Adik Kabur, Thaksin Kritik Pengadilan

Jawa Pos - - Internasional -

THAILAND – Thaksin Shinawatra m meninggalkan Thailand sejak kudeta yang m melengserkannya dari kursi perdana menteri ( (PM) pada 2006. Kemarin (30/8), untuk kali p pertama sejak 2015, tokoh 68 tahun itu mencuit soal politik. Dia menyebut bahwa sistem peradilan di Thailand adalah tirani.

’’Montesquieu pernah menyatakan bahwa tidak ada tirani yang lebih kejam daripada yang dilestarikan menggunakan tameng hukum dan atas nama keadilan,’’ tulis Thaksin lewat akun Twitter- nya.

Kakak Yingluck tersebut mengutip pernyataan Charles de Montesquieu, filsuf Prancis dari abad ke-18, dalam cuitannya. Komentar itu muncul bersamaan dengan kaburnya perempuan yang juga pernah menjadi PM di Thailand tersebut.

Dalam waktu sekitar 40 menit, tweet Thaksin itu diunggah ulang oleh sedikitnya seribu pengguna Twitter. Kemarin Thaksin mengunggah cuitannya dalam bahasa Inggris dan Thailand. Kalimat yang mengandung kritik tersebut menuai reaksi serius dari para politikus dan diplomat Thailand. Sebagai orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Thaksin, mereka tahu Thaksin marah.

’’Setelah sekian lama (terpendam, Red), cuitan itu mengekspresikan kemarahan Thaksin,’’ ujar Pavin Chachavalpongpun, mantan diplomat Thailand yang kini menjadi akademisi di Kyoto University, kemarin.

Thaksin yang mengasingkan diri untuk menghindari vonis korupsi mengakhiri puasa bicara politiknya karena kasus Yingluck. (AFP/Reuters/hep/c14/any)

AFP PHOTO

MASIH DICINTA: Pendukung keluarga Shinawatra membawa foto Thaksin dan Yingluck saat berdemo awal bulan lalu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.