Tak Mengapa Sedikit Gemuk, Asalkan Pola Makan Dijaga Agar Lebih Sehat

SEDAP - - Artikel Sehat - TEKS DOK. MAJALAH SEDAP | FOTO ISTIMEWA | VISUAL bELLA f

Apakah Sedap Lovers selalu membuat resolusi setiap tahun, yang di antaranya menurunkan berat badan atau menjalani hidup dengan pola makan lebih sehat? Tak hanya Sedap Lovers, banyak orang juga kerap menjadikan momentum di awal tahun ini dengan membulatkan tekad menjalani hidup yang lebih sehat. Sayangnya, banyak orang justru gagal mewujudkan resolusinya karena berbagai alasan. Bagaimana, ya, mengatasinya agar resolusi sehat berjalan sukses?

Berkaitan dengan diet, ada banyak faktor yang menyebabkannya gagal dijalankan. Beberapa di antaranya akibat kurang disiplin, target tidak realistis, lingkungan tidak mendukung, tidak sesuai dengan kemampuan fisik, dan sebagainya.

Sebagai contoh, orangorang tertentu memiliki gen (kecenderungan) gemuk. Bagi orang-orang ini, target berat badan ideal sesuai rumus Indeks Massa Tubuh (BMI) tentu akan sangat sulit dipenuhi. Yang lebih realistis, targetnya biarkan saja sedikit gemuk asalkan tubuhnya sehat.

Mengikuti pedoman umum gizi seimbang sebetulnya sudah cukup, tanpa harus mengikuti program diet yang beragam itu. Syaratnya, perbanyak saja makan buah dan sayur, mengurangi porsi makan (menurunkan asupan lemak dan karbohidrat tinggi), serta imbangi dengan memperbanyak gerak (olah raga).

Tiga target itulah yang paling utama untuk dilakukan. Soal berat badan, kolesterol, dan sejenisnya, tentu akan otomatis mengikuti ke-3 target sehat tadi. Nah, agar tekad diet lebih mudah diwujudkan, ada beberapa pedoman dasar yang bisa Sedap Lovers terapkan.

DIET PERLAHAN, BUKAN SEKETIKA

Jika seseorang punya berat badan 80 kg dan ingin tubuhnya lebih langsing, sebaiknya target penurunannya dilakukan perlahan. Turun 1 kg sebulan dengan konsisten, lebih sehat daripada turun 5 kg dalam sebulan. Pasalnya, tubuh manusia beradaptasi secara pelan-pelan.

Pada orang yang gemuk semua organ tubuhnya, mulai dari jantung sampai kulit, menyesuaikan diri dengan kondisi kegemukannya. Jika ia tiba-tiba menjadi langsing, kulitnya tidak sempat menyesuaikan diri dan justru akan tampak berkeriput/bergelambir. Inilah gejala-gejala yang akan tampak secara kasat mata.

Sementara itu, organ-organ di dalam tubuhnya pun sebetulnya akan mengalami gejala kaget, tanpa kita bisa melihatnya. Maka dari itu, jangan mudah tergiur oleh tawaran diet ini-itu yang bisa membuat tubuh seketika berubah dalam hitungan minggu.

SESUAI KONDISI GENETIK TUBUH

Salah satu jenis diet mungkin saja berhasil bagi seseorang, tapi belum tentu bagi orang lainnya. Hal ini wajar karena tiap individu memiliki karakter fisik bawaan yang unik. Kondisi tubuh inilah yang harus kita sadari betul. Ada yang bawaannya langsing, walaupun makan banyak. Sebaliknya, ada orang yang mudah gemuk walaupun makan hanya sedikit. Jika kita punya bawaan gemuk, tak perlu pasang target terlalu tinggi. Tak perlu terlalu ketat menggunakan hitungan BMI. Boleh saja seseorang memiliki badan sedikit overweight atau underweight, asalkan secara keseluruhan tubuhnya bugar. Kebugaran tubuh lebih tepat dijadikan parameter kesehatan daripada berat badan.

BARENGI DENGAN GAYA HIDUP SEHAT LAINNYA

Ada kalanya penyebab utama masalah kesehatan kita bukan dari makanan, tetapi kita cenderung menyalahkan makanan. Sebagai contoh, bisa jadi kita gemar ngemil karena kita mendapatkan rasa nyaman dari makanan untuk meredakan stres.

Jika masalahnya seperti itu, tentu resolusi diet bukanlah solusi primer, melainkan sekunder saja. Yang utama adalah membenahi keseharian kita supaya tidak selalu stres. Dalam kasus seperti ini, kegemaran ngemil hanya berupa gejala. Akar masalahnya tentu saja stres.

Makanan hanya salah satu faktor kesehatan. Pada umumnya juga bukan faktor utama. Jadi, bila kita punya masalah kesehatan, kita harus selalu ingat bahwa penyebab utamanya mungkin bukan makanan. Bisa jadi sesuatu yang kompleks, gabungan antara perkara pola makan dan pola hidup lainnya.

DUKUNGAN KONDISI LINGKUNGAN

Ada kalanya tekad diet menjadi gagal akibat kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Misalnya, karena tuntutan pekerjaan atau kebiasaan di lingkungan kantor yang tidak sehat. Agar kedisiplinan makan sehat lebih terjaga, kita bisa mengondisikan lingkungan kita. Misalnya, mencari teman baru yang punya kepedulian sama terhadap kesehatan.

Jika kita memiliki teman kerja yang ingin sama-sama berolah raga dan memilih makan sehat, persoalan diet tentu akan menjadi lebih mudah. Jika dalam seharihari kita tinggal di lingkungan yang penuh makanan, program diet ketat tentu menjadi tidak realistis bagi kita.

Yang lebih realistis adalah program kompensasi membakar makanan alias olah raga, misalnya memutuskan bergabung dengan kelompok yoga, senam, atau lainnya. Dengan cara seperti ini, kita tetap bisa menikmati banyak makan tetapi tubuh tetap sehat.

DIAWALI DENGAN YANG MUDAH

Yang sebaiknya dilakukan secara perlahan atau gradual tak hanya penurunan berat badan, tapi juga perubahan pola hidup. Jika kita terbiasa ngemil terus-terusan di meja kerja, tentu akan sulit ketika tiba-tiba kita menghentikan kebiasaan ini. Mungkin akibatnya kita jadi kurang bisa berkonsentrasi dalam bekerja.

Untuk mengubah kebiasaan ini, kita bisa melakukannya secara pelan-pelan. Ngemil tetap jalan, tapi jenis makanannya diubah. Jika biasanya ngemil makanan mengandung karbohidrat dan lemak, kita bisa menggantinya bertahap dengan buah potong. Jika biasanya kita minum minuman bergula tinggi, kita bisa secara bertahap mulai membiasakan diri minum jus buah tanpa gula atau teh.

TUJUAN UTAMA DIET = BADAN LEBIH SEHAT

Ada kalanya kita mati-matian menurunkan berat badan dan menganggap program diet gagal hanya karena badan belum terlihat langsing. Bila kita sudah menerapkan pola makan sehat, sebetulnya kita sudah memperoleh esensi diet, lo, walaupun badan tidak tampak langsing seketika.

Secara tak kita sadari, mungkin kadar kolesterol membaik, kebugaran meningkat, daya tahan tubuh terjaga, badan tak mudah jatuh sakit, dan sebagainya. Ini semua efek positif dari pola makan sehat yang jarang kita apresiasi sebab kita cenderung hanya berfokus pada tampilan fisik saja.

Jadi perlu diingat, semua orang bisa sehat, tapi mungkin tidak semuanya bisa langsing.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.