Jawa Pos

Masih Suka Makan Ini dan Itu serta Gowes ke Sana-Kemari

Tarwi adalah legenda atlet balap sepeda Surabaya. Segudang prestasi sudah dia raih. Mulai kelas nasional hingga event internasio­nal. Di usia senja, fisiknya juga prima. Dia masih kuat bersepeda dengan rute panjang. Bulan lalu dia baru saja mancal Surabaya

-

PULUHAN piala terpajang rapi di ruang tamu rumah itu. Di dalam kamar di samping ruang tamu, tumpukan piagam serta medali yang diraih sejak puluhan tahun lalu juga terkumpul dengan baik. Kepingan-kepingan memori dari berbagai kompetisi tersebut seolah membuktika­n bahwa si empunya prestasi kini sudah menjadi seorang legenda.

Tarwi, nama pemilik ratusan prestasi itu. Mantan pebalap sepeda tersebut sudah 69 tahun mencium jalanan dengan putaran ban sepedanya. Kompetisi balap dan aktivitas touring dilakoniny­a hingga ke berbagai negara.

Kini Tarwi sudah tua, namun tak renta. Pria 79 tahun itu sekarang lebih banyak menikmati aktivitas di rumah dengan ditemani kenangan akan banyaknya prestasi yang telah diraih ketika muda dulu.

Namun, hati Tarwi gundah. Di masa tuanya, dia belum memiliki rumah. Rumah yang ditempatin­ya di Jalan Ngagel Kebonsari II Nomor 22, Surabaya, itu masih berstatus rumah dinas

Per bulan, dia harus membayar uang sewa Rp 300 ribu. ’’Saya keberatan bayar segitu,” ujarnya lirih ketika ditemui Jawa Pos, Rabu (14/10).

Dengan didampingi sang istri, Asmani, Tarwi menceritak­an kisah-kisah masa lalunya tentang balap sepeda dan rumah yang ditempatin­ya. Rumah bercat putih itu adalah rumah yang dihadiahka­n oleh mantan Wali Kota Surabaya almarhum Soekotjo.

Rumah itu diberikan Soekotjo kepada Tarwi pada 1968. Dia diberi hadiah atas prestasiny­a memenangka­n berbagai lomba balap sepeda ketika itu. ”Saya dinilai mengharumk­an nama Surabaya dan Indonesia. Makanya, saya dikasih rumah ini,” jelasnya.

Pada saat itu, Tarwi menerima nota yang menyatakan bahwa dirinya menempati rumah di Jalan Ngagelrejo Kidul Blok B Nomor 6, Surabaya (alamat lama). Tarwi kemudian tinggal di rumah itu, tetapi harus membayar uang sewa Rp 5 ribu per bulan. Uang sewa tersebut terus dia bayarkan hingga kini mengalami kenaikan tarif menjadi Rp 300 ribu.

Pada 2016, dia mengirimka­n surat ke Pemkot Surabaya yang ditujukan kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharin­i. Isinya permohonan untuk membebaska­n pembayaran uang sewa kepada Tarwi. Sebab, Tarwi merasa rumah itu adalah hadiah atas prestasi yang telah diraihnya. Memang, di sekitar tempat tinggal Tarwi, ada 28 rumah dinas lain yang juga berlaku uang sewa bulanan. Namun, Tarwi merasa seharusnya mendapat perlakuan berbeda.

”Saya kan sudah diberi hadiah karena saya berprestas­i. Semestinya, negara memberikan apresiasi kepada atlet yang telah mengharumk­an nama bangsa,” tuturnya sembari memamerkan buku saku yang merangkum prestasi-prestasiny­a kepada Jawa Pos. Dia juga menyodorka­n hasil kliping tulisan tentang profilnya dari berbagai koran sejak lima dekade lalu.

Rekam jejak Tarwi memang tak main-main. Pria yang kini memiliki 5 anak, 12 cucu, plus 1 cicit itu pernah meraih peringkat IX Kejuaraan Asia VI tahun 1975 di Malaysia Open Road Race 200 Km. Dia juga pernah berada di posisi ke-4 beregu dan juara ke9 perorangan pada Asian Games VI di Thailand. Pada 1966, Tarwi meraih medali emas beregu pada ajang Games of New Emerging Forces (Ganefo) di Vietnam.

Di luar itu, banyak sekali prestasi lain Tarwi pada kompetisi balap sepeda tingkat nasional. Keaktifann­ya melatih calon-calon atlet balap sepeda juga berderet. ”Saya berharap Bu Risma mau membalas surat yang saya sampaikan empat tahun lalu dan menerima permintaan saya,” harapnya.

Meski usianya sudah lanjut, semangat Tarwi masih seperti anak muda. Di tengah kesulitann­ya memiliki rumah, dia tetap semangat bersepeda keliling kota. Terakhir, pada 17−26 September lalu, dia berhasil melakukan touring bersepeda dari Surabaya menuju Jakarta.

Jarak 1.100 km bukan masalah buat fisiknya. Dia memang ingin sekali ke Jakarta kala itu demi menemui anaknya, Anik Ufayah, yang tinggal di Cibitung, Bekasi. ’’Saya memang ngotot mau naik sepeda. Anak saya mau belikan tiket pesawat, saya enggak mau,” ucapnya. ’’Bapak itu kalau sudah maunya begitu, ya begitu. Ya sudah, kita kasih saja,” timpal Asmani yang tiba-tiba nyeletuk, lantas disambut tawa oleh suaminya.

Sebagai seorang istri, Asmani memang sangat memahami suaminya. Biarpun sudah tua, Tarwi masih rutin bersepeda ke Malang, setidaknya sepekan dua kali. Aktivitas itu juga dilakoni Tarwi demi menengok putrinya yang tinggal di Malang, Oni Kristiana Dewi. ’’Saya enggak bisa melarang. Yang penting, bapak senang dan sehat. Coba lihat, masih kuat begini,” kata Asmani tersenyum sambil melirik manja kepada sang suami.

Perempuan yang menikah dengan Tarwi sejak usia 16 tahun itu mengatakan, hanya sambal satu-satunya musuh bagi perut suaminya. Sambal membuat lambung Tarwi tak nyaman. Di luar itu, Tarwi masih bisa makan apa saja. Daging dan gula pun tak perlu dibatasi. Tarwi bahkan masih sering minum teh dengan enam sendok makan gula pasir. Kadang-kadang, gulai sapi di acara resepsi dan reuni teman pun habis dilahapnya. ’’Saya bersyukur bapak masih bisa makan ini-itu, masih bisa gowes ke sana-kemari. Alhamdulil­lah,” imbuh Asmani.

Tarwi yang mendengar ucapan istrinya lantas berpesan. Orangorang lanjut usia zaman sekarang harus tetap menjalani hobinya. Kalau hobi gowes, usahakan tetap gowes. Kalau hobi menyanyi, tetaplah menyanyi. Ditambah, olahraga teratur dan minum vitamin supaya tetap sehat.

Dia juga berpesan kepada generasi muda agar selalu semangat berolahrag­a dan tak ragu menjalani karir sebagai atlet. Tarwi yakin penghargaa­n atlet berprestas­i saat ini lebih baik ketimbang zamannya dulu. ’’Sekarang kalau menang Asian Games, misalnya, dapat hadiah uang atau rumah dari pemerintah. Dulu saya menang lomba itu ya dapat piala, piagam, sama medali saja. Rumah saja saya sewa sampai sekarang,” ujar Tarwi yang juga pernah bekerja sebagai abdi negara.

 ?? SHABRINA PARAMACITR­A/JAWA POS ?? SEMANGAT OLAHRAGA: Tarwi bersama sepeda balapnya. Meski berusia lanjut, Tarwi masih sering melahap rute-rute panjang.
SHABRINA PARAMACITR­A/JAWA POS SEMANGAT OLAHRAGA: Tarwi bersama sepeda balapnya. Meski berusia lanjut, Tarwi masih sering melahap rute-rute panjang.
 ?? SHABRINA PARAMACITR­A/JAWA POS ?? PERLU PERHATIAN: Rumah yang ditempati Tarwi. Rumah ini disebut hadiah dari Wali Kota Soekotjo. Namun, Tarwi masih membayar sewa atas rumah itu.
SHABRINA PARAMACITR­A/JAWA POS PERLU PERHATIAN: Rumah yang ditempati Tarwi. Rumah ini disebut hadiah dari Wali Kota Soekotjo. Namun, Tarwi masih membayar sewa atas rumah itu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia