MENYELAM DI CELAHCELAH BENUA

Scuba Diver (Indonesian) - - CONTENTS - Oleh Wolfgang Pölzer

Dengan sangat berhati-hati, kami bersusah payah menuruni tangga besi sambil membawa tangki berukuran 12 liter di punggung kami.

Akhirnya kami tiba di permukaan air dalam kondisi hampir berkeringat (padahal kami memakai drysuitneoprene yang amat tebal dan kaku). Namun begitu kami melihat ke bawah, semua rasa lelah langsung hilang. Di bawah kami sebuah ngarai lebar menganga, berisi perairan Silfra yang sejernih kristal.

Saya merasa seakan-akan sedang bungeejumping saat saya melompat masuk ke dalam air glasial yang jernih. Air dari gletser raksasa di Islandia membutuhkan waktu hingga 100 tahun untuk mengalir masuk ke titik ini. Sorot mata istri saya, Barbara, langsung menyatakan dengan jelas bahwa kami sedang berada di salah satu surga para penyelam.

Saat mengambang di air bersuhu 3° C, saya merasakan hawa dingin perlahan-lahan mencengkeram tubuh saya. Saya amat bersyukur sudah memakai drysuit serta sarung tangan yang tebal dan kaku. Kami lalu berenang melintasi ngarai sedalam sembilan meter yang dikelilingi bongkahan batu basal raksasa, sambil memastikan agar posisi kami tetap berada di atas formasi gua-gua batu yang rapuh. Ya, di tempat ini memang pernah terjadi kecelakaan tragis. Berada di permukaan yang terang dan hangat tentunya terasa jauh lebih aman.

Kami memasuki jalur sempit di mana alga berwarna hijau terang tumbuh dari tanah. Mereka bergoyang-goyang mengikuti arus yang ringan, menciptakan suatu kontras yang sempurna dengan bebatuan berwarna gelap. Kami pun berenang mengikuti jalur berkelok hingga tiba di sebuah celah sempit yang bentukan sangat ikonik.

Barbara menyempil masuk ke dalam celah, mendorong lempengan benua Eropa dengan tangan kirinya dan lempengan benua Amerika Utara dengan tangan kanannya. Bahkan dalam kapasitas saya sebagai fotografer, menyelam di tempat ini sungguh terasa luar biasa, apalagi sebagai ilmuwan! Kami berada di celah antarbenua, mengetahui bahwa beberapa ribu kilometer di bawah kami terdapat aliran lava yang stabil, yang terus memperlebar jarak antara benua Eropa dengan benua Amerika sebesar 2 sentimeter setiap tahunnya!

Kami tentu tidak merasakan panasnya lava ataupun pergerakan lempengan benua yang terjadi di bawah sana. Kami terus berenang lebih jauh menuju ngarai raksasa yang dikenal sebagai Katedral Silfra. Lembah bawah air yang besar ini memang terlihat seperti gereja. Meskipun ukurannya sangat besar dan luas, dengan panjang sekitar 91 meter dan tinggi 18 meter, kami bisa dengan mudah melihat ke ujung lembah. Kalau bukan karena air dingin yang sangat terasa menerpa wajah, mungkin kami lupa bahwa kami sedang menyelam!

Di ujung Katedral Silfra, dasar berpasir menanjak dengan lembut dan terbuka ke cekungan sepanjang 122 meter (kami bisa melihat ujung lain pantai). Ini adalah bagian paling berwarna-warni di Silfra, dengan hamparan alga berwarna hijau terang dan cokelat, beberapa celah kecil berbatu, serta sinkhole kecil yang amat sempurna sebagai obyek fotografi.

Rasa dingin terus merasuk hingga ke dalam tulang. Kami pun kembali ke permukaan, melepaskan fin, dan mendapati jari-jari kaki yang beku. Kami terus merangkak keluar dari air es dengan semangat yang tinggi.

Celah Silfra adalah sebuah patahan sempit di antara benua Amerika Utara dan Eurasia

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.