SEAFOOD

KENDATI TINGGI KOLESTEROL, NAMUN MENYEHATKAN BAGI TUBUH, LO!

SEDAP - - Artikel Sehat - TEKS M. SHOLEKHUDDIN | FOTO ISTIMEWA | VISUAL BELLA F

Semua jenis hasil laut atau seafood, termasuk sumber protein yang baik. Tetapi selama ini banyak di antara kita yang takut mengonsumsinya karena kadar kolesterolnya yang tinggi. Kekhawatiran ini sebetunya hanya separuh benar. Jadi seperti apa kebenaran yang utuh dan sesungguhnya?

TINGGI KOLESTEROL

Walaupun semua hasil laut (termasuk ikan) bisa disebut seafood, biasanya kita menyebut istilah ini terutama untuk kepiting, rajungan, cumi-cumi, udang, lobster, kerang, dan tiram. Semua seafood yang disebut ini memang tergolong tinggi kolesterol, terutama cumicumi.

Satu porsi wajar seafood ratarata mengandung sekitar 100-an mg kolesterol, sementara kebutuhan kita terhadap kolesterol hanya sekitar 300 mg sehari. Jumlah itu masih masuk kategori wajar jika kita makan 1 porsi seafood dalam sehari.

Sesekali makan kepiting, walaupun ukurannya cukup besar dan bertelur, pengaruhnya terhadap kolesterol tidak seberapa dibandingkan dengan kebiasaan kita makan gorengan setiap hari, lo. Tetapi tentu saja yang terbaik adalah makan sumber protein secara variatif setiap hari, tidak melulu seafood jenisnya.

Selama ini kita biasanya hanya fokus melihat kadar kolesterol makanan, tetapi lupa bahwa

3/4 kolesterol di dalam tubuh sebetulnya dibuat (diproduksi) sendiri oleh tubuh kita dengan bahan baku lemak. Hanya 1/4 bagian saja yang merupakan kolesterol langsung yang berasal dari makanan. Dengan kata lain, yang lebih menentukan tinggi rendahnya kadar kolesterol darah kita adalah pola hidup kita secara keseluruhan, bukan dari 1-2 makanan.

Bila kita gemar makan seafood dan mengimbanginya dengan berolahraga, kolesterol tentu tidak akan menumpuk di pembuluh darah. Sebaliknya, bila kita menghindari seafood tetapi gemar sekali makan gorengan, justru lebih berisiko kolesterol tinggi.

Untuk meminimalisasi efek kolesterolnya, seafood sebaiknya dimasak dengan seminimal mungkin tambahan lemak, seperti minyak goreng atau mentega. Cara lainnya, kita bisa memasak seafood dengan diberi banyak bumbu rempah, lemon, jeruk nipis, nanas, dan lainnya. Zat-zat dari rempah herbal ini berfungsi menetralkan efek buruk dari lemak dan kolesterol seafood.

KAYA LEMAK BAIK

Seafood mengandung lemak jenuh maupun lemak tak jenuh (lemak baik). Salah satu lemak baiknya adalah omega-3. Lemak ini memiliki banyak sekali fungsi, dari menjaga kesehatan kulit, menormalkan kadar kolesterol, hingga menjaga kelenturan pembuluh darah. Jadi, sungguh sayang jika kita menjauhi seafood hanya karena takut kolesterol.

Tapi lemak baik ini akan berkurang manfaatnya jika seafood dimasak dengan cara digoreng, sebab sebagian lemak baiknya mungkin akan larut dan tertinggal di dalam jelantah. Paling sehat seafood dimasak basah, misalnya diolah dengan saus asam manis. Selain rasanya lebih lezat, gizinya juga lebih terjaga.

Lemak baik ini paling banyak terdapat di dalam seafood yang masih segar. Makin lama seafood disimpan, kadar lemak baiknya (juga vitaminnya) akan makin sedikit. Sehingga manfaatnya sebagai penyeimbang kolesterol juga akan berkurang. Inilah salah satu penjelasan kenapa seafood segar biasanya dianggap tidak meningkatkan kolesterol. Ini terjadi bukan karena seafood segar kolesterolnya sedikit, melainkan karena zat-zat gizi penyeimbang kolesterol masih tinggi.

BISA MENCETUSKAN ALERGI

Gizi utama seafood adalah protein. Sebagian proteinnya bisa menyebabkan alergi pada orangorang tertentu. Risiko alerginya makin besar jika seafood yang dimasak sudah dalam kondisi tidak segar.

Tetapi ini tidak berarti pengidap alergi akan terbebas dari alergi bila seafood yang dia makan pun masih segar. Contoh gampangnya adalah kepiting. Kita biasa menjumpai rumah makan yang menyajikan kepiting dalam keadaan hidup dan dimasak langsung ketika ada pembeli. Walaupun kepitingnya masih segar, pengidap alergi kepiting tetap saja akan mengalami alergi.

Seafood yang tidak segar dalam hal ini hanya meningkatkan risiko alergi. Misalnya, seseorang yang biasanya tidak apa-apa makan cumi-cumi bisa saja mengalami alergi jika cumi yang ia makan sudah tidak segar lagi. Ini juga berlaku untuk ikan atau sumber protein lain.

Ukuran seafood segar atau tidak segar sering kali sulit dipastikan. Sebagian besar hasil laut yang dijual di pasar sebetulnya adalah hasil tangkapan nelayan berhari-hari sebelumnya, tetapi masih tampak segar karena dibekukan dengan es.

Sebagian besar nelayan melaut selama beberapa hari atau beberapa minggu dan membekukan hasil tangkapan dengan es batu. Jika ukuran “segar” adalah hasil tangkapan kemarin, kita akan sulit mendapatkan seafood segar kecuali di dearah pesisir yang masih banyak nelayan harian atau di rumah makan yang memang punya pasokan seafood segar.

Risiko alergi juga dipengaruhi oleh asalnya. Dalam bahasa seharihari, istilah seafood tak terbatas pada tangkapan laut. Udang dan lobster, contohnya. Selain memang ada udang dan lobster laut, ada juga udang dan lobster air tawar. Pada umumnya, risiko alergi dari hewan laut lebih tinggi dari hewan air tawar. Tetapi jika budidaya tambaknya banyak menggunakan pakan sejenis tepung ikan laut, risiko alerginya mungkin sama saja.

KAYA MINERAL

Mineral penting di dalam seafood adalah seng dan selenium. Kedua zat ini memiliki banyak sekali fungsi, dari menjaga daya tahan tubuh hingga menjaga kesehatan otak dan saraf. Agar manfaat mineral di dalam seafood tak berkurang, sebaiknya seafood tidak dimasak dengan banyak garam. Toh rasa aslinya sudah gurih sebab seafood banyak mengandung asam amino sejenis glutamat. Lebih baik dimasak dengan sedikit garam dan banyak rempah. Lebih lezat dan lebih sehat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.