HALLMARK PETUALANGAN

Scuba Diver (Indonesian) - - WOMEN IN DIVING - Teks & foto oleh Michele Hall

Perjalanan Michele Hall menjadi bagian dari duet perintis pembuat film bawah air dunia tidaklah disangka: terinspirasi oleh cintanya akan lautan, akan petualangan, dan akan pria yang menjadi kreativitasnya serta pasangan hidupnya.

Membuat film sejarah alam bukanlah sekadar pekerjaan. Membuat film ini menentukan tujuan Anda, mengkarakterisasikan ambisi Anda, dan menjadi cara hidup Anda. Saya sering ditanya bagaimana saja terlibat di dalam bisnis ini. Ini adalah karier yang tak seorang pun (terutama saya!) bayangkan, apalagi diperkirakan untuk masa depan saya.

Saya terlahir sebagai gadis kota dengan orangtua yang berasal dari kota. Pengertian saya tentang petualangan di luar adalah jalan-jalan di sebuah taman kota pada hari Minggu atau mandi sinar matahari di kolam renang sebuah hotel. Ketika saya masih kecil, kami tidak pergi ke taman nasional, dan hanya sekali bepergian keluar benua Amerika dalam perjalanan pendek ke Bahama.

Menjadi suster adalah satu-satunya pekerjaan yang saya inginkan. Ketika bersekolah di akademi perawat, saya akan tertawa apabila ada yang mengatakan kalau saya akan memiliki karier kedua 20 tahun kemudian sebagai pembuat film bawah air; saya akan menganggap ide tersebut menakutkan.

Beberapa tahun setelah lulus dan pindah dari Kansas City, Missouri, ke San Diego, California, saya berpacaran dengan seorang dokter yang keranjingan scubadiving. Ini membuat saya termotivasi untuk ikut serta, sebuah tindakan yang nekat bagi saya waktu itu, dan di bulan Mei 1975 saya menjadi penyelam bersertifikat.

KISAH ASMARA SEUMUR HIDUP

Dengan segera saya terbenam di Samudra Pasifik, terpesona dengan dunia baru yang saya temukan di lautan. Saya telah jatuh cinta. Pertama dengan lautan dan isinya, dan nantinya dengan instruktur saya, Howard Hall. Saya yakin orangtua saya ngeri begitu mengetahui hati saya telah mengambang jauh dari seorang dokter dan calon ahli bedah menjadi seorang instruktur selam! Pada akhirnya, Howard menjadi pemandu alam liar saya.

Ketika kami pertama bertemu, Howard bekerja penuh waktu di sebuah toko selam dan mengajarkan menyelam, tetapi ia tahu bahwa ia menginginkan lebih. Pencarian kariernya dalam menyelam mendorongnya untuk meninggalkan tombak ikan dan mempelajari fotografi bawah air. Ia mulai menggunakan keterampilan menombak ikannya untuk mengejar ikan, paus, dan makhluk laut lainnya demi fotografi. Hobinya dalam mengobservasi dan memahami perilaku satwa liar terbayar saat ia mulai memotret halhal yang tidak lazim. Pada tahun 1976, Howard telah mengembangkan reputasinya dalam memotret hiu, yang membuatnya dipekerjakan sebagai “penasihat hiu” untuk film TheDeep. Penugasan ini memberikannya modal keuangan yang cukup untuk memiliki sebuah kamera film bawah air. Dengan segera ia mendapat pemasukan yang cukup dengan menjual fotofoto still bawah air yang dipotretnya. Setelah memperoleh keterampilan sebagai juru kamera bawah air, pada tahun 1978 ia pun berkembang penugasannya , meninggalkan pekerjaannya sebagai instruktur scuba, dan slogan “Have Camera,WillTravel (Punya Kamera, Siap Pergi)” pun menjadi acuannya.

Saya mengikuti ekspedisi pembuatan film bawah air pertama saya dengan Howard pada Agustus 1980. Saat itu ia memproduksi film pertamanya tentang hiu martil yang (dulunya) bergerombol dalam jumlah besar di Gunung Laut Marisla di Laut Cortez, Baja, California. Juru kamera bawah air Stan Waterman dan penulis Peter Benchley turut serta sebagai host acara tersebut. Pada ekspedisi ini saya mendapatkan pengalaman yang mengubah hidup saya selamanya.

Saya telah jatuh cinta. Pertama dengan lautan dan isinya, dan nantinya dengan instruktur saya, Howard Hall

RAY OF CHANGE

Sekembalinya dari sebuah penyelaman, saya melihat seekor pari manta Pasifik yang luar biasa besar membumbung di atas gunung laut; sayapnya terentang lebih dari lima meter dari ujung ke ujung dengan jaring ikan terbelit di salah satu cephalic fin-nya. Saya melihat manta tersebut terus terbang, tetapi lalu berputar ke arah saya dan berhenti di bawah saya. Saya tidak percaya, tetapi tidak diragukan lagi tujuan manta tersebut. Saya duduk di punggungnya dan dengan sukses melepaskan jaring ikan yang membelit.

Apakah raksasa ini mengira bahwa saya adalah Androcles atau apalah, saya tidak akan pernah tahu. Namun, manta ini membawa saya dalam “pengendaraan” seumur hidup saya. Kami mengitari gunung laut, dan pengertian saya akan waktu pun hilang karena rasanya kami bergerak sangat lambat. Atau mungkin saya mengharapkan demikian: saya tidak ingin pengalaman ini berakhir. Pada satu titik kami meluncur melewati Howard, Stan, dan Peter saat mereka kembali dari menyelam. Belakangan Howard memberi tahu saya bahwa begitu melihat saya duduk di atas punggung manta tersebut, ia berhenti di dalam air, mengagumi dalam ketidakpercayaan saat manta tersebut membawa saya, dan berpikir bahwa ia tidak akan pernah melihat saya lagi!

Ketika saya melihat bahwa gelembung napas saya terseret di belakang dibanding mengambang ke permukaan, saya menyadari betapa cepat kami bergerak. Saat saya merasa perlu untuk menyeimbangkan tekanan di telinga, saya tahu kami mulai berenang semakin dalam. Namun, saya sedang mengendarai “karpet ajaib” saya sendiri, dan saya siap dibawa pergi. Ketika saya mengecek alat pengukur tekanan udara dan kedalaman, pikiran sehat saya kembali. Saya tahu saya harus berenang ke atas menuju kapal.

Jika manta ini membawa saya terlalu jauh, mustahil bagi saya untuk berenang kembali. Dalam cahaya sore yang mulai temaram, kru kapal akan mengalami kesusahan untuk melihat saya. Namun, ketika saya mulai khawatir, saya menyadari bahwa kami ada di belakang tali jangkar kapal. Manta tersebut membawa saya memutar dan menurunkan saya di tempat di mana kami memulai!

Susah untuk menjelaskan apa yang saya rasakan saat itu. Kekaguman, kepercayaan, kegembiraan, dan kedamaian--kata-kata ini tidaklah memadai.

Selama beberapa hari setelah saya menyingkirkan jaring ikan dari manta tersebut, Kakek (begitu kami menjulukinya) kembali ke gunung laut. Sebelum perjalanan tersebut berakhir, ia membawa masing-masing dari kami “berkendara”, dan Howard menambahkan segmen pari manta ke jalan cerita filmnya. Kakek dan saya juga telah menginspirasi sebuah cerita baru bagi Peter, yang menjadi novelnya, TheGirl oftheSeaofCortez.

Lebih dari 10 tahun berlalu sebelum saya menjadikan bertualang sebagai karier baru saya. Namun, sudah jelas bahwa sejak saya duduk di punggung Kakek, hidup saya pun berubah. Ketika saya mengingat diri saya yang dulu, besar

di perkotaan, dan rencana hidup yang relatif sederhana bagi masa depan saya, susah untuk dibayangkan ke mana hidup telah membawa saya.

MENGINDAHKAN PANGGILAN

Howard dan saya menikah pada tahun 1981. Pada tahun 1991, saya meninggalkan kenyamanan karier perawat saya setelah 19 tahun lamanya dan–juga secara harfiah–menyelam ke dalam kehidupan produksi film sejarah alam yang sulit diprediksi.

Tujuh bulan kemudian saya mengikuti ekspedisi pertama saya sebagai pembuat film sejarah alam penuh waktu. Saya adalah Produser Pendamping untuk “ShadowsinaDesertSea”, sebuah episode dari serial PBS Nature tentang kehidupan satwa laut di Laut Cortez. Howard adalah produser serta sinematografer utamanya.

Saya ingat terbaring di bunk saya pada satu malam, membaca TheWindintheWillows oleh Kenneth Grahame. Saya membaca bagian yang Stan Waterman sering kutip dari novel klasik anak-anak ini. “Sambut petualangannya, indahkan panggilannya, sekaranglah masa di mana waktu yang tidak dapat ditarik kembali berlalu! (Yang perlu kau lakukan) hanyalah menutup pintu di belakangmu, melangkah ke depan dengan riang, dan kau pun meninggalkan kehidupan lama untuk kehidupan baru!” Bagian ini menarik perhatian saya saat mengidentifikasinya dan menyadari bahwa bagian ini dengan tepat merefleksikan bagaimana hidup saya telah berubah semenjak mengubah karier.

Bahkan, setelah bertahun-tahun lamanya, saya masih mencintai karier kedua saya. Saya cinta berbagi keajaiban lautan dengan mereka yang menonton film-film kami. Dan karier saya seru – paling tidak sebagian besar waktu ketika angin dan lautan tidak mengamuk. Saya telah belajar bahwa terkadang memori yang indah harus dibayar dengan ketidaknyamanan. Tidak peduli di mana pun saya berada, saya mencoba untuk selalu siap untuk yang tak terduga dan menikmati petualangannya!

Pada tahun 1992/93, saya memproduksi dan menyutradarai NationalGeographic“Special JewelsoftheCaribbean”, dan nantinya serial televisi PBS “SecretsoftheOceanRealm”. Pada tahun 1994, film 3D IMAX bawah air pertama, Into the Deep, dibuat, di mana saya bertindak sebagai Manajer Lokasi dan Howard sebagai Sutradara. Pada tahun 1998, saya memproduksi dan Howard menyutradarai film IMAX IslandoftheSharks, diikuti dengan on-camera untuk CoralReef Adventure oleh MacGillivrayFreemanFilms. Saat kami masih tertatih-tatih dalam produksi televisi, pada tahun 2002 saya benar-benar tenggelam dalam memproduksi film-film 3D IMAX: DeepSea 3D pada tahun 2006 dan UndertheSea 3D pada tahun 2009. Saya juga bekerja dengan produser lain sebagai Manajer Lokasi untuk tiga film 3D IMAX lainnya.

Baru-baru ini kami fokus bepergian untuk menyelam dan merekam cuplikan untuk pustaka stok cuplikan kami. Namun, saya belum meninggalkan kecintaan saya terhadap fotografi still, dan fokus saya ada terhadap perilaku binatang. Howard pun mengasah keterampilannya yang unggul dalam memotret.

Dengan ini, berikut adalah beberapa foto bawah air favorit saya yang saya potret beberapa tahun belakangan ini.

Ketika saya mengingat diri saya yang dulu, besar di perkotaan, dan rencana hidup yang relatif sederhana bagi masa depan saya, susah untuk dibayangkan ke mana hidup telah membawa saya

Searah jarum jam dari kiri atas: Howard dan kamera 3D IMAX di Carolina Utara semasa pembuatan Deep Sea 3D; sotong raksasa sibuk dalam pameran mating, Australia Selatan; udang sawtooth pada sebuah terumbu whip, dengan seekor udang karang mungil...

Michele mengkreditkan seekor pari manta untuk mengubah hidupnya selamanya, ketika ia “diminta” untuk melepaskan jaring ikan yang membelit cephalicfin- nya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.