MENILIK LASEM

Selama tiga hari, ZAMIRA MAHARDINI bersama Universitas Binus International menyusuri salah satu kecamatan paling tersohor di Jawa Tengah.

Herworld (Indonesia) - - Contents -

Cerita seru tentang membuat batik di Kecamatan Lasem.

Mendarat di Bandar Udara Ahmad Yani, Semarang saya beserta rombongan mahasiswa jurusan Fashion Design & Fashion Management Binus Northumbria School of Design yang berjumlah tak kurang dari 30 orang langsung melanjutkan perjalanan darat ke Kabupaten Rembang. Perjalanan dua hari ini dibuat dalam rangka ingin mempelajari lika liku batik di Kecamatan Lasem yang berada sekitar 10 kilometer dari pusat kota. Saat tiba di lokasi, hari telah larut. Walau penasaran ingin segera belajar membatik di daerah asalnya, kami pun memutuskan untuk beristirahat dan memulai kegiatan esok paginya.

Ke ‘Dapur’ Batik

Wisata membatik diawali di sebuah tempat bernama Pusaka Beruang. Di sana kami diajak untuk melihat koleksi batik milik mereka sekaligus dibawa ke “dapur kerja” dengan menggunakan delman. Tampak wajah bahagia bercampur tegang terpancar dari raut para mahasiswa dan juga saya yang memendam kegembiraan sekaligus rasa penasaran. FYI, karena letaknya di pesisir pantai, maka jangan lupa mengoleskan tabir surya dan membawa kipas saat Anda berencana datang ke sini.

Kunjungan ini membuka wawasan saya mengenai Batik Lasem yang sangat terkenal itu. Batik Lasem dikenal dengan warna-warnanya yang pekat seperti rona merah hati atau bahkan merah gelap. Motif yang biasa digunakan pun bermacam-macam seperti Sekar Jagad, Latohan, Watu Pecah sampai motif Tiga Negeri. Zaman dahulu, untuk membuat batik Tiga Negeri, para pebatik harus melalui tiga kota berbeda hanya untuk melakukan proses pewarnaannya saja. Itulah yang menjadikan kain tradisional ini dijual dengan harga cukup tinggi di pasaran. Semakin rinci motif yang dibuat, akan semakin mahal pula ia dibanderol.

Menurut Sumini (39), salah satu pengrajin batik di Pusaka Beruang, untuk satu jenis pola, sehelai kain dapat dikerjakan dalam waktu satu hari. Jika motifnya lebih rumit, maka waktu pengerjaan yang dibutuhkan bisa sampai dua hari.

Wisata membatik di Pusaka Beruang yang kami lakukan terbilang lengkap bahkan sampai pada proses melorot, yaitu metode khusus di mana lilin batik yang telah teraplikasi diluruhkan setelah kain selesai diwarnai. Saat itu ada dua pilihan warna, yaitu merah dan biru. Dengan semangat tinggi, para mahasiswa yang telah terlebih dahulu melewati proses belajar membuat pola kemudian diarahkan untuk memilih warna yang akan mereka gunakan untuk melapis kain.

Cerita Akulturasi

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk kembali mengunjungi rumah batik lain, yaitu rumah Bapak Sigit Witjaksono, salah seorang pioneer

Batik Lasem yang memperkenalkan batik akulturasi pertama di Indonesia. Perbedaan batik milik beliau dengan milik yang lain adalah adanya pesan tersembunyi yang hanya bisa diketahui dan dituturceritakan olehnya. Untuk proses pewarnaannya, mereka memilih untuk mengimpor tinta dari beberapa negara karena faktor kepekatannya ternyata sangat berbeda. Oleh sebab itu, mereka menjamin kalau batik yang berasal dari Rumah Pak Sigit tidak akan luntur. “Kalau habis dicuci warnanya berbeda, kembalikan saja, nanti saya ganti,” ujar Pak Sigit.

Desain batiknya sangat rapi dan detail. Terlihat dari hasil pengerjaannya yang tak terburu-buru dan pilihan warna klasik yang mendominasi. Tak heran jika produk batik Rumah Pak Sigit selalu mampu bersaing di pasar batik Nasional. Tak sedikit pula pengunjung mancanegara yang menyempatkan diri untuk datang ke sini.

Bapak Sigit yang saat ditemui dalam keadaan kurang sehat, pun tampak semangat menceritakan tentang ide batiknya. Bak sedang dikunjungi para cucu dari keluarga jauh, ia menceritakan riwayat usaha yang dijalani berawal dari adanya permintaan untuk menggabungkan sejumlah unsur budaya pada selembar kain. Tak berhenti di situ, cerita beliau pun mengalir hingga soal perjalanan cintanya bersama sang istri yang berbeda keyakinan. Dengan yakin ia menuturkan bahwa perbedaan tersebut tak berujung perselisihan karena ia, yang dulunya memiliki kepercayaan Kong Hu Cu, berhasil menjalani hidupnya dengan rukun bersama sang istri yang seorang Muslim anak yang menganut agama Kristiani, serta cucu yang seorang santri. Sebuah toleransi yang terdengar indah sekaligus berbuah percampuran kultural bernilai tinggi.

Tak terasa waktu mulai sore, saatnya kami untuk kembali ke Jakarta. Masih banyak tempat membatik lain yang dapat dan layak dikunjungi namun dengan hanya mengunjungi dua tempat, kami sudah sangat merasa terinspirasi. Tak siasia rasanya berjalan ditemani cuaca panas menyengat karena pada akhirnya kami pulang dengan berbekal segudang ilmu.

Semoga saya dapat kembali ke Lasem dalam waktu dekat. Ciao!

Koleksi batik Pusaka Beruang.

Salah satu mahasiswa mencoba melukis batik.

Di rumah keluarga Sigit Witjaksono.

Scan QR code ini untuk mengetahui info lebih lanjut tentang wisata di Lasem, Jawa Tengah

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.