Gencar Promosikan Rempah Indonesia Melalui Racikan Minuman

SEDAP - - Tamu Kita - TEKS: ANIZA P, FOTO: DOK. PRIBADI | VISUAL BELLA F.

Menjadi bartender bukanlah cita-cita Agung Prabowo. Ia mulai tertarik pada dunia racik meracik minuman sejak bekerja di sebuah bar di Jakarta, hingga menuntunnya menjadi seorang mixologist. Bermodalkan passion-nya, Agung pun memberanikan diri berkelana ke negeri orang hingga mendirikan bar The Old Man di Hongkong, yang berhasil meraih peringkat 10 The World’s 50 Best Bars 2018 dan peringkat 5 Asia’s Best Bar Awards 2018.

The Old Man ibarat mimpi yang jadi nyata bagi Agung Prabowo, kendati ia tak sendirian mengelola bar yang berlokasi di Aberdeen Street, Central Hongkong itu. Bersama 2 rekan beda bangsa, James Tamang dan Roman Ghale, Agung mengembangkan bar miliknya.

Agung mengaku tak sembarangan dalam memilih lokasi untuk barnya. Menurutnya, Hongkong merupakan tempat yang selalu berdenyut selama 24 jam dan diisi oleh masyarakat yang multikultural. Selama 15 tahun hidup di Hongkong, Agung merasakan, budaya di tempat ini selalu berubah cepat, terutama food and beverage (F&B)-nya.

Ia pun melihat peluang dari cepatnya perubahan itu. Bahkan setelah bisa dikatakan sukses membangun The Old Man, kini Agung tengah mempersiapkan diri membuka 2 cabang barnya, yakni Hongkong The Sea by The Old Man dan The Old Man SG di Singapura pada Januari 2019.

Agung mengakui, membuka cabang bar di negara orang tentu tak mudah. Apalagi harga sewa properti yang begitu mahal di Hongkong. Namun kendala ini dapat ia patahkan ketika melihat respons pengunjung yang sangat baik terhadap keberadaan The Old Man. “Kami sungguh beruntung, sejak The Old Man resmi dibuka, pengunjung sangat menyukai konsep bar kami,” ujarnya.

Tentu saja pengunjung sangat terkesan karena Agung bersama 2 rekannya menyajikan konsep sangat unik pada barnya. Menurut Agung, nama barnya diambil dari novel karya Ernest Hemingway berjudul The Old Man and The Sea.

Ketika melangkahkan kaki ke dalam bar, pengunjung akan dibuat kagum karena ruangan berukuran 1.000 m2 diubah menyerupai ruang tamu yang cozy dan hangat. “Ruangannya kami desain agar tampak seperti ruang tamu bergaya elegan ketimbang bar koktail pada umumnya,” tambah Agung.

Pada dindingnya ditata berbagai botol minuman plus sejumlah buku, sehingga terlihat layaknya sastra bar. Area pojok ruang tamu bar dijadikan tempat meracik minuman dan di sini para tamu bisa duduk di kursi tinggi, sambil mengamati para bartender meracik minuman.

Yang menjadi center point di area ini adalah terpasangnya potret Ernest Hemingway di salah satu sudut bar, yang terbuat dari sisa bahan-bahan material bangunan bar. “Potret Hemingway ini seakan ikut memerhatikan para pengujung selama berada di sini,” kata Agung.

Di barnya, Agung menawarkan aneka menu minuman yang juga sangat terinspirasi dari Hemingway. Ada 10 jenis koktail yang Agung sebut The Best of The Old man V1. “Sekarang kami sudah meluncurkan seri menu ke-2 sejak 3 bulan lalu, yaitu The Best of The Old Man V2,” imbuh Agung.

RACIKAN REMPAH

Sejak memutuskan menjadi seorang mixologist atau peracik minuman, Agung mengaku mempelajarinya secara otodidak dan hasil bertanya kepada beberapa rekan kerja, termasuk dari buku yang ia baca. Tanpa letih Agung mempelajari terus teknik-teknik yang harus dikuasainya sebagai mixologist.

“Semua tekniknya cenderung sulit, tapi saya harus mempelajarinya dengan terus berlatih. Apalagi di setiap tekniknya selalu punya alasan, mengapa kita harus menguasainya,” ujar Agung sambil melanjutkan, “Tingkat keberhasilan dalam meracik minuman bisa berbeda-beda, tergantung teknik basic-nya. Teknik classic cocktail twits, misalnya, bisa langsung jadi dan berhasil. Tapi teknik The Old Man cocktail, saya membutuhkan 5-6 bulan untuk bisa menguasainya, termasuk research dan development-nya,” katanya.

Dari hasil belajar otodidak, Agung mengaku, racikan minuman pertama yang berhasil ia buat adalah Martini cocktail, yang termasuk ke dalam teknik klasik koktail. Menurutnya, teknik meraciknya tergolong sulit karena teknik pencampurannya harus tepat dan seimbang. “Saya mencobanya berulang kali dan sering gagal, padahal sudah hapal ukuran spirits yang harus dicampurkan ke dalam mixing glass. Tetap saja gagal,” kenangnya.

Namun ketika ia meraciknya dengan perasaan enjoy tanpa hilang konsentrasi, ternyata hasilnya lebih baik dari sebelumnya. Diakuinya, ketika ia meracik minuman dengan sepenuh hati, hasilnya akan baik dan sukses. “Tentu perlu juga dibarengi dengan pengetahuan di bidang ini,” tambahnya.

Nah, setelah menguasai teknik dasar meracik beragam jenis koktail, Agung mulai memodifikasinya dengan meramu aneka jenis minuman dengan mencampurkan bahan rempah khas Indonesia, seperti pala, pandan, kunyit, dan lainnya.

Bahan baku rempahnya, tentu saja harus Agung beli langsung dari Indonesia. Ia pun bekerja sama dengan supplier lokal yang ada di Hongkong. Terkadang, Agung turun langsung membeli rempah ke pasar tradisional di Hongkong yang menjual rempah yang dibutuhkannya. “Racikan koktail dengan rempah Indonesia sangat diapresiasi baik di Hongkong. Saya sendiri sebenarnya terkejut, bisa meracik koktail dengan bahan rempah Indonesia,” ujarnya.

INSPIRASI KELUARGA

Agung mengakui, menjadi seorang mixologist bukanlah cita-citanya. Ketertarikan pada dunia racik meracik minuman baru muncul ketika ia bekerja di salah satu bar di Jakarta. Ia kerap melihat aktivitas bartender saat meracik minuman, mengambil pesanan, mengobrol dan menghidangkan minuman racikannya ke para tamu, hingga menutup tagihan.

Menurutnya, pekerjaan seorang bartender bukan hal yang mudah dilakukan. Ia harus bisa mengatasi semua hal dalam satu waktu bersamaan. Sejak itulah, Agung mulai jatuh hati pada dunia bartender dan ingin menjadi seorang mixologist.

Agung harus berusaha keras untuk mewujudkan impiannya. Apalagi, di lingkungan keluarganya bekerja di bar bukanlah suatu pekerjaan yang baik karena konotasi bar lekat dengan kehidupan malam yang dinilai penuh dengan aktivitas negatif.

“Tahun 1999 saya diterima bekerja di bar. Banyak orang mencemooh pekerjaan saya. Bahkan keluarga pun menentang passion saya,” kenangnya. Namun pria kelahiran Jakarta, 23 September ini bertekad untuk tetap mewujudkan mimpinya.

Ia lantas memutuskan berhenti kuliah dan serius bekerja sebagai bar back selama 1 tahun. “Tugas saya hanya membersihkan gelas dan meja bar saja,” ungkapnya. Seiring waktu dan dengan kesabarannya belajar teknik bartending secara otodidak, Agung pun mulai sering mengikuti kompetisi hingga berhasil meraih banyak juara di kompetisi meracik minuman hingga ke berbagai negara di Asia.

Sebelum tinggal di Hongkong, Agung sempat bekerja di sejumlah hotel. Di antaranya The Landmark Mandarin Oriental Hotel menjadi bar manager selama 3 tahun, dilanjutkan menjadi assistant bar manager selama 5 tahun, lalu menuju Hongkong dan bekerja di beberapa bar, seperti Lily & Bloom, W Hotels, Island ShangriLa, Mandarin Oriental Hotel Group Hongkong. Hingga menjadi salah seorang founder The Old Man Hongkong.

“Menurut saya, menjadi mixologist sangatlah menyenangkan. Saya bisa bertemu banyak sekali orang, mendapat pengalaman menarik, dan beragam kesenangan lainnya. Saya betulbetul menikmati pekerjaan ini,” ungkapnya senang.

Saking cintanya pada dunia mixology, Agung mengaku tak

pernah sekali pun mengalami hal buruk terkait pekerjaannya. Ia selalu merasa enjoy setiap kali menjalani pekerjaannya. “Ya, saya sangat enjoy dengan pekerjaan ini. Bisa dibilang, bartending is my hoby,” tutur Agung.

Kendati sempat dilarang keluarganya untuk menggeluti bidang bartending, namun Agung justru bisa membuktikan diri bahwa ia bisa sukses dengan pekerjaannya, bahkan sering mendapat inspirasi dalam meracik minuman dari sang istri dan anak tercinta.

“Inspirasi saya datang dari istri saya, Laura Prabowo, dan anak saya, Earlova Prabowo. Berkat adanya mereka, saya bisa terus melanjutkan karier sebagai mixologist,” pungkas Agung yang juga kerap mendapatkan inspirasi dari banyak bartender lain dari seluruh dunia.

Oh ya, ingin mencicipi minuman racikan Agung yang menggunakan rempah asli Indonesia? Tak lupa ia membagikan resepnya untuk Sedap Lovers.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.