Scuba Diver (Indonesian)

MALAM MENCEKAM DI TUBBATAHA

- Oleh Tommy Schultz

“Dia akan dimangsa,” ucap saya dalam hati saat melihat seekor penyu yang berenang melintas dengan anggun. Matanya yang lentik seperti mata burung memandangi hamparan karang atol yang terbentang luas. Sepertinya dia tidak menyadari kalau seekor tigershark sedang berada di dekat situ. Saya hanya diam, bersiap menyaksika­n peristiwa pemangsaan. Tapi setelah beberapa saat menunggu, ternyata tidak terjadi apa-apa. Mungkin si hiu masih kenyang. Si penyu sedang beruntung.

Kemarin, di perairan Pulau Tubbataha, Filipina, saya melihat tigershark untuk pertama kalinya. Saat kabut pagi masih tebal, saya melihat sirip punggung hiu membelah permukaan air yang tenang. Rasanya seperti melihat adegan dalam film-film thriller besutan Hollywood. Dan malam ini, saya berada di jarak yang cukup dekat dengan sang “pemangsa”.

Setelah si penyu berlalu, sang “pemangsa” pun mengibaska­n ekornya yang kuat lalu menghilang ke dalam air yang gelap. Di balik kegelapan sana, saya yakin ada beberapa ekor lagi yang sedang berkeliara­n.

Keesokan harinya, saya kembali bersiap untuk melakukan nightdive. Kali ini buddies saya adalah pasangan fotografer dari Denmark yang sedang mengerjaka­n proyek dokumentas­i kekayaan hayati di perairan Tubbataha. Setelah mengecek regulator masing-masing, kami pun mulai turun di sebuah titik penyelaman yang dalamnya hanya 10 meter. Tapi dengan pikiran bahwa tempat ini adalah habitat tigershark, perjalanan turun ke sana terasa begitu jauh.

Begitu tiba di dasar laut, rasa tegang saya mulai berkurang. Rasanya hamparan karang atol ini bisa menyembuny­ikan saya dari tatapan para hiu. Tapi rasa tenang itu tidak bertahan lama. Di tengah kegelapan air saya mencari-cari senter, menekan tombol on, dan tidak lama kemudian saya melihat seekor reefshark sepanjang satu meter sedang menatap saya. Matanya berkilat tak berkedip. Sepertinya keputusan untuk menyalakan senter adalah ide buruk.

Dengan amat gugup, saya pun mendekati para buddies yang sedang asyik memotret koral. Sayangnya tanpa sadar saya berenang terlalu dekat. Regulator di mulut saya tanpa sengaja

tersepak fins mereka hingga terlepas. Udara tangki pun tercurah keluar dan membentuk gelembung-gelembung besar.

Sambil berusaha mengingat-ingat materi latihan selam, saya pun meraba-raba dalam kegelapan, berusaha menemukan regulator sambil menahan nafas. Ini harusnya mudah saja. Tapi tali kamera yang tertambat pada pergelanga­n tangan saya sungguh membuat semuanya jadi sulit.

Selama kira-kira tiga puluh detik saya terus mencoba meraih regulator, tapi tak kunjung berhasil. Tahan. Jangan buang nafas terlalu cepat, batin saya. Empat puluh lima detik berlalu dan rasanya paru-paru saya mulai panas, menjerit meminta udara. Enam puluh detik berlalu dan saya mulai berpikir kalau saya tak akan berhasil. Dengan dada yang pengap saya pun memikirkan untuk langsung berenang naik ke permukaan saja. Dan tepat di momen panik itu, seekor hiu melintas di depan saya.

Saya tidak tahu berapa lama lagi saya bisa menahan nafas. Berjuang untuk tenang, saya kembali mencari buddies saya dan mencoba minta pertolonga­n mereka. Tapi air terlalu gelap. Malam terlalu gelap, dan sepertinya mereka terlalu fokus pada pemotretan masing-masing.

Lebih dari satu menit berlalu dan kepanikan saya makin menjadi. Saya melepaskan tali kamera di tangan, membiarkan kamera jatuh ke dasar laut yang berpasir, lalu merentangk­an tangan sejauh mungkin ke belakang tangki. Akhirnya berhasil! Saya meraih selang regulator dan buru-buru memasukkan ujungnya ke mulut. Fiuh! Bernafas itu sungguh nikmat. Kepanikan saya langsung hilang, berganti rasa tenang yang menyenangk­an.

Akhirnya penyelaman itu selesai. Kami kembali ke permukaan dan semua orang terdiam di luar kewajaran. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang mereka alami di bawah tadi?

Keesokan harinya divemaster kami menawarkan nightdive lagi. Tapi entah kenapa, tidak ada seorangpun yang mengangkat tangan dengan antusias seperti kemarin.

 ??  ??
 ??  ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia