TNI-Polri Dibenturkan soal Papua

Tidak pernah ada berita tentang Kapolri yang menganggap TNI tidak bisa diandalkan. Kalimat provokasi itu hanya ada di judul artikel blog penyebar hoax dan pemburu klik.

Jawa Pos - - Hoax Atau Bukan -

INFORMASI tidak benarnar dan bernada provokatif ke-kerap menjadi bahan hoax ax untuk menarik perhatianan penikmat media sosial. Mi-Misalnya berita tentang kelom-mpok kriminal bersen jatata (KKB) di Papua. Karenana sedang hangat diberitakan,n, tema itu dijadikan bahanan oleh pembuat hoax untukuk mengadu domba TNINI dengan Polri.

Hingga kemarin, pihakk keamanan memang belum bisa mengatasi ulah KKB yang menyandera 1.300 warga dua desa di Papua.a. Polri dan TNI masih beru-paya mencari jalan keluar agar kasus penyanderaan itu bisa diselesaikan tanpa konfrontasi. Kondisi tersebut malah dimanfaatkan produsen hoax untukk menebar fitnah. Caranya adalahdalah membikin berita berjuduludul bombastis.

’’Hadapi KKB di Papua, Polri Gunakan Teknik Negosiasi Karena TNI Tidak Bisa Diandalkan,’’ tulis pembuat berita palsu. Judul itu dimuat blog pemburu klik id-detik-news. blogspot.co.id.

Dari judul yang dibuat, terkesan seolah-olah Polri menafikan kemampuan TNI dalam penanganan KKB di Papua. Bahkan, TNI dianggap tidak mampu menghadapi kelompok bersenjata tersebut sehingga Polri menempuh jalur diplomasi.

Penjudulan seperti itu sama halnya dengan mengadu domba TNI dan Polri. Dua institusi yang sedang sama-sama terlibat dalam penanganan KKB di Papua itu dibenturkan sehingga seolah-olah tidak akur dan bermusuhan. Nah, siapa pun yang membaca judul berita tersebut bisa dengan mudah termakan hoax.

Jika dibaca secara saksama, judul dan naskah berita sangat tidak nyambung. Dalam tubuh berita, tidak ada satu pun kalimat yang menunjukkan keterangan bahwa Polri menempuh jalur negosiasi lantaran TNI tidak bisa diandalkan. Tapi, bagi yang hanya membaca judulnya dan langsung percaya, mereka bisa termakan provokasi dan adu domba.

Dari penelusuran Jawa Pos, Kapolri Jenderal Tito Karnavian memang telah meminta jajarannya agar menggunakan teknik negosiasi dengan melibatkan tokoh setempat untuk membebaskan warga yang disandera KKB. Pembuat hoax mencuplik artikel itu dari sebuah kantor berita di Indonesia.

Tapi, saat memuatnya di

website blog pribadi, judul berita diubah sedemikian rupa sehingga tidak relevan lagi dengan isinya. Inilah yang membahayakan. Judul dianggap mewakili isi. Meski, dalam website berita abal-abal itu, isi berita tidak sesuai dengan judulnya.

Website yang digunakan untuk mengunggah berita tersebut sesungguhnya sangat tidak kredibel. Pemiliknya memanfaatkan website blogspot gratisan untuk dijadikan hosting. Hanya, tampilan blog tersebut dimiripkan dengan nama portal media nasional. Termasuk nama dan pewarnaan dibuat dengan sangat mirip. Jika tidak teliti, blog itu bisa-bisa dianggap sebagai portal berita yang sebenarnya.

Dari sisi konten, blog tersebut sangat sering menampilkan berita-berita yang bernada adu domba. Baik yang menyerang pribadi, organisasi, atau bahkan lembaga negara. Sayang, blog tersebut belum terdeteksi oleh pemerintah. Sampai sekarang, blog itu masih ada meski setiap hari menyebarkan kabar hoax.

Kalaupun blog itu dihapus, pembuat kabar palsu bisa dengan mudah membuatnya lagi. Mereka memanfaatkan hosting gratisan yang tidak terbatas penggunaannya. Jika seperti itu, yang dibutuhkan adalah pembaca cerdas. Cerdas menerima informasi, mengelolanya, serta memilih media massa yang kredibel. (gun/eko/c17/fat)

ILUSTRASI CHIS/JAWA POS

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.