Pernah Terjerembap di Lumpur dan Nyaris Terinjak Massa

Sundari merupakan satu-satunya staf perempuan di Linmas Satpol PP Pacitan. Tempat kerjanya adalah lapangan. Sundari, Satu-satunya Perempuan di Linmas Satpol PP Pacitan

Jawa Pos - - Jawa Timur - MIZAN AHSANI, Pacitan

CUACA di Sirnoboyo, Pacitan, kemarin panas terik. Sundari, 54, tengah beristirahat sejenak di tepi jalan, berbincang dengan rekan sejawatnya yang bertugas di satpol PP.

Saat itu rombongan Bupati Indartato tengah menghadiri sebuah acara bersama rombongan dari BPBD Jatim di desa tersebut. Otomatis banyak mobil pelat merah yang terparkir di sepanjang jalan.

Begitu lalu lintas mulai padat, warga Bangunsari, Pacitan, itu inisiatif turun ke jalan membantu mengurai kepadatan kendaraan yang melintas. Sundari merupakan satu-satunya perempuan di Bidang Linmas Satpol PP Pacitan. Bidang yang tempat kerjanya lebih banyak di lapangan. ”Tugas kami lebih ke pengamanan dari kegiatankegiatan daerah,’’ ujar Sundari.

Dia bertugas di satpol PP sejak 2014. Sebelumnya, Sundari merupakan staf administrasi di dinas kesehatan (dinkes). Sebagai aparatur sipil negara (ASN), dia sudah berikrar untuk siap ditugaskan di mana pun.

Maka, begitu dimutasi ke satpol PP, Sundari pun siap. Padahal, tugasnya berkutat dengan pengamanan. Dan itu tidak mengenal waktu. Siang, malam, atau bahkan saat hari libur.

Daripada di kantor, Sundari lebih banyak bertugas di lapangan. ”Kalau tidak ada kegiatan pengamanan, ya di kantor. Jika tidak, piket di pos (pos satpol PP di kantor bupati Pacitan, Red),’’ terangnya.

Kegiatan pengamanan Sundari meliputi berbagai acara. Mulai kunjungan pejabat daerah hingga acara-acara besar. Beberapa pengalaman unik pun pernah dia rasakan. Pada upacara adat Ceprotan di Desa Sekar, Donorojo, tahun lalu, misalnya.

Saat itu cuaca sedang gerimis. Ada masyarakat yang menonton upacara tersebut. Mereka sebenarnya tidak boleh masuk ke area upacara karena menunggu kedatangan Wakil Bupati Yudi Sumbogo. Namun, masyarakat tetap memaksa masuk.

Sundari sudah berupaya menghalau, tetapi kalah dengan massa yang men capai ribuan. Dia sampai terjerembap di genangan berlumpur dan nyaris terinjak massa. ”Waktu itu masyarakat memaksa sampai merobohkan pagar. Tetapi, kami tidak boleh bertindak kasar. Pendekatan terhadap masyarakat harus tetap baik,’’ jelasnya.

Kendati penuh risiko, Sundari bergeming. Dia tetap setia bertugas. Menurut dia, keluarganya mendukung. Tidak ada yang melarang meski Sundari sudah memiliki tiga cucu.

Dia merasa banyak pengalaman yang bisa dipetik dari seringnya bekerja di lapangan. ”Keluarga mendukung. Di samping itu, saya senang kerja di lapangan. Bisa banyak belajar ke orangorang yang ditemui,’’ ungkap Sundari. (*/eba/c25/diq)

MIZAN AHSANI/JAWA POS RADAR PACITAN

TIGA CUCU: Sundari masih setia bertugas di lapangan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.