The Mademoiselle Code

Chanel mempersembahkan seuntai arloji mewah dengan sekelumit inspirasi dan cerita di balik desainnya. Oleh Chekka Riesca

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Contents -

Bagi kaum hawa, arloji tidak sekadar menjadi penunjuk waktu saja, namun juga memiliki fungsi ganda yakni sebagai ornamen dekoratif yang menyempurnakan keseluruhan penampilannya. Bahkan bila kita menilik kembali sejarah jam tangan, sesungguhnya ia sengaja dirancang menyerupai perhiasan yang menghiasi pergelangan tangan agar perempuan yang mengenakannya dapat mengecek waktu di tengah perjamuan sosial tanpa harus membuat orang lain di dekatnya merasa tersinggung. Itulah mengapa arloji wanita cenderung memiliki rancangan yang dapat mempertahankan fungsi ganda tersebut. Meski nama Chanel telah begitu identik dengan koleksi tas, setelan berbahan tweed, dan parfum, namun koleksi jam tangan dari Chanel juga tidak kalah mengagumkan. Pada tahun 1987, Chanel pertama kali memasuki industri pembuatan jam tangan dan melansir koleksi arloji perdananya yang bertajuk Première. Jam tangan ini mengangkat desain yang terinspirasi dari detail bangunan Place Vendôme dan dipadukan dengan detail botol parfum No.5. Lebih dari satu dekade sejak peluncuran arloji tersebut, Chanel pun kembali menawarkan rancanganrancangan jam tangan terbarunya. Keseluruhan koleksi jam tangan dari Chanel memiliki kekuatan estetika masing-masing yang menjadikannya lebih berharga daripada perhiasan semata. Kali ini, Chanel memberikan gebrakan terbaru melalui sebuah konsep desain yang memadukan antara unsur dekoratif yang diadaptasi dari tas ikonis Chanel 2.55 dengan tema fungsional layaknya arloji pada umumnya. Sekilas pandang, arloji yang diberi nama Code Coco ini terlihat bagaikan seuntai gelang yang bersinar indah menghiasi pergelangan tangan. Namun sejatinya, pesona jam tangan mewah lansiran label legendaris satu ini lebih dari sekadar pemanis penampilan berkat desain pada bagian dial yang merupakan hasil adaptasi dari ornamen clasp tas Chanel 2.55 yang legendaris. Aplikasi clasp ini diletakkan tepat pada bagian tengah dial, membaginya ke dalam dua bagian. Bagian bawah berfungsi sebagai penunjuk waktu, sedangkan bagian atas menjadi ornamen dekoratif dengan satu titik berlian berbentuk kotak yang menghiasi permukaan dial berwarna hitam yang minimalis dan modern. Detail subtil ini pun seolah menjadi statement tersendiri yang memperkuat karakter elegan yang ingin dicitrakan. Selain aksen clasp yang praktis, tas yang dirancang oleh Gabrielle Chanel pada bulan Februari 1955 tersebut juga memiliki kekhasan pada aksen quilt (atau dikenal dengan istilah matelassé) yang memberikan tekstur distingtif pada permukaan tas. Ornamen ikonis ini turut diadaptasi dan diapikasikan pada strap jam tangan Code Coco yang dikonstruksikan dengan menggunakan material stainless-steel. Demi mempercantik arloji, taburan berlian pada bagian bezel sengaja dibubuhkan agar nuansa elegan yang mewah menjadi kian kental. Detail menawan ini memberikan gemerlap yang sarat akan kesan glamor, namun tetap tampak classy berkat desain keseluruhan yang simpel dan timeless—layaknya tas Chanel 2.55 yang begitu dicintai oleh banyak wanita dari masa ke masa. Buah reinterpretasi yang subtil namun sangat terasa kekhasannya ini berhasil menjadikan jam tangan wanita yang diberi nama Code Coco ini begitu istimewa. Citra artistik yang ditampilkan di sana mampu menuturkan sepenggal cerita yang tercantum di balik desainnya. Itulah mengapa arloji ini diberi nama Code Coco, karena ia menyimpan banyak kode rahasia tentang inspirasi desain yang melatarbelakanginya. Code Coco merupakan sebuah bentuk penghargaan akan kekayaan kisah, tampilan, dan gaya yang menjadi DNA rumah mode legendaris rintisan desainer perempuan yang melegenda, Gabrielle Chanel.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.