Orang-Orang di Lamno Cuma Kenal Pak Puteh

Populasi keturunan Portugis di Aceh merosot drastis karena tsunami 13 tahun silam. Permukiman mereka pun menjadi desa mati. Berikut laporan wartawan Jawa Pos EKO PRIYONO yang belum lama ini berkunjung ke sana. Menelusuri Generasi Mata Biru, 13 Tahun setel

Jawa Pos - - Jawa Pos -

SALEH mengernyitkan kening cukup lama. ’’Di sini sudah tidak ada orang, Bang,’’ katanya.

Di salah satu sudut Desa Ujong Muloh, pada Sabtu siang dua pekan lalu itu (19/8), Saleh tengah menghaluskan kayu di sebuah gubuk tanpa dinding. Selain dia, memang tak tampak seorang pun di desa yang berlokasi di Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, tersebut.

Hampir 13 tahun setelah tsunami menghumbalang Aceh, Ujong Muloh yang terletak di bibir pantai hampir menjadi desa mati. Hanya sebagian penduduk yang bertahan. Yang tinggal agak jauh dari bibir Samudra Hindia. Saleh salah satunya

Sisanya, sejauh mata memandang, hanya hamparan tanah kosong.

Begitu sepi. Begitu panas. Dari perempatan tempat Jawa Pos sempat berhenti lama, hanya deburan ombak Samudra Hindia yang terlihat jelas.

Di desa itulah dulu para keturunan ’’si mata biru’’ banyak bermukim. Si mata biru merujuk kepada warga Aceh keturunan Portugis.

Secara fisik, mereka memang seperti umumnya bule. Kulit putih, rambut pirang, dan mata kebiru-biruan.

Tapi, sungguh tak mudah menemukan mereka sekarang. Tsunami pada 26 Desember 2014 telah mencerai-beraikan mereka.

Sebagian lenyap digulung ombak, sebagian yang lain berpindah ke berbagai tempat. Menjauh dari pantai.

Penelusuran dari Banda Aceh membawa Jawa Pos ke Aceh Jaya. Dari ibu kota Aceh tersebut, Aceh Jaya terpisah 85 kilometer. Melewati dua bukit dan tiga gunung.

Di sanalah, persisnya di Lamno, komunitas terbesar si mata biru dulu berada. Namun, dari berbagai tempat yang disinggahi dan sejumlah warga yang diwawancarai selama 2,5 jam perjalanan, hanya satu nama sisa si mata biru yang terdengar: Pak Puteh.

Tapi, Saleh mengaku hanya samar-samar mengingat sosok yang dulu bermukim di Ujong Muloh itu. ’’Saya dengar dia tinggal di desa seberang,’’ katanya.

*** Tsunami 2004 telah membuat si mata biru tak ubahnya urban legend di Aceh. Hampir semua orang di provinsi paling barat Indonesia itu mengaku tahu. Tapi, sebatas dari mulut ke mulut.

Ada beberapa versi soal asal muasal si mata biru. Salah satunya, mengutip sejarahlamno.blogspot.co.id, bermula ketika pada 1492–1511 sebuah kapal perang Portugis terdampar di pantai Kerajaan Marhom Daya –di bagian barat Aceh sekarang– setelah kalah perang di Malaka.

Setelah sempat dikarantina, mereka akhirnya dibebaskan raja Marhom Daya. Para tentara Portugis itu kemudian berbaur dengan penduduk Lamno.

Mereka diajari bertani dan berbahasa serta diperkenalkan dengan adat istiadat dan budaya masyarakat Aceh. Para mantan tawanan perang itu kemudian juga dibolehkan mempersunting gadis pribumi, tentu setelah memeluk Islam.

Versi lain menyebutkan, orang-orang Portugis sengaja datang ke Marhom Daya untuk berdagang. Mereka membawa porselen, senjata, dan mesiu. Dan, membawa balik hasil bumi.

Dari sana, interaksi antarbangsa terjadi. Catatan lain yang lebih tua, seperti yang tercantum pula dalam sejarahlamno.blogspot. co.id, menyebutkan, perdagangan global di kawasan Lamno itu bahkan telah terjadi sejak abad ke-6.

Tapi, kini, bahkan ketika telah di Lamno pun, banyak yang menggeleng tak tahu saat ditanya tentang keberadaan mereka. Apalagi jika yang bertanya tak berbahasa setempat. Atau minimal tanpa logat Aceh.

Udien Syek, salah seorang warga Lamno, mengungkapkan, ketertutupan kepada pendatang tersebut tak lepas dari kejadian masa silam. Si mata biru seolah cuma menjadi objek buruan bagi orang luar. Untuk difoto, atau bahkan diperistri.

’’Gadisnya kan memang cantik-cantik. Berjilbab pula,’’ katanya.

Sampai akhirnya, muncullah nama itu: Pak Puteh. Itu pun bukan nama asli. Hanya merujuk kepada warna kulitnya.

Puteh dalam bahasa setempat memang berarti putih. Puteh menjadi panggilan karena dialah satu-satunya yang putih di desa tempatnya tinggal: Ujong Muloh.

Sebelum tsunami, Ujong Muloh desa yang ramai. Di bagian desa di tepi pantai, rumahrumah penduduk berdiri berimpitan. Khas kampung nelayan. Di tepi pantai itulah si mata biru banyak bermukim.

Tapi, hantaman tsunami membuat lebih dari separo wilayah desa tersebut rata dengan tanah. Otomatis pula banyak warga di sisi dekat pantai yang hilang. Meski tak ada data pasti yang menyebutkan jumlah mereka.

Sejak itu pula, Saleh mengaku tak tahu lagi keberadaan Pak Puteh dan para warga si mata biru lain. ’’Katanya ada yang selamat. Tapi, tidak tahu ke mana sekarang,’’ ujarnya.

*** Penelusuran terhadap Pak Puteh dan si mata biru lain akhirnya mengarah ke Desa Nusa, Kecamatan Jaya. Lokasinya juga di pesisir barat Aceh.

Namun, tak seperti di Ujong Muloh, masih ada kehidupan di sana. Ada rumah penduduk yang dibangun permanen. Meski tidak banyak.

Namun, Pak Puteh atau si mata biru lain tetap tak ada di sana. ’’Dengar-dengar ada yang tinggal di desa seberang,’’ jelas Budiman, salah seorang warga, tentang keturunan bule Lamno.

Jangankan nama orang, nama desanya pun tidak jelas. Tapi, merunut dari petunjuk yang diberikan, desa seberang yang dimaksud adalah pedesaan di kawasan yang jauh dari pesisir.

Kawasan yang tidak tersentuh tsunami 17 tahun lalu. Lokasinya lebih tinggi ketimbang pesisir. ’’Biasanya ke sana orang-orang yang mencari si mata biru menuju,’’ kata Budiman.

Tapi, itu pun tetap tanpa jaminan. Banyak yang pulang dengan tangan hampa. Minimnya petunjuk membuat pencarian buntu. (*/ bersambung/c5/ttg)

EKO PRIYONO/JAWA POS

MULUS TAPI SEPI: Jalan kampung yang menghubungkan ke kawasan pesisir bekas pusat generasi mata biru di Kecamatan Jaya, Aceh Barat (17/8).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.