Matthew Qareem DeVries

Kabari - - SERBA SERBI -

Mahasiswa, The University of Texas, Austin, Texas

Berpuasa di Amerika itu menarik benar karena nggak jauh beda dengan mahasiswa dari universitas lain yang tetap saja melakukan ujian. Tapi bagi saya jadi jauh lebih mudah karena banyak teman-teman yang tertarik masalah puasa, dan rasa kertarikan mereka itu diwujudkan dengan cara mencoba ikut berpuasa. Mereka jadi terkejut saat saya bilang kita juga tidak minum air. Kalau mereka melakukannya bersama saya, paling tidak saya jadi tidak merasa puasa sendirian.

Saya bilang yang tidak enaknya itu karena bulan Ramadan jatuh pada musim panas. Hari-hari jadi sangat panjang, berpuasa sekitar 15 jam tiap hari, dengan temperatur cuaca sekitar 33 celcius. Sangat panas. Tapi ini menjadi bukti tekad dan niat kita untuk melakukan ibadah puasa. Apalagi kegiatan sehari-hari tetap sama. Saya tetap bekerja paruh waktu di sekolah dan hanya minta istirahat saat matahari tenggelam. Saya berusaha melakukan yang terbaik untuk mengurangi kegiatan fisik dan hanya melakukan di dalam ruangan. Saya juga berusaha untuk melakukan tarawih meskipun jadwalnya tidak selalu bertepatan dengan jadwal salat.

Saran saya untuk mereka yang menghadapi puasa yang panjang seperti di Amerika ini agar tetap lancar adalah fokus pada ibadahnya. Itu sangat menolong menghindari aktivitas di luar rumah karena mayoritas orang-orang di sini tidak melakukan puasa. Dan mesti diingat kenapa kita melakukan puasa, dan jika kita serius melakukannya, puasa tidak akan menjadi beban. (1004/ foto: kol. pribadi)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from USA

© PressReader. All rights reserved.