Upaya Tak Henti Promosikan Hidangan Khas Tanah Papua Ke Mata Dunia

SEDAP - - Artikel - TEKS: ANIZA P | FOTO: DOK. PRIBADI | VISUAL: BELLA F.

Hidangan asal Papua yang belum terlalu populer di Tanah Air, apalagi di dunia, semakin gencar dipromosikan melalui banyak program, baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu pegiat kuliner asal Papua, Charles Toto, penggagas komunitas Papua Jungle Chef, mendapat kesempatan mempromosikan hidangan khas tanah kelahirannya di Festival Slow Food di Italia, pada September lalu. Di festival ini, pria yang akrab disapa Chato ini memasak dengan bahan baku yang langsung dibawanya dari tempat aslinya, Papua.

Festival Slow Food yang diadakan di Turin, Italia 20-24 September lalu telah menjadi ajang untuk memperkenalkan dan mempromosikan beragam hidangan lokal dari beberapa negara, termasuk Indonesia yang diwakili komunitas Papua Jungle Chef yang dikepalai Chef Charles Toto atau akrab disapa Chato.

Festival ini merupakan kesempatan pertama bagi Chato dan kawan-kawannya untuk memperkenalkan aneka hidangan khas Papua ke mata dunia. “Ini merupakan kesempatan emas bagi kami untuk bisa ikut mempromosikan ragam sajian khas tanah kelahiran kami, Papua,” ujarnya.

Pada festival ini, lanjut Chato, ia dan kawan-kawan dari Papua Jungle Chef tak hanya memiliki kesempatan memasak dan menyajikan hidangan khas Papua kepada orang asing saja. “Kami juga berkesempatan memberikan seminar terkait kearifan lokal Indonesia.”

DI dalam seminarnya, Chato menyampaikan presentasi dengan tema “Food For The Change”, yakni sebuah upaya untuk tetap melestarikan makanan tradisional lokal dari setiap daerah di Indonesia yang begitu kaya.

“Banyak sekali jenis makanan yang masuk seleksi untuk mengikuti festival di Italia ini. Tapi kami punya tujuan ingin menggalakkan agar seluruh masyarakat Indonesia tetap mengingat dan melestarikan ragam hidangan lokal yang secara turun menurun dimaska dan diperkenalkan sejak zaman nenek moyang kita,” paparnya lagi.

Festival Slow Food yang rutin diadakan setiap 2 tahun sekali ini, diikuti dengan mendatangkan berbagai pegiat kuliner dari sejumlah komunitas gastronomi dari 150 negara. Setiap negara menampilkan beragam sajian lokal khasnya.

“Dari Hungaria, misalnya, menampilkan beragam jenis wine sebagai produk kuliner lokal andalan meraka. Di festival ini juga ditampilkan beragam produk dari komunitas petani dari setiap negara di seluruh dunia yang mengikuti festival ini. Mereka masing-masing mempresentasikan produkproduk andalannya di festival ini,” ungkapnya.

Tak hanya para pegiat kuliner dari berbagai komunitas gastronomi Indonesia saja yang tergerak untuk ikut serta bersama Chato dalam menggalakan pelestarian hidangan khas Nusantara ini. Namun demi menyukseskan rencana Chato bersama Papua Jungle Chef di Turin, Italia, Gereja Santa Maria Regina Bintaro dan Kedutaan Besar Indonesia di Roma, Italia pun turur mensponsori keberangkatan mereka.

“Tiket untuk 2 kawan saya dari tim Papua Jungle Chef disponsori pihak Gereja Santa Maria Regina Bintaro dan Kedutaan Besar Indonesia di Italia. Sementara akomodasi saya ditanggung panitia Festival Slow Food,” ujarnya.

BAHAN LANGSUNG DARI TANAH PAPUA

Untuk menyajikan beragam hidangan khas Papua dengan cita rasa yang otentik, Chato dan tim sengaja membawa perbekalan yang berisi bahan baku untuk memasak yang langsung didapatkannya dari tanah kelahirannya, Papua.

“Bahan-bahan mentahnya ada beberapa yang sengaja kami bawa sendiri dari Papua karena sudah pasti akan sulit mencarinya di negeri orang. Seperti kerupuk dan garam hitam,” kata Chato seraya menambahkan, “Ada juga, sih, bahan-bahan umum yang disiapkan panitia supaya tetap segar saat dimasak.”

Oleh karena jarak tempuh menuju Italia sangatlah lama dan jauh, Chato dan tim menyiasati membawa berbagai bahan, terutama bumbu yang dikeringkan agar lebih tahan lama dan mudah dikemas. “Kalau bawa bumbu segar, agak sulit. Akhirnya kami siasati dengan mengeringkannya dulu agar semua kebutuhan bumbu bisa terbawa semua,” tuturnya.

Salah satu jenis bumbu terunik yang sengaja Chato bawa dari Tanah Papua adalah garam hitam. Menurutnya, garam hitam ini harus diambil dari pegunungan yang memiliki ketinggian 1.800 mdpl (di atas permukaan laut).

Selama mengikuti Festival Slow Food di Turin. Italia, Chato dan tim memasak 4 ragam jenis makanan khas, yakni ikan kuah kuning, papeda kecipir, sayur swamening, dan minuman teh daun sukun. Hidangan ikan kuah kuning, kata Chato, merupakan hidangan yang sangat umum atau menu sehari- hari di Papua.

Ikan kuah kuning ini disajikan bersama sagu. Sementara ikannya dimasak bersama irisan tomat dengan bumbui kunyit, serai, dan garam. Sedangkan menu bernama swamening dimasak dengan bahan khas Papua, yakni sayur lilin yang ditaburi kelapa dan disajikan bersama gulungan sagu dan sayur gedi yang diolah dengan cara dikukus.

Untuk membuat sajian papeda kecipir, Chato menggunakan bahan utama kacang dan kecipir, dengan bumbu garam hitam asli Papua dan disajikan bersama sayur gedi. Untuk melengkapi aneka hidangan khas ini, Chato menghidangkan minuman teh yang terbuat dari daun sukun yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat suku Biak dan Yapen di Papua.

Semua aneka hidangan unik asal Papua ini, menurut Chato, mendapat apresiasi positif dari masyarakat dunia. Tak heran bila Chato memiliki harapan, ragam sajian khas dari daerah lain di Indonesia juga akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan sajian Papua pada tahun-tahun mendatang.

“Acara-acara berskala internasional seperti ini sangat penting diikuti. Apalagi Indonesia punya lebih dari 700 suku dari Sabang sampai Merauke, yang pasti memiliki hidangan khasnya. Tentu sangat menarik untuk semakin diperkenalkan ke mata dunia,” tutup Chato.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.