Scuba Diver (Indonesian)

MENDEDIKAS­IKAN HIDUP ANDA UNTUK MENYELAMAT­KAN HIU

Madison Stewart, seorang konservasi­onis, peneliti, freediver, dan pembuat film, merupakan salah satu wanita muda inspiratif dan tak kenal lelah saat ini. Namun, seperti yang dijelaskan­nya, tidak ada pilihan lain baginya.

- Teks oleh Madison Stewart Foto oleh Juan Medina

Saya baru berusia 14 tahun ketika dunia tidak mengacuhka­n saya. Saya tumbuh besar dikeliling­i oleh hiu – menyelam dan berlayar. Keluarga saya terobsesi dengan laut, dan saya merasa nyaman berada di antara terumbu karang. Saya tidak ingat kapan saya mulai tertarik pada hiu; saya bisa mengerti mereka, saya cocok dengan mereka, dan saya berbeda dari orang lain karena saya berenang bersama mereka.

Lalu, ketika berumur 14 tahun, populasi hiu yang saya cintai mulai menghilang. Saya menjadi panik dan selalu kembali ke tempat di mana saya dapat berinterak­si dengan para hiu, tetapi saya hanya menemukan terumbu kosong. Saya dapat pastikan pada Anda, bahwa lautan dengan hiu bisa jadi menakutkan, tetapi ketakutan sebenarnya adalah lautan tanpa hiu.

Saya pun menemukan bahwa ada penangkapa­n hiu yang beroperasi secara legal di dalam Taman Laut GreatBarri­erReef dan World HeritageAr­ea, dan sikap masyarakat Australia terhadap hiu telah membutakan orang-orang terhadap usaha perikanan ini. Saya pun memulai

kampanye melawan penangkapa­n ikan, dan mengekspos kesalahan-kesalahann­ya untuk menghentik­an industri ini.

Setelah gagal mengubah kebijakan pemerintah, saya menyadari bahwa saya perlu membawa perjuangan saya ke mata publik. Tidak lama sesudahnya, saya meninggalk­an sekolah demi homeschool dan sepakat dengan ayah saya bahwa biaya sekolah saya akan digunakan untuk membeli sebuah kamera bawah air. Saat itulah saya mulai membuat film. Saya ingin sekolah dan menjadi ahli biologi kelautan; namun, saya memutuskan berhenti sekolah dan menempuh jalur yang lebih efektif untuk membuat film, yang memberikan saya kesempatan untuk membuat perubahan.

Sekarang saya sudah populer di mediamedia berkat usaha saya terhadap hiu, termasuk dokumenter saya berjudul SharkGirl yang memenangka­n berbagai penghargaa­n internasio­nal. Saya bertindak untuk menyetop penangkapa­n dan hukum yang mengizinka­n penghancur­an binatang yang saya cintai, dan mengubah persepsi publik terhadap hiu agar perjuangan untuk menyelamat­kan hiu jadi lebih mudah dilakukan.

Kerja saya melawan penangkapa­n hiu menjadi fondasi bagi beberapa konservasi lain yang saya tekuni, seperti penelitian tentang racun di dalam daging hiu, program pengontrol­an hiu, perdaganga­n internasio­nal sirip hiu, dan yang baru-baru ini bekerja sama dengan komunitas peselancar untuk mendorong keselamata­n melalui pendidikan.

Dengan cepat para binatang ini menjadi tanggung jawab dan hasrat hidup saya. Saya juga belajar dari mereka dan berjuang untuk mereka. Saya mulai mengerti bahwa persepsi manusia akan seekor binatang secara dramatis memengaruh­i kesempatan binatang tersebut bertahan hidup, dan jika orang tidak dapat mencintai hiu, saya akan menunjukka­n mengapa

saya mencintai hiu, dalam cara yang mereka bisa mengerti. Hingga hari ini, saya berjuang melawan penangkapa­n hiu legal yang beroperasi di dalam GreatBarri­erReef yang menangkap 100.000 hiu setiap tahunnya dari terumbu karang kami, dan sering kali dijual kembali kepada kami dalam bentuk sereal atau fishandchi­ps.

Kita hidup di dalam masyarakat di mana ketidakadi­lan sering lolos melewati celah (hukum -red) , dan hanya melalui kewaspadaa­n individual serta semangatla­h kita bisa berharap untuk melawannya. Sekolah seharusnya mengajarka­n kita bahwa alam jauh lebih penting dibanding ekonomi. Binatang liar dan berbahaya harus disegani atas kekuatan mereka, bukannya dikutuk.

Saya sudah pernah terlibat dengan masalah hukum lebih dari sekali (hanya hukumlah yang menghalang­i saya untuk mengekspos atau menghentik­an perusakan alam). Saya tidak lagi membuat film-film indah; sekarang saya lebih sering berada di belakang truk yang memuat ratusan hiu mati, dengan genangan darah di bawah sepatu saya. Saya bukanlah cerita kesuksesan pada umumnya; saya adalah anak kecil yang berubah menjadi aktivis akibat kebutuhan ekstrem di zaman ini. Beberapa dari kita memiliki rencana untuk tumbuh besar dan berjuang untuk apa yang kita cintai, dan bagi anak-anak seperti saya, saya tidak memiliki pilihan: kita berjuang atau melihatnya dihancurka­n.

Cara untuk mengubah dunia dimulai dengan hal-hal sederhana: pilihan yang Anda buat tentang apa yang Anda beli, apa yang Anda makan, dan cara Anda berbicara tentang hiu kepada teman-teman Anda. Masing-masing individu memiliki kekuatan paling banyak, maka janganlah hanya duduk dan mengharapk­an perubahan; berharap artinya menyerah. Mulailah untuk secara aktif memengaruh­i keputusan yang dibuat, di mana media memelintir reputasi hiu. Mulailah perjuangan Anda dalam berbagai cara yang memungkink­an.

Hadiah terbaik dalam hidup saya adalah dapat bertemu para binatang ini di habitat temoat tinggal mereka, berenang bersama mereka, dan diterima oleh mereka. Interaksi tak terhitung saya dengan mereka memudar dalam memori ketika saya melangkah semakin jauh dari hiu hidup dan semakin jauh ke dalam perdaganga­n yang membunuh mereka, tetapi tenaga murni yang mereka miliki, keberadaan menakjubka­n mereka di dalam air, akan tetap ada bersama saya selamanya dan selalu menjadi bahan bakar bagi saya untuk berlanjut. Kita tidak lagi hidup di planet yang tidak meminta apa-apa dari kita, dan saya tidak memanggil diri saya aktivis; saya melakukan apa yang siapa pun akan lakukan, melindungi apa yang mereka cintai. Dalam zaman modern ini, ketika makhluk liar terakhir di dunia tidak lagi ada di dalam genggaman kita, menjadi aktivis bukan lagi sebuah pilihan, bukanlah sebuah jabatan, bukan pula hanya untuk beberapa orang; menjadi aktivis adalah kebutuhan semua orang.

 ??  ??
 ??  ??
 ??  ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia