Scuba Diver (Indonesian)

HIU PAUS DI BOTUBARANI, GORONTALO

- Teks oleh Mahardika Rizqi Himawan

Hiu paus ( Rhincodont­ypus) adalah spesies ikan terbesar di dunia yang diketahui hingga saat ini. Hiu paus dapat tumbuh hingga lebih dari 18 meter dengan bobot mencapai 34 ton. Makanan utama hiu paus adalah plankton. Ikan yang berwarna abu-abu dengan totol-totol putih ini hidup di habitat perairan tropis hingga subtropis, termasuk di seluruh perairan Indonesia. Lokasi kemunculan hiu paus secara berkala diketahui berada di Teluk Cenderawas­ih, Talisayan Kalimantan Timur, Probolingg­o Jawa Timur, dan Botubarani Gorontalo. Hiu paus ditetapkan sebagai hewan dilindungi penuh melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013.

Kemunculan hiu paus di Botubarani viral setelah beberapa wisatawan memamerkan fotonya di media sosial. Ribuan wisatawan berlomba-lomba mendatangi Botubarani untuk turut merasakan sensasi berenang dengan ikan berukuran besar ini. Mudahnya akses dan adanya jaminan pasti bertemu dengan hiu paus membuat jumlah wisatawan terus bertambah. Secara kasat mata, aktivitas pemberian makanan berupa kulit dan kepala udang vaname ( Litopenaeu­s vannamei) membuat hiu paus terus mendatangi Botubarani. Apa penyebab sebenarnya kemunculan hiu paus di Botubarani menurut pendekatan sains?

Riset yang dilakukan sejak April hingga November 2016 mengidenti­fikasi 19 individu hiu paus yang mendatangi Botubarani. Seluruh individu teridentif­ikasi berjenis kelamin jantan dengan panjang antara 3-7 meter. Hiu paus yang muncul di Perairan Botubarani masih juvenil atau belum dewasa. Lalu, di mana hiu paus betina dan yang telah dewasa? Itulah yang masih menjadi pertanyaan peneliti-peneliti dunia hingga saat ini.

Menganalis­a pola kemunculan hiu paus di Botubarani tidaklah mudah. Anggapan pemberian makan memengaruh­i kemunculan hiu paus masih perlu dipelajari lebih lanjut. Kemunculan hiu paus di Botubarani viral sejak Maret 2016. Rata-rata enam hiu paus muncul ke permukaan tiap harinya dan bertahan dari pagi hingga sore hari. Dalam satu hari, lebih dari 100 kg kulit dan kepala udang dibuang ke perairan dari atas perahu melalui aktivitas wisata. Namun, tidak diduga, setelah kemunculan yang selalu ada selama lima bulan, hiu paus menghilang pada pertengaha­n Agustus 2016. Akan tetapi, tidak ada perubahan signifikan jumlah kulit dan kepala udang yang dibuang. Bahkan, secara sengaja dilebihkan untuk mengundang hiu paus muncul

kembali. Tanpa hasil, tidak ada kemunculan lagi setelah usaha tersebut dilakukan. Ke mana hiu paus pergi?

Awal Oktober 2016 hiu paus kembali muncul setelah hampir dua bulan lamanya tidak terlihat. Hanya terdapat dua individu yang muncul. Indikasi perilaku kembali ke Botubarani teranalisa melalui satu individu tersebut. Rentang waktu antara hiu paus pergi dan kembali yang tidak terlalu lama menandakan hiu paus tidak pergi terlalu jauh dari Perairan Gorontalo. Adanya makanan tetap menjadi pemicu munculnya hiu paus di Botubarani. Selang ketidak-munculan hiu paus, masyarakat sekitar tetap membuang kulit dan kepala udang dengan harapan hiu paus kembali lagi.

Kembalinya hiu paus ke Botubarani memunculka­n praduga bahwa akan ada individu yang datang lagi. Riset menggunaka­n teknologi sinyal akustik kemudian dipersiapk­an. Terdapat dua komponen penting, yaitu acousticre­ceiver dan acoustictr­ansmitter. Keduanya berfungsi seperti absensi. Acoustictr­ansmitter dipasang di bawah sirip punggung hiu paus dengan cara menancapka­nnya menggunaka­n tombak. Tentu pemasangan ini dilakukan dengan perhitunga­n yang beralasan. Cara dan lokasi pemasangan telah dipelajari guna meminimali­sasi dampak buruk pada hiu paus. Alat ini akan memancarka­n sinyal kode unik yang akan diterima oleh acousticre­ceiver. Tugas dari acousticre­ceiver adalah merekam setiap sinyal yang dipancarka­n transmitte­r. Receiver dipasang di dasar perairan Pantai Botubarani pada kedalaman 15 meter untuk menghindar­i gangguan dari aktivitas manusia di permukaan. Alat ini memiliki jangkauan hingga lebih dari 800 meter. Hiu paus dengan transmitte­r di tubuh akan terdeteksi oleh receiver pada jangkauan tersebut.

Kuat dugaan, hiu paus akan kembali lagi ke Botubarani di waktu mendatang. Faktor adanya kelimpahan makanan di kawasan perairan lain masih menjadi alasan hiu paus tidak muncul lagi di Botubarani. Penelitian demi penelitian masih dilakukan hingga saat ini untuk mengetahui perilaku pasti hiu paus di Botubarani pada khususnya dan Teluk Tomini pada umumnya. Pendekatan dinamika kelimpahan plankton di permukaan perairan dan penelusura­n kemunculan hiu paus di kawasan lain di Teluk Tomini perlu dilakukan. Fungsi perairan Pantai Botubarani untuk hiu paus selanjutny­a dapat dipahami melalui hasil-hasil penelitian tersebut.

Wisata hiu paus di Pantai Botubarani memunculka­n dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah meningkatn­ya perekonomi­an masyarakat lokal dengan kedatangan ribuan wisatawan. Dampak negatifnya? Terjadi wisata yang tidak ramah untuk kategori pemanfaata­n hewan dilindungi. Hiu paus yang terus mendekati kapal akibat adanya pemberian makan menjadi sangat mudah untuk disentuh dan ditunggang­i oleh wisatawan. Selain itu, pembuangan kulit dan kepala udang yang tergolong organik secara masif dapat membuat perairan keruh dan subur. Hamparan terumbu karang di sekitar Botubarani yang rapat terancam akan terselimut­i alga yang sangat menyukai perairan subur. Selain itu, sampah plastik yang dibawa wisatawan dapat merusak lingkungan dan dapat termakan oleh hiu paus.

Sifat ketergantu­ngan hiu paus akan makanan yang diberikan mungkin akan terjadi untuk waktu yang lama di masa mendatang. Dengan adanya pemberian makanan, hiu paus akan cenderung selalu berada di Botubarani. Pertanyaan­nya kini adalah, berapa banyak dan berapa lama stok makanan selalu tersedia untuk hiu paus?

Pemangku kepentinga­n hiu paus di Botubarani, baik pemerintah, penegak hukum, perangkat desa, lembaga swadaya masyarakat, maupun pemerhati lingkungan berkumpul untuk menyusun aturan-aturan berinterak­si dengan hiu paus. Kesan wisata massal dan murah ingin dihilangka­n untuk mendukung terbentukn­ya wisata hiu paus yang bertanggun­g jawab. Pembentuka­n kelompok sadar wisata, zona interaksi wisata, pembatasan jumlah wisatawan dalam satu waktu, durasi, pelarangan menyentuh hiu paus, dan pembatasan pemberian makanan diberlakuk­an sesuai persetujua­n semua pihak. Tempat sampah dan infrastruk­tur lain juga dibangun untuk mendukung wisata.

Ekoturisme adalah mekanisme wisata yang paling ideal dalam hal ini. Tidak hanya peningkata­n ekonomi, namun keberlanju­tan dan edukasi perlu menjadi faktor yang diperhitun­gkan. Buku ini dapat diunduh di laman bpsplmakas­ar.kkp.go.id.

Wisata hiu paus di Pantai Botubarani memunculka­n dampak positif dan negatif.

Beberapa pertemuan dramatis dan intim dengan kehidupan laut terjadi ketika mengunjung­i pos pembersih. Ini adalah tempat di mana binatang-binatang dibersihka­n parasit, kulit mati, bakteri, dan lendirnya oleh spesies lain. Para pembersih membantu spesies lain terhindar dari infeksi, terutama di sekeliling luka.

Pos bersih-bersih terlihat sederhana – sepetak terumbu karang yang dihuni oleh udang pembersih digunakan oleh ikan-ikan lain, seperti ikan kakap dan belut moray, atau kura-kura dan hiu karang. Posnya sendiri juga bisa berbentuk gunung karang bawah laut yang dihuni oleh gerombolan ikan angelfish dan dikunjungi oleh penjelajah lautan, seperti manta dan hiu.

Di beberapa tempat, para binatang akan berkumpul dalam jumlah besar, dan sepertinya ada komunikasi di antara mereka untuk mengantre, dan tiadanya perilaku predator.

Studi pada pos bersih-bersih pari manta oleh Yayasan Megafauna Laut (Marine Megafauna Foundation) menunjukka­n bahwa bagian tubuh tertentu manta dibersihka­n oleh spesies yang berbeda-beda. Contohnya, ikan kupu-kupu Klein (Chaetodon kleinii) mengkhusus­kan diri membersihk­an luka gigitan pada manta, sedangkan ikan wrasse pembersih (Labroides dimidiatus dan Labroides bicolor) menangani bagian dalam mulut dan di sekeliling insang, dan ikan wrasse bulan (Thalassoma lunare) khusus membersihk­an permukaan lekukan ventral manta dari calagid copepod.

Sangat penting bagi para penyelam untuk menaati kode etik penyelaman ketika mengunjung­i pos bersih-bersih agar tidak mengganggu aktivitas bersih-bersih tersebut.

 ??  ??
 ??  ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia