SEBUAH PENGANTAR OLEH ALEX MUSTARD

Scuba Diver (Indonesian) - - CELEBRATING SHARKS - ALEX MUSTARD Marinebiologist,underwater photographer dan penulis buku “Underwater PhotographyMasterclass”.

Saya lahir pada tahun 1975, saat film Jaws pertama dirilis dan sukses memecahkan rekor boxoffice di banyak negara. Itulah film pertama yang menggambarkan hiu sebagai ikan jahat haus darah—gambaran yang mengerikan dan agaknya masih banyak dipercaya sampai sekarang.

Namun, gambaran yang dilihat para kontributor kami sangat berbeda. Menurut pengalaman mereka yang sudah menyelam ribuan jam bersama kawanan hiu, film

Jaws sungguh jauh dari kenyataan. Karena itu, kami para penyelam dan fotografer bawah laut yang mengetahui sifat alamiah hiu merasa bahwa kebenaran ini harus disebarluaskan.

Tahun lalu ada video viral yang menunjukkan seekor greatwhiteshark terdampar di pantai, lalu sekelompok wisatawan membantunya kembali ke air. Menariknya, peristiwa ini terjadi di Cape Cod, tempat yang menjadi lokasi syuting film Jaws. Tindakan menolong hiu seperti itu tentu tidak akan pernah terpikirkan di masa lalu.

Pada kenyataannya, manusia lebih merupakan ancaman bagi hiu, bukan mangsa. Kini para hiu kian banyak ditangkap untuk dikonsumsi manusia. Padahal hiu adalah predator puncak dengan tingkat pertumbuhan serta reproduksi yang lambat. Alhasil, semakin hari populasinya semakin tergerus, tidak bisa mengimbangi nafsu industri yang kian besar.

Dulu, di awal 1980-an, sebenarnya hiu belum menjadi target tangkapan para nelayan. Namun semua itu berubah dengan cepat. Beberapa dekade selanjutnya penangkapan hiu besar-besaran terjadi di skala global, hingga diperkirakan jumlahnya mencapai 100 juta ekor hiu per tahun. Hiu menghilang dengan sangat cepat dari lautan, dan kesempatan kita untuk menyelamatkan mereka sudah semakin menipis.

Hiu besar pertama yang saya temui adalah oceanic whitetip atau hiu moncong putih di lepas pantai Laut Merah. Spesies penguasa samudra tropis ini memiliki jangkauan jelajah yang luas dan rasa penasaran tinggi. Ia akan menyelidiki benda apa pun yang terlihat “asing” di bawah lautan, termasuk para penyelam yang berdebardebar saat makhluk ini mendekat.

Beberapa dekade lalu, hiu oceanic adalah predator besar yang paling mudah dijumpai di lautan. Namun, sekarang populasinya sudah menurun hingga 99 persen karena banyak diburu manusia. Samudra tanpa hiu yang kita kenal sekarang, bukanlah samudra sejati.

Hiu moncong putih, yang banyak diburu untuk dikonsumsi siripnya, dijual seharga US$ 100 per ekor. Harga itu mungkin dianggap sudah mahal oleh para nelayan. Namun, mereka tidak tahu kalau hewan ini sesungguhnya jauh lebih berharga saat hidup. Palau, negara kepulauan kecil di Pasifik yang sangat dicintai penyelam, memperkirakan bahwa hiu yang tinggal di sana bisa memberi pemasukan rata-rata sebesar US$ 18 juta per tahun bagi perekonomian setempat. Artinya, seekor hiu bisa menyumbang sebesar US$ 2 juta per tahun sepanjang hidupnya. Karena itu, negara-negara seperti Palau dan Bahama menjadikan perairan mereka sebagai kawasan suaka untuk hiu. Dan sebagai penyelam, kita tentu bisa ikut mendukung dengan mengunjungi dan menikmati pertemuan dengan mereka.

Sebagai predator puncak, hiu memegang peranan penting bagi ekosistem laut. Tanpa keberadaannya, rantai makanan bisa rusak, dan laut akan berhenti berfungsi

Seekor silky shark di Jardines de la Reina, Kuba, salah satu kawasan terumbu karang paling cantik di perairan Karibia. Alex Mustard

sebagaimana mestinya. Dampaknya bukan hanya terasa oleh penghuni bawah air, tetapi juga semua kehidupan di planet biru ini, termasuk manusia. Faktanya, hampir 72 persen dari bumi adalah lautan, dan area seluas itu tentu bukan sekadar tempat untuk menyelam. Lautan juga berperan dalam mengatur iklim global, menyediakan makanan bagi miliaran orang, menyerap limbah daratan, dan menyediakan oksigen untuk setiap napas yang kita hirup. Namun, semua fungsi itu hanya bisa berjalan dengan baik jika lautan kita sehat.

Hilangnya para hiu dari lautan bukanlah masalah yang diwariskan nenek moyang kita. Ini adalah isu yang secara spesifik melibatkan generasi kita. Sebagai penyelam dan fotografer, kita tentu memiliki tanggung jawab khusus untuk menolong para hiu dan samudra, sebab saat ini mereka sedang sangat membutuhkannya.

atas Seorang penyelam memotret hiu kepala martil di perairan Bahama yang merupakan kawasan perlindungan hiu.

atas Seekor silkyshark di Jardines de la Reina, Kuba, salah satu kawasan terumbu karang paling cantik di perairan Karibia.

atas Oceanicwhitetip memiliki rasa penasaran tinggi. Ia tak ragu mendekati penyelam dan membuat mereka berdebar-debar.

© Alex Mustard

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.