit, arus kencang, channel, dll)

• Faktor yang mengurangi tingkat keterdedahan terhadap radiasi cahaya (seperti bayangan dari pegunungan di atas hamparan karang, kekeruhan air, dll)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.