Scuba Diver (Indonesian)

TERSESAT DALAM BADAI

- Oleh Jason Isley

Tahun 2001 kami mendengar banyak cerita tentang Malapascua, sebuah pulau di utara Pulau Cepu, Filipina. Kabarnya, di sana orang-orang bisa melihat threshersh­ark lalu lalang setiap hari. Awalnya kami sangsi, karena kami belum pernah menemukan satupun foto atau video yang membuktika­n hal itu. Tapi selama minggu pertama kami di sana, kami terpana. Thresher shark betul-betul sering muncul!

Namun ternyata itu belum seberapa, karena di kemudian hari rasa terpana kami meningkat hingga berkali-kali lipat.

Di Malapascua saya berperan sebagai juru kamera. Saya menyelam bersama kamera video, tripod dengan sabuk pemberat ekstra, serta kamera DSLR lengkap dengan strobe- nya.

Setelah menempatka­n tripod di cleaning station para hiu dan menekan tombol rekam di kamera video, saya menunggu dengan sabar. Tapi setelah menunggu beberapa saat dan tidak menemukan hiu, saya memutuskan untuk menghentik­an penyelaman, mengumpulk­an semua peralatan, kemudian perlahan berenang ke atas.

Begitu tiba di permukaan, saya melihat kapal terombang-ambing di atas ombak yang mengamuk. Saya pun berenang ke arah kapal, mencoba memberikan kamera video kepada para kru yang berada di sana. Mereka berhasil meraih kamera serta sabuk pemberatny­a, namun tangga kapal mengayun menghantam kepala saya. Saya mencoba untuk tetap tenang dan melempar tripod ke atas kapal. Tetapi ketika saya meraih DSLR, ternyata kamera tersebut telah terlepas

dari BCD saya. Dengan panik saya berenang di permukaan mencari ke mana-mana. Tetapi usaha saya sia-sia. Kamera saya hilang.

Sekembalin­ya ke resor, setelah melewati perjalanan laut yang keras, dengan sedih saya melaporkan kehilangan itu kepada manajer penyelaman saya.

Setiap orang yang berakal sehat tentu akan pasrah menerima kehilangan seperti ini. Tapi si manajer ternyata malah meyakinkan saya (dan beberapa tamu lain) agar kembali ke laut dan mencari kamera tersebut.

Biarpun sudah ada peringatan bahwa topan kecil akan melanda, dua jam kemudian kami sudah kembali ke lautan yang berombak. Kru kapal menjatuhka­n jangkar dan kami kembali menyelam dalam garis lurus. Meskipun sudah membuat rencana selam secara singkat, kami lupa mempertimb­angkan bahwa beberapa dari kami menggunaka­n nitrox dan lainnya menggunaka­n oksigen, sehingga setelah 45 menit tidak ada siapapun di kiri dan kanan saya.

Saya masih memiliki banyak oksigen sehingga saya melanjutka­n pencarian. Tapi tibatiba, rasanya seseorang baru saja mematikan lampu. Saya lalu berenang ke permukaan dan ternyata hujan sedang turun begitu deras. Nampaknya topan kecil yang diramalkan tadi sudah tiba. Jarak pandang di permukaan jauh lebih buruk daripada di bawah air. Gara-gara hujan yang teramat deras saya tidak bisa melihat apapun lewat dari 8 meter.

Pada momen ini saya merasa begitu sendirian. Saya tidak tahu di mana saya berada. Saya meniup peluit, mencari pertolonga­n, tapi saya tidak bisa menemukan posisi kapal. 15 menit berlalu. Tetap tenang, jangan panik, kapal akan menemukan saya. 15 menit lagi berlalu dan saya mulai membayangk­an yang tidak-tidak.

Ada ratusan pulau di Filipina dan saya mungkin bisa terseret ke salah satunya tanpa ada seorangpun tahu. 15 menit kembali berlalu dan hujan masih mengguyur dengan kerasnya. Tidak ada suara kapal dan tidak ada yang membunyika­n peluit. Begitu kepanikan saya semakin parah, tiba-tiba saya mendengar deruman mesin kapal. Akhirnya! Saya pun meniup peluit sekencangk­encangnya.

Setelah berhasil naik ke atas kapal, saya tidak yakin siapa yang lebih lega–si manajer atau saya sendiri. Kami menghabisk­an satu jam mencari penyelam terakhir yang juga tersesat, sebelum akhirnya kembali pulang ke resor. Kami pun akhirnya sepakat bahwa mencari kamera yang hilang ketika sedang ada topan adalah ide buruk!

 ??  ??
 ??  ??

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia