Jawa Pos

Halal-Syariah Bisa Ganggu Okupansi

-

JIKA pengusaha hotel dan penginapan menyambut baik penerapan konsep halal dan syariah, tidak demikian dengan Associatio­n of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita). Ketua Asita Jatim Arifudinsy­ah menyatakan bahwa pelabelan itu justru akan membatasi tingkat hunian kamar atau okupansi. ”Itu dari kacamata pariwisata,” ujarnya kemarin (21/10).

Menurut Arif, definisi hotel syariah maupun hotel halal belum jelas. ”Kami tidak menyalahka­n hotel halal karena sebenarnya tujuannya baik. Tapi, kami rasa konsep itu nggak usah dijadikan ikon sampai membuat seolah-olah semua hotel harus halal,” ungkapnya.

Jika berlebihan, penerapan konsep tersebut malah akan membuat turis asing lari. Belakangan, hotel-hotel di Batu semakin banyak yang tidak lagi menyediaka­n minuman beralkohol. Alasannya, Batu merupakan salah satu wilayah yang menjadi destinasi wisata halal.

Itu membuat sejumlah wisatawan asing komplain. ”Memang haram secara Islam. Tapi kan itu seharusnya jadi urusan masing-masing pribadi,” ujar Arif.

Dia juga menyoroti status tamu yang menjadi fokus utama hotel dan penginapan halal maupun syariah. Membuktika­n bahwa tamu laki-laki dan perempuan yang menginap satu kamar adalah pasangan yang sah, menurut Arif, juga tidak mudah. ”Caranya bagaimana? Dengan KTP? KTP yang tidak serumah belum tentu mereka bukan suami istri. Dengan surat nikah? Orangorang kami rasa gak akan membawa surat nikah ke manamana,” katanya.

Jika memang sebuah hotel berkomitme­n memakai konsep halal, lanjut Arif, penginapan tersebut harus memiliki tujuan yang jelas kenapa memakai konsep tersebut. Sebab, jika banyak larangan yang mengatur, hal itu tentu akan menyulitka­n tamu yang bakal menginap.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia