MENGGALAKKAN KUE TRADISIONAL UNTUK JADI TREN

SEDAP - - Berita Kuliner - RAHMAT KUSNEDI, PRESIDEN INDONESIA PASTRY ALLIANCE

Menurut pengamatan Rahmat Kusnedi, di tahun 2019 tampaknya tak akan ada terobosan terbaru di dunia pastry. Rahmat mengatakan, tren pastry di Indonesia bisa jadi cenderung hampir sama dengan tren yang terjadi di sepanjang 2018.

“Mungkin nanti di tahun 2020, saya rasa baru akan ada tren terbaru di dunia pastry,” kata Rahmat seraya menilai, tren kue seperti cake masih banyak yang menampilkan siffon cake. “Bedanya, paling pada toping-nya yang bisa seperti lebih berwarna.”

Selaku Presiden IPA yang masih menjabat, Rahmat mengaku, asosiasinya tentu akan turut memberikan dampak terhadap tren pastry yang akan terjadi di Indonesia. “Kami yang tergabung di IPA akan mendiskusikan tren pastry yang ingin dipublikasikan. Lalu kami akan berikan panggungnya, seperti pameran atau kompetisi membuat kue. Dari situlah tren akan berkembang” jelasnya sambil berkata, “Pelaksanannya biasanya kami bekerja sama dengan distributor bahan baku makanan.”

Rahmat juga menjelaskan, tren di dunia pastry juga sangat dipengaruhi oleh seberapa besar kontribusi para produsen bahan baku kue. “Misalnya di tahun lalu, kami melihat tren rainbow cake. Tren ini tak lepas dari kontribusi produsen makanan yang menyediakan produknya lalu digunakan oleh sejumlah pembuat kue dan jadilah tren di masyarakat,” papar Rahmat.

Nah, di tahun 2019, Rahmat dan tim dari IPA berupaya untuk semakin menaikkan beragam kue tradisional menjadi tren di masyarakat. Menurutnya, kue tradisional bisa menjadi tren jika semakin mudah ditemui di sejumlah pusat perbelanjaan. “Sekarang, kan, semakin banyak kue tradisional yang dipadukan bahan kekinian. Misalnya, klepon isi keju atau onde-onde isi stroberi. Tapi menurut saya, itu tidak termasuk tren dan tak akan lama ada di masyarakat,” ujarnya.

Maka, Rahmat dan tim dari IPA ingin semakin menggalakkan kue tradisional menjadi makanan yang sangat dicari oleh banyak kalangan. “Kue tradisional dengan cita rasa otentik bisa menjadi tren jika disajikan dengan unik dan menarik, dikemas cantik, sangat dicari dan mudah didapatkan. Bukan sekadar kue tradisional yang selalu ada di pasar dan dijual orang-orang tua saja,” ujarnya.

Lantas, berapa lama kue-kue tadi bisa bertahan dicari masyarakat dan dianggap sebagai tren? Rahmat menjelaskan, makanan bersifat konsumtif dan dibutuhkan setiap hari. Sehingga perubahannya bisa lebih cepat dibandingkan tren fashion, yang bisa bertahan sampai 2-3 tahun. “Dalam setahun tern makanan bisa saja muncul beberapa kali. Jika tidak begitu, orang akan bosan,” tutup Rahmat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.