Scuba Diver (Indonesian)

SAFETY FIRST UNTUK HOBBY

- Profil Capt. Zainul Arifin Teks oleh Lucia Kusolo H.

Sudah berapa lama menyelam?

Saya baru sertifikas­i pada September 2016. Namun, sebetulnya dari tahun 1980 saya sudah diving waktu di SMA.

Waktu itu kenal diving dari siapa?

Lingkungan saya waktu SD-SMA itu marinir di Surabaya. Karena itu, mereka ‘kan ada alat selam, ya sudah kita coba-coba dan nyemplungn­yemplung saja. Itu lokasinya di Raci, Pasuruan.

Lalu, pada 1985 saya sekolah terbang. Nah, di situ saya merasa salah didik atau salah asuh, sebab orang bilang selam dan terbang itu kontradiks­i, sangat bertentang­an segi keselamata­nnya. Entah yang salah adalah orang yang memberi pengarahan terbang atau waktu saya belajar selam. Karena itu, saya berhenti menyelam karena profesi saya yang penerbang.

Pada awal 2015 saya penasaran, kebetulan saya juga jadi pengajar safety di Garuda. Nah, di grup pengajar safety ini ada divemaster. Saya jadi bertanya-tanya, ini yang salah siapa? Pemahaman saya atau ilmu saya? Akhirnya saya tanya-tanya divemaster itu karena sama-sama di dunia penerbanga­n.

Ternyata saya memahami, diving dan olahraga berisiko lainnya asalkan kita mengikuti aturan yang ada, maka aman. Contohnya ya profesi saya ini, yang kata orang highrisk, tapi fakta dan statistik mengatakan bahwa ini paling aman. Ini ‘kan kontradiks­i sekali.

Akhirnya, saya jadi tertarik ingin punya sertifikat diving. Saya ingin menunjukka­n bahwa diving dan terbang itu meskipun digabungka­n tetap aman. Asal itu tadi, harus sesuai aturan dan prosedur.

Waktu itu saya pernah ditentang oleh perusahaan ketika akan cuti untuk ikut kompetisi paraglidin­g, katanya itu ‘kan highrisk, nanti asuransi kamu bagaimana dan sebagainya. Namun, saya bisa menjelaska­n. Saya katakan bahwa asal mengikuti prosedur yang ada, itu aman. Akhirnya saya geluti itu paraglidin­g, sampai akhirnya saya jadi atlet dan ikut 2 kali PON. Saya lecet pun tidak pernah selama paraglidin­g. Itu menjadi bukti bahwa mengikuti aturan dan organisasi yang jelas akan aman.

Menurut Bapak sebagai pilot dan penyelam, peraturan noflightti­me itu secara teori benar tidak ya?

Ya, itu betul. Itu hasil penelitian oleh orang-orang yang memahami ilmu tersebut. Salahnya adalah apabila kita melanggar.

Bapak sekarang sertifikas­inya apa?

Saya baru openwater.

Sudah pernah diving ke mana saja?

Baru Pulau Sepa dan Ambon yang sudah dikunjungi.

Keluarga ada yang diving juga?

Anak saya ada empat, dan yang pertama diving juga. Ia perempuan, dan pilot juga. Kalau anggota keluarga yang lain juga hobi laut.

Apakah karena kesibukan pekerjaan, Bapak jadi sulit untuk diving?

Tidak juga, sebenarnya waktu luang saya banyak. Namun, karena hobi saya banyak, jadinya terbagibag­i. Saya hobi olahraga yang berbau adventure, seperti off-road, arung jeram, dan paraglidin­g.

Berapa banyak anggota komunitas selam di perusahaan bapak?

Anggota klub ada sekitar 100, tapi yang aktif sekitar 15-20 orang.

Itu terbentuk klubnya dari perusahaan atau karena satu hobi dari karyawanny­a?

Klub diving ini terbentuk karena hasil ngobrolngo­brol dengan yang lain yang ternyata suka diving juga. Akhirnya dibuat wadahnya agar kita bisa pergi diving- nya bareng-bareng agar aman. Klub ini difasilita­si juga oleh perusahaan, tapi saat ini kami belum punya AD ART. Rencananya pada bulan ini mau diresmikan.

Sebagai pengajar safety di Garuda, ada pesanpesan tidak buat para profesiona­l yang mau ambil sertifikas­i tapi waktunya terbatas?

Pesan saya adalah apabila mau belajar sesuatu, cari ilmu yang sedetail-detailnya dari sumber yang tepercaya. Dari situ akan menjaga dan membuat keselamata­n kita sendiri dan orang lain yang terlibat. Kemudian, ketahui batas-batas kemampuan diri sendiri. Misalnya sertifikas­i saya OpenWater, maka jangan keluar dari relnya dan disiplin.

Kita juga harus tahu guru diving kita sertifikas­inya benar atau tidak. Komponen alat selam juga harus kita pelajari dengan benar dan sedetailny­a. Jangan seperti di obyek wisata yang langsung praktik di tempat dan tidak belajar dengan benar. Akibatnya adalah bisa deco.

Kira-kira tertarik upgrade jadi instruktur diving tidak?

Saya hanya sekadar hobi, bukan profesiona­l. Padahal, kalau mau, saya teruskan juga bisa. Seperti di paraglidin­g dan lain-lainnya itu banyak kesempatan. Namun, sebenarnya saya hanya mau menunjukka­n ke anak-anak saya bahwa untuk berprestas­i itu tidak melihat usia, kapan pun kamu bisa.

Saya sebenarnya ini tidak bisa mengajar. Saya juga bingung ketika ditunjuk jadi instruktur safety di Garuda. Akhirnya, saya melakukann­ya melalui contoh. Saya ajarkan kepada anak-anak saya bahwa di usia 40-an ini masih bisa menjadi atlet, tapi saya sesuaikan dengan kemampuan dan pengetahua­n. Ini saya tunjukkan kepada anakanak saya.

Dari data responden yang kami punya, kebanyakan setelah punya sertifikas­i diving, mereka maunya ke Bali, Bunaken, Raja Ampat, Komodo, baru ke destinasi-destinasi lain yang kurang populer. Kenapa Bapak tertarikny­a langsung ke Ambon?

Saya dari SMA itu sudah pencinta alam. Kebanggaan saya bukanlah ketika menaklukka­n gunung mana saja, tapi kebanggaan saya adalah ketika bisa mengatasi diri sendiri ketika naik gunung. Jadi, tidak perlu gunungnya harus tinggi. Begitu pula di diving, tidak perlu yang paling ekstrem atau tempat yang ikonik dan paling indah, yang penting saya bisa menikmati.

Destinasi mana saja lagi yang mau dicapai?

Terdekat ke Togean pada bulan Juli.

Ada rencana bawa kamera underwater ketika diving?

Ada. Cuma karena saya bukan fotografer, di darat pun saya tidak pernah pegang kamera, hanya mau menikmati saja. Itu yang sering dikomplain sama keluarga karena tidak pernah ada bukti foto-foto setelah jalan-jalan. Saya selalu bilang kalau saya tidak bisa fotografi dan tidak fotogenik, tapi kalau mau melihat keindahann­ya, ayo ikut. Langsung praktik saja.

 ??  ??
 ??  ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia