Tangisan Bung Karno

Intisari - - Sketsa Tokoh -

Keberangkatannya ke tempat pembuangan politik ditetapkan tanggal 4 Januari 1928. Koran Bintang Timur menulis, “Ketika berangkat kelihatan air mata Ir. Soekarno jatuh berderai, mengalir ke pipinya. Maka kereta api ekspres ke Yogya pun berangkat. Karena amat disembunyikan, tidak ada demonstrasi apa-apa. Apalagi dr. Tjipto ingin begitu saja dia berangkat.”

Rumahnya di Pulau Banda menghadap ke laut lepas. Mulamula mereka sekeluarga harus tidur di lantai, karena tempat tidur masih harus mereka buat sendiri dari papan. Tuan W.C. ten Cate, penguasa setempat, datang menggeledah dua hari sekali. Penggeledahan habis-habisan sampai”... telur-telur ayam yang sedang ditetasi juga ikut diperiksa.”

Setiap kali dilakukan penggeledahan, Bu Tjip, Donald, Luis dan Pesjati harus berdiri di atas peti buku, dilarang untuk bergerak. Sungguh menggelikan kecemasan Cate.

Kunjungan Cate lambat laun menjadi kongko-kongko antara dua sahabat. Sebab dia akhirnya sadar, dokter tersebut bukan seorang penjahat, melainkan cendekiawan yang berperikemanusiaan luhur. Penduduk setempat juga menjadi akrab. Tetapi pembuangan tetap menghimpit kebebasan jiwanya. Yang tidak kuat justru paruparunya. la sering kali sakit dan marah-marah.

Menurut Donald, “Saya tidak tahu persis apa saja yang membuat hati dan wajah Oom Tjip tiba-tiba muram setiap selesai membaca koran atau surat. Kalau ada kabar jelek mengenai partai atau kawannya, kami tidak mendapat muka manis selama seminggu. Berbicara pun dia tidak suka dan sering dia langsung mendapat serangan penyakit.”

Sekali dia sakit keras. Dokter militer Belanda di sebelah rumah dipanggil. Mula-mula dokter itu menolak. Setelah mendengar sendiri napas tetangganya ngosngosan, baru dia datang. “Tetapi Oom Tjip menolak dengan keras. la memberontak dan malah memaki God verdome (terkutuk -Red.) kepada dokter Belanda yang tadinya menghina.”

Dua belas tahun lamanya dokter Tipto berada dalam pembuangan di Pulau Banda. Tahun 1940 dalam usia 54 tahun dia sekeluarga diizinkan pindah ke Makassar

Tukas Tjipto, “Salin saja segera. Aku sudah tahu akibatnya: dibuang!”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.